Postingan

CURANG ATAU MATI?

Selalu ada cerita berbeda dari sebuah lomba. Pun demikian dengan perhelatan Bank Jateng Borobudur Marathon (BJBM) 2018 yang baru berakhir hari minggu 18-11-2018 kemarin. Cerita-cerita yang selalu menarik untuk dicerna, ada drama, banyak tawa, suka ria, namun selalu ada duka.  Cerita-cerita para pelari yang seru, dari mulai persiapan sampai dengan hari H. Ibarat orang pacaran bertahun-tahun yang akhirnya menjadi sah dengan ijab kabul yang hanya 10-15 menit. Demikian pula lomba, persiapan berbulan-bulan akan dituntaskan dalam kisaran 1 sampai 7 jam saja. Pengalaman batin orang per orang boleh berbeda, tapi kelegaan ketika menyentuh garis finish tentunya sama, euforia pun bertebaran di udara. Saya pribadi tidak ikut gelaran BJBM 2018, tapi adrenalin yang sama juga saya rasakan ketika melihat unggahan-unggahan teman-teman pelari di media sosial. Ikut merasakan kesakitan ataupun kebahagiaan yang mereka rasakan. Ketika viral kabar ada seorang peserta BJBM 2018 yang...

Herang Caina Beunang Laukna

Pepatah Sunda mengatakan Herang caina beunang laukna (Bening airnya, dapat ikannya) Tujuan tercapai, tanpa mengeruhkan suasana Kritik disampaikan dengan cara santun Tujuan yang tulus untuk membangun Bukan untuk mematahkan semangat Apalagi menghina upaya dan tekad Kritik disampaikan melalui seni Pesan tersampaikan, hati tak tersakiti Bila tak digubris, tak perlu resah Tugas kita hanyalah menyampaikan Teladan kita adalah Rasulullah Tugas Rasul pun hanyalah menyampaikan kebenaran Bukan untuk memaksakan kehendak Maka orang pun sukarela mengikuti nasihatnya Jakarta, 13 November 2018 Tantangan puisi bertema “Kritik” dari Komunitas Sastra Kemenkeu

Rasa Sakit Yang Indah

Membaca karya sastra dari berbagai sumber, baik dalam bentuk puisi, pantun, pupuh, gurindam, prosa maupun dalam bentuk lainnya membuat saya merenung, mencoba memahami apa yang hendak disampaikan oleh para penulis. Mencoba mencari pesan Tuhan yang ingin disampaikan lewat berbagai tulisan tersebut. Ketika metafora disampaikan dari bentang bumi makro, maka saya pun mencoba merenunginya dalam bentang bumi mikro saya. Matahari, Bulan, Bintang, dapatkah saya melihat semua itu dalam bumi mikro saya? Ataukah masih tertutup awan yang kelabu sehingga saya belum mampu menyaksikannya? Apakah semua itu karena uap-uap yang menggulung membumbung tinggi menyesakkan dada karena ukurannya telah melebihi dari yang sudah ditetapkan Tuhan? Untuk hal-hal tertentu, penyampaian secara mutasyabihat memang lebih pas dibandingkan bila kita sampaikan secara muhkamat. Berbagai pesan dapat kita sampaikan tanpa menyakiti seseorang. Teguran yang disampaikan dalam balutan kata indah, kadang mampu membuat sese...

Berproseslah

Bila benturan dalam diri masih sering terjadi Dampaknya mengemuka ke luar diri Sulit untuk bisa menyumbang solusi Yang ada hanyalah menjadi  pencetus kelahi Mari sudahi dengan mengenal diri Mengenal jati diri dan mengenal Illahi Robbi Mana mungkin bisa menyelesaikan tugas Bila tak kenal Sang Pemberi Tugas Bila tak segera berproses, kapan kita akan mulai Waktu berjalan terus berlari Bak anak panah terlepas dari busurnya, tak dapat ditarik kembali Bila tak dipeduli, sesal kemudian tak berarti Bila tak mampu berproses sendiri Mintalah bantuan dari sang ahli Bukan berarti berdiam diri Seolah semua bisa dikerjakan sendiri Bila mahar dan amal sudah mencukupi Tentu ada masanya dipertemukan dengan sang ahli Mendapat petunjuk illahi Rabbi Agar berjalan lalu mendaki Siapa mencari akan mendapati Siapa berupaya hasil diberi Siapa tak peduli kerugian menanti Siapa hidup sesuka hati kegamangan menyelimuti Jakarta, 7 November 2018

Ilmu Laduni

Ilmu laduni ilmu yang tinggi Diberikan Allah kepada hamba yang disukai Bukan hanya mengajarkan teori Pengamalannya harus dipenuhi Yang dituntut adalah diri sendiri Bukan menuntut ke luar diri Terus mengupayakan perbaikan di dalam diri Suatu saat bangkit dan menerangi Penjajah takut pemegang ilmu ini Perkembangannya dihabisi Devide et impera digencarkan Agar terpecah persatuan Kelipatan 7 abad adalah tonggak Awal dari suatu kebangkitan Satu hati penerang 1000 manusia Bagi yang sudah bangkit dan tercerahkan 265 juta penduduk Indonesia Memerlukan 265 ribu orang penerang Agar Indonesia bangkit dari keterpurukan Yang sudah berkelindan, perlu diterjang Jakarta, 7 November 2018

Under The Same Sky

Gambar
One afternoon,  a silver haired man wearing a black suit  walking alone in the city center  around Central Station.  I was invisible to him,  while he was right in front of me. The sky had different shades.  On the right it was dark and gloomy, on the left it was bright and blue So my dear, it is the same with you and me. We all live in the same world,  but our lives have different colors. 🌷

Radiokopi

Ini bukan sejenis istilah kedokteran, hanya gabungan kata radio dan kopi. Teman menikmati hari di Sabtu pagi ini. Betapa ternyata, hanya dengan melalui dua indra, lidah dan telinga, sudah bisa membawa suasana yg berbeda. Pagi 2018 hari ini serasa menjadi pagi pertengahan 1990-an. Hanya secangkir kopi, radio dan aku yang menatap lepas ke jendela. 1990-an, era dimana TV belum menjadi kotak yg begitu menarik dan provokatif menyita waktu kita. Sementara gadget yg kini nyaris merampas kuasa TV bahkan mungkin baru hanya berupa purwarupa. Sebuah era yg jauh lebih tenang dibanding sekarang. Itulah yg aku rasakan pagi ini. Menyeruput kopi seraya membiarkan radio memutarkan lagu apa saja yg mereka mau. Mataku bebas dari belenggu apa yg harus kulihat atau kubaca. Sesuatu yg tak bisa dilakukan jika kita berteman TV atau gadget. Radio memberi kita kebebasan melakukan hal yg ingin kita lakukan tanpa saling mengganggu sedangkan TV dan gadget begitu menuntut banyak perhatian. Sebuah ketenanga...