Postingan

Badarawuhi (2)

Di ujung lelah, Di antara rebah Penari itu, Datang padaku Dengan Pesona yang menjerat, Bagai  kanak kanak,  aku  menemu  riang Dari bermain bayang bayang, hadirnya yang ada dan tiada Sesekali pernah ingin ujung jarinya ku sentuh , gemetarkan tubuhku seluruh, tapi pelahan bayangnya luruh, Hilang, kian menjauh Aku pun diam, bersimpuh antara rela dan luka Mengharap dia benar adanya Menyadari dia benar tiadanya ---------Catatan KKN Bima------ Sutikno Slamet, jelang pulang 19 Sept 2019 Catatan Lanjutan  setelah baca cerita H orror umor KKN di Desa Penari

Demi Masa

Pukul 7.30 Adnan duduk menghadapi layar monitor di ruangan kerjanya. Pada waktu ini  seharusnya para stafnya yang berjumlah dua orang sudah duduk di kursinya masing-masing. “Assalamualaikum.” “Waalaikum salam,” Adnan menjawab sapaan Tina, salah satu stafnya yang baru saja muncul di ruangan. Tinggal Ponco yang belum datang. Adnan sangat mengharapkan kehadiran Ponco karena ada satu pekerjaan yang harus diselesaikan Ponco dan harus selesai besok. “Kamu nggak bareng Ponco, Tin?” “Nggak, pak. Paling dia lagi nongkrong di kantin. Ngopi,” jawab Tina. Satu jam berlalu, Ponco belum juga menampakkan diri di hadapan Adnan. Adnan mulai was-was. Ia mengirimkan pesan kepada Ponco agar segera masuk ke ruangan. Sampai setengah jam berlalu tak ada jawaban dari Ponco. Sebenarnya ini bukan kali pertama Adnan dibuat khawatir oleh Ponco. Banyak sekali pekerjaan yang akhirnya harus diselesaikan oleh Adnan sendiri karena Ponco tak sanggup menyelesaikannya. Pukul 9.30 Ponco muncul di ruangan...

Tuan-tuan Yang Lupa,

Tuan, kalau kau lupa Biar ku ingatkan lagi, Kau duduk di sana Sebagai wakil kami Pembawa mandat yang kami titipkan Melalu pemilu penuh legitimasi Melaluimu, Telah kami titipkan aspirasi dan mimpi, Sebuah negeri bebas dari korupsi, kejahatan serius  Yang tak cukup ditangani Oleh jaksa dan polisi Bertahun  lalu atas nama konstitusi, Pendahulumu dan  pemimpin negeri berkongsi Lembaga superbody dibidani Diberikannya fasilitasnya  mumpuni, sumberdaya yang mencukupi, cegah, tangkal dan tindak prilaku korupsi Aku  dan engkau sama sama menjadi saksi, betapa kiprah lembaga itu   telah teruji, dari ujung barat sampai timur negeri, Ketua mahkamah konstitusi, anggota legislatif, aparat pajak,  bupati, menteri dan polisi , Pelaku pelaku korupsi dilibas tanpa kenal jeri, Lalu kemana akal sehatmu pergi? Mengatas  namakan konstitusi, Tetiba rancangan undang undang kau inisasi, rumusan omong kosong, tentang urgensi pengaturan ...

Benih Kesombongan

Merasa lebih teliti Dari orang di sekitarku Benih kesombongan di dalam diri Perlahan menyeruak dalam kalbu Merasa di atas angin Saat menemukan kesalahan orang lain Rasa puas menyelinap perlahan Aku lebih teliti darimu, bersahutan Rasa sesal memenuhi relung kalbu Masih banyak kotoran melekat di hatiku Aku mohon cabutlah sifat burukku Tuhan Agar kefitrahan kembali aku dapatkan Benih kesombongan mencari celah untuk tumbuh kembang Bentuknya bisa bermacam-macam Tumpaslah sampai ke akarnya Gantilah dengan benih ketawadhuan Tawadhu mudah diucapkan, Namun sulit dilakukan Seratnya halus berlapis-lapis Prosesnya terus hingga akhir nanti Yogyakarta, 13 September 2019

Kebenaran Terungkap

Entah berapa lama tersimpan cerita kelamnya Satu kisah dalam balut dua versi berbeda Akhirnya dipilihnya jalan itu Entah apa yang ada di benaknya saat itu 30 tahun berlalu tak terasa Kebenaran terungkap tanpa rencana Menjadi saksi dari kisah anak manusia Semakin yakin suatu saat kebenaran mengemuka Entah bagaimana kelanjutan ceritanya Aku dihadirkan Tuhan untuk menjadi saksi Atas peristiwa yang terjadi Untuk kuambil hikmah dan pembelajarannya Manusia, kadangkala lalai dan lupa Disaat masalah mendera Ada dua jalan tersedia Kebenaran atau kesalahan, semua ada konsekwensinya Semoga Tuhan memberi hidayah Bertaubat di sisa umurnya Menghapus kelam menjadi putih Agar hati tak terasa perih Apakah aku berkesempatan? Mengingatkannya sebagai teman Biarkan Tuhan persiapkan jalan Biarkan Tuhan persiapkan bimbingan Yogyakarta, 13 September 2019

I love You, Emak!

Pemandangan apa yang membuatku terpana selain indahnya senja sore ini? Adalah buaian seorang bunda kepada putera tercinta yang dipangkunya sambil mengerjap-ngerjap mata disalah satu sudut kereta Pikiranku melompat sempurna ke sekian tahun sebelumnya Menaiki kereta penuh sesak manusia yang beraneka aroma Masih tercium olehku bau keringat bercampur dengan asap hasil gesekan roda kereta dengan rel baja tua Belum lagi aroma tak sedap dari toilet usang yang ditinggalkan penumpang selepas membuang kotorannya. Pagi itu, dari stasiun kebayoran, kereta yang kami tumpangi melesat menuju stasiun merak, berhenti dekat dengan pelabuhan Pelabuhan Merak, namanya Sepanjang perjalanan, tak jarang aku merengek  sekedar untuk mendapat buaian Atau sekedar meminta jajanan dari para pedagang asongan yang lalulalang Aku tahu emak tidak keberatan Mendudukanku dalam pangkuan, meski ia sendiri harus menahan beban Berat badanku yang saat itu menginjak usia delapan atau sembilan Ah...

KRI Bima Suci dan Prajurit Sejati

Gambar
KRI Bima Suci & Prajurit Sejati KRI Bima Suci Membawa para prajurit sejati Mengarungi lautan menuju sembilan negeri Menerjang ombak menciptakan buih yang terangkai Rupamu sungguh rupawan Kapal layar menjadi kebanggaan Hembusan angin menjadi kekuatan Kegagahanmu meninggalkan kesan Selamat berlayar prajurit sejati Dipundakmu tersemat nama harum negeri Berlayarlah ke segala penjuru Bumi Kembalimu kan selalu dinanti GNWN / 06082019