Postingan

Arung Jeram (Mileak 2)

Pada kelok, arus deras dan bebatuan-mu Perahuku menyisir Pada hempas, hanyut, tenggelam olehmu dadaku berdesir selama kau biarkan, rasanya aku akan kembali, mengulang-ulang, hingga kadang tak peduli, Seperti apakah akhir menemu datang (Pangalengan, April 2019)

"Touch Disease"

Gambar
So my cellphone is "sick".  Google calls it "touch disease". The risk factor is a thin and wide metal casing. The screen wont respond due to loosened grip on the casing; possibly because of falling on hard surfaces, physical stress on the body, being bent inside tight pockets, or expanded by heat and humidity. There are a number of cures available. The first and the simplest form is "physiotherapy": straighten the bent edges with hand palms.  The second method is by opening the case, tightening loose ends using power glue, and firmly put the casing on again. The third way is tightening the screws on the edges, using pentalobe screwdriver 0.8 millimeter in diamater. The screws are located near the bottom, beside the lightning power cable jack. I have a pack of 31 small screwdrivers often used by my family to fix eye glasses, but none of them happens to be 0.8 pentalobe. I think I need to find one at ACE Hardware. However, the safest way is t...

Lauik Sati (Potongan Ke-2)

Astaghfirullah! Izzam! Aaah! Sial! Tunggang langgang Izzam turun dari kasurnya. Mentari sudah sedari tadi meninggi. Memaksa masuk cahaya di celah-celah ventilasi. Digapainya handuk yang tergantung di jeruji. Terpeleset, untung tak jatuh. Lemari plastik yang bersebelahan dengan kamar mandi pasai diacaknya. Mencari sesuatu, dapat! Pukul8.50 pagi. Buru-buru sekali Ia mandi. Mandi kerbau, begitu sebutan di Minangkabau untuk orang yang mandi asal-asalan. Pemuda 22 tahun itu keluar dari kamar mandi dengan nafas menderu. Digapainya telepon pintar di atas lemari. Mati. Sial! Ia lupa men-cas semalam. Cepat-cepat Ia beralih pada jam yang tadi sempat dikeluarkan. Pukul 8.55. Aaaah! Handuk biru yang biasa Ia pakai mandi dilemparkan begitu saja di atas galon. Dompet, name tag , kunci motor, dan kacamata sudah dalam genggamannya. Disambarnya helm KYT merah yang Ia beli sewaktu meninggalkan Jogja. Tas hitam lusuh yang menemani perjalanan kuliahnya 4 tahun lalu sudah di punggung. Sempat Ia b...

Dukun Paling Sakti

“Muka lu kenapa ditekuk gitu?” tanya Baron kepada Acep ketika mereka makan berdua di kantin. “Gue malu mau cerita,” walau Acep berbisik, Baron bisa mendengarnya karena suasana kantin saat itu sedang sepi. “Ya udah, nggak usah cerita,” Baron melanjutkan makannya. Sejenak hening. Tak ada percakapan antara keduanya. Baron dan Acep sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Baron makan dengan lahap sedangkan Acep asyik menyeruput kopi hitamnya. Setelah menghabiskan makanannya Baron bangkit dari duduknya. Acep menuangkan kopi dari gelas belimbing ke piring kecil yang jadi alas gelasnya. “Gue duluan ya, ada kerjaan yang harus selesai siang ini,” Baron pamit. “Sebentar lah. Duduk dulu, ngapain juga buru-buru. Di ruangan juga masih sepi kok,” Acep menahan Baron. “Ngapain juga gue lama-lama di kantin, kasian yang mau makan nggak kebagian kursi nanti.” “Gue butuh temen buat cerita nih,” ujar Acep memaksa. Terpaksa Baron duduk kembali di kursinya. Ia menunggu apa yang akan diceri...

Lauik Sati (Potongan ke-1)

Berkali-kali Izzam terbangun dan melirik Jam di telepon pintarnya. Setengah tiga dini hari. Tampaknya Ia tak sabar menunggu pagi. Ditegakkan punggungnya, kretak, kretak! Dilemparkan pandangan ke sisi ruangan, sendiri, gelap, dan sunyi. “Tentu saja, siapa pula yang masih terjaga di pagi buta ini”, gumamnya. Izzam turun dari kasurnya, menaikan tirai kelambu yang melindungi malam-malamnya dari nyamuk. Dua kali berselang infus karena demam berdarah membuatnya trauma dengan spesies kecil yang mematikan itu. Ia beranjak, menjauhkan lambungnya dari peraduan malam. Diraihnya kunci yang menggantung, memutar gagang pintu, sembari menggaruk-garuk leher, sekonyong-konyong menghirup rakus udara sepertiga malam. “Udara pagi buta di Ibu kota ternyata tak buruk juga”, lirihnya. Pemuda tanggung itu tersenyum, dari senyum menjadi sunggingan tawa, tanpa suara. Matanya tak lagi tertarik untuk terpejam, hatinya tidak karuan, tak sabaran menunggu pagi, membayangkan seperti apa hari pertamanya menja...

Rejeki Takkan Tertukar

Pagi hari itu Pasar Kecombrang Jaya terlihat sangat sibuk. Pengunjung pasar yang kebanyakan ibu-ibu hilir mudik dari satu kios ke kios lainnya. Sedikitpun tak terganggu walaupun saat itu hujan mengguyur bumi. Suara   pedagang yang menjajakan jualannya bersahutan dengan suara kereta yang datang dan pergi dari stasiun Depok. Letak pasar memang bersebelahan dengan stasiun. Jadi suasana ramai sudah terasa sejak bumi masih diselimuti gelap. Suara-suara itu ditimpali dengan teriakan sese orang yang memegang segepok uang di tangannya. Tangannya sigap mengatur lalu lintas motor yang lalu lalang melewati jalan setapak yang dijaganya. Antrian semakin semakin memanjang ketika matahari sedikit demi sedikit mulai muncul dari balik peraduannya. Rintik hujan mulai mengecil seiring terbitnya mentari pagi. “Siapkan uangnya!” begitu Opang, nama sang penjaga jalan berteriak. Ia mengingatkan setiap pengemudi motor yang lewat di jalan itu untuk menyiapkan uang. “Nggak bisa lewat tanpa uan...