Postingan

Perjalanan adalah Tujuan

Gambar
Catatan Perjalanan Menuju Jamselinas Palembang Bulan September adalah bulannya Jambore Sepeda Lipat Nasional atau dikenal sebagai Jamselinas. Tahun 2019 adalah Jamselinas ke-9. Ide gowes menuju Jamselinas 9 awalnya dimulai oleh Om Diki Rahman sang kompor api biru dari Cilegon. "Ayolah Om In, sekalian pulang kampung," ajaknya saat itu. Saya sih iya-iyain aja, secara sudah terbayang betapa jauhnya jarak Lampung ke Palembang. Makin mendekati hari H, om Di ki pun mulai aktif japri-japri rute dan ‘teaser’ penggoda 😃 . Iman saya pun mulai goyah, apalagi ada pilihan start dari Tanjung Karang. Istri mulai dilobi agar visa gowes keluar. "Malu lah Mi, masak wong Palembang gak hadir acara di Palembang," begitu alasan saya waktu mohon ijin gowes Jamselinas 9 ini. Singkat cerita, ijin pun diberikan. Peserta yang awalnya saya sendiri yang berencana ‘nebeng’ rombongan SCAM om Diki akhirnya bertambah. Para senior turing ID Dahon yaitu Mang Dewa , Koh Handoko Candra , dan ...

Monyet penari, ular penjaga dan tuannya

Ada hikayat, Tentang monyet penari dan ular penjaga, Oleh tuannya mereka dibawa berkeliling kota,dari pasar ke pasar, dari kerumunan ke kerumunan, sang monyet terus menari dan sang ular mengawasi, Begitu seterusnya hampir tanpa henti Senja hari, Saatnya tuan berbagi rejeki, Di hitung tuang isi pundi pundi, Sejumput buat penari, bagi penjaga  saku bernas terisi Wahai tuan, Tak salahkah kau buat kini Aku lah yang lelah menari Kenapa pada ular , Hadiah pundi penuh isi Wahai monyet penari, Tak menari tak berarti berdiam diri, Pada kata kata dan bisa sang penjaga Ku pastikan langkah gemulaimu tanpa terhenti, maka wajar saja, jika padanya jatah lebih harus ku bagi Wahai tuan, Tidakkah dia tak bisa menari, Tak kan mungkin dia mengerti Kapan langkah gemulai meniti, Kapan langkah harus berhenti Wahai penari, Tak perlu menari untuk menjadi ular, Dia telah dilahirkan dengan bisa dan kata, kalau sesekali dia juga bisa menari, mungkin hanya kebetulan, Tuhan ta...

Aku Menyukai Senyummu di Hari Senin

Aku menyukai senyummu di hari senin; Magis-menghipnotis tenang-menhanyutkan, sekalipun mungkin saja senyum itu bukan untukku Aku menyukai senyummu di hari senin; Juga tentang betapa deras cerita-cerita mengalir dari bibirmu, meliuk-liuk seperti pemotor di negeri +62, bahkan di celah terkecil sekalipun Aku menyukai senyummu di hari senin; Atau hari-hari dimana kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Ketenanganmu, kekuatanmu, keteguhanmu adalah akumulasi kecerdasan buah karya Beliau yang mengagumkan Aku menyukai senyummu di hari senin; Bahkan lebih lama kunanti daripada hujan yang tak kunjung hadir di Ibukota Aku menyukai senyummu di hari senin; Apapun alasannya -udah lama, 2019-

Ruhiyah Gersang

Aku terdiam Mematung di bahu jalan Ditemani angin Dalam sunyinya malam Tak ku hiraukan Bajaj yang berlalu-lalang Pun lolongan anjing Sayup-sayup di kejauhan Aku mematung Menatap kosong lampu jalanan Jiwa ku? Melesat jauh menyusuri bukit barisan Membelah belantara hutan Berhenti Di halaman rumah warisan Dulu Rumah Gadang bagai oase pertama Yang ku temukan Di tengah gersangnya Gurun pasir kehidupan Kemana langkah Selalu saja kutemukan Di setiap pemberhentian Padang Panjang, Hingga Tanah Sultan Mata air itu selalu ada Seberapapun besar futur menggoda Menjadi pengingat dikala lupa Penegur disaat terlena Namun Mata air itu Kini perlahan surut Boleh jadi kering Seringkali hatiku meronta Mencari "ada" yang kini tiada Malam ku nelangsa Dihantui pagi penuh nestapa Tuan, tolong Ada yang hilang Pada diriku.. Jakarta-Kosan 3x5

Badarawuhi (2)

Di ujung lelah, Di antara rebah Penari itu, Datang padaku Dengan Pesona yang menjerat, Bagai  kanak kanak,  aku  menemu  riang Dari bermain bayang bayang, hadirnya yang ada dan tiada Sesekali pernah ingin ujung jarinya ku sentuh , gemetarkan tubuhku seluruh, tapi pelahan bayangnya luruh, Hilang, kian menjauh Aku pun diam, bersimpuh antara rela dan luka Mengharap dia benar adanya Menyadari dia benar tiadanya ---------Catatan KKN Bima------ Sutikno Slamet, jelang pulang 19 Sept 2019 Catatan Lanjutan  setelah baca cerita H orror umor KKN di Desa Penari

Demi Masa

Pukul 7.30 Adnan duduk menghadapi layar monitor di ruangan kerjanya. Pada waktu ini  seharusnya para stafnya yang berjumlah dua orang sudah duduk di kursinya masing-masing. “Assalamualaikum.” “Waalaikum salam,” Adnan menjawab sapaan Tina, salah satu stafnya yang baru saja muncul di ruangan. Tinggal Ponco yang belum datang. Adnan sangat mengharapkan kehadiran Ponco karena ada satu pekerjaan yang harus diselesaikan Ponco dan harus selesai besok. “Kamu nggak bareng Ponco, Tin?” “Nggak, pak. Paling dia lagi nongkrong di kantin. Ngopi,” jawab Tina. Satu jam berlalu, Ponco belum juga menampakkan diri di hadapan Adnan. Adnan mulai was-was. Ia mengirimkan pesan kepada Ponco agar segera masuk ke ruangan. Sampai setengah jam berlalu tak ada jawaban dari Ponco. Sebenarnya ini bukan kali pertama Adnan dibuat khawatir oleh Ponco. Banyak sekali pekerjaan yang akhirnya harus diselesaikan oleh Adnan sendiri karena Ponco tak sanggup menyelesaikannya. Pukul 9.30 Ponco muncul di ruangan...

Tuan-tuan Yang Lupa,

Tuan, kalau kau lupa Biar ku ingatkan lagi, Kau duduk di sana Sebagai wakil kami Pembawa mandat yang kami titipkan Melalu pemilu penuh legitimasi Melaluimu, Telah kami titipkan aspirasi dan mimpi, Sebuah negeri bebas dari korupsi, kejahatan serius  Yang tak cukup ditangani Oleh jaksa dan polisi Bertahun  lalu atas nama konstitusi, Pendahulumu dan  pemimpin negeri berkongsi Lembaga superbody dibidani Diberikannya fasilitasnya  mumpuni, sumberdaya yang mencukupi, cegah, tangkal dan tindak prilaku korupsi Aku  dan engkau sama sama menjadi saksi, betapa kiprah lembaga itu   telah teruji, dari ujung barat sampai timur negeri, Ketua mahkamah konstitusi, anggota legislatif, aparat pajak,  bupati, menteri dan polisi , Pelaku pelaku korupsi dilibas tanpa kenal jeri, Lalu kemana akal sehatmu pergi? Mengatas  namakan konstitusi, Tetiba rancangan undang undang kau inisasi, rumusan omong kosong, tentang urgensi pengaturan ...