Postingan

Demi Masa (3), Pegawai Baru

Pukul 22.00 Tina membaca ulang pekerjaannya. Matanya terasa berat karena dari sore ia fokus mengerjakan tugas yang dititipkan oleh Ponco kepadanya. Dibawanya kertas kerja yang telah diselesaikannya ke cubicle  Adnan. Setelah dipersilakan, Tina duduk menghadapi Adnan. Kertas yang dipegangnya beralih ke tangan Adnan. “Pak, boleh saya bicara dulu?” tanya Tina. “Boleh-boleh aja sih, cuma kan ini udah larut, kamu nggak pengen pulang?” “Ah, Bapak. Biasanya juga nggak peduli kok saya pulang malam  atau bahkan pagi,” sindir Tina “Hehehe, ya nggak gitu juga kali,” Adnan tertawa kecil. “Oke…oke, apa yang mau dibicarakan?” sambung Adnan. “Masalah sensitif sih pak. Bapak jangan marah ya…..,” Tina agak ragu melanjutkan bicara. “Kamu hamil?” mata Adnan melotot ke arah Tina. “Makanya jangan bergaul bebas gitu, Tin. Nanti jadi aib semuanya. Kan saya juga…..,” belum sempat Adnan melanjutkan omongannya Tina memotong perkataan Adnan. “Ya Allah, Pak. Tega ya Bapak nuduh sembarangan. ...

Tiba Tiba Saja Rabu Pagi Tiba

Tiba tiba saja rabu pagi tiba, Baru sejenak rasanya selasa, Siang nanti pun bisa jadi tak lama Tiba tiba saja senja Tiba tiba saja malam Tiba tiba saja  hari, minggu, tahun terlewat tanpa tanda, tanpa baca Tiba tiba saja, Kita berduka, Tentang bermusim waktu tersia Sutikno Slamet, 14 Agustus 2019

Demi Masa (2)

Pukul 17.00 “Tin, gue tunggu di kafe  Mawar ya.” “Iya Mas, segera meluncur,” Tina mengambil  tasnya. Ia bercermin ke ponselnya sambil menambahkan gincu di bibirnya. “Yup, aku udah cantik.   Wait for me , Mas Agung  sayang…..,” Tina beranjak dari tempat duduknya. “Tina…..,” “Ya, Pak?” Tina berbalik mendengar Adnan memanggil namanya. “Kamu jangan pulang dulu ya. Bantu saya selesaikan laporan penjualan. Walau ini sudah agak terlambat, nggak apa-apa yang penting laporan selesai. Bahannya sudah saya email ya. Pak Charles udah marah-marah. Please.” Kedua tangan Adnan dikatupkan di dada pertanda ia sangat membutuhkan bantuan. Tina merasa serba salah. Sudah sering ia membatalkan janji dengan Agung, kekasihnya karena banyaknya tugas yang diberikan Adnan kepadanya. Sebagian besarnya adalah menyelesaikan pekerjaan yang ditinggalkan Ponco, teman kerjanya. “Memangnya Ponco ke mana, Pak?” antara kesal dan bingung Tina bertanya kepada Adnan. “Dia nggak masuk hari ini k...

Membaca lagi Rendra

Ketika terjadi ketidakadilan, orang-orang akan bertanya. Saat ketidakadilan justru dipertontonkan tanpa sedikit pun kepedulian, orang-orang tidak hanya bertanya tapi akan menunjukkan ketidaksukaan dalam berbagai bentuknya. Saat pertanyaan-pertanyaan yg ada tidak menemukan jawabnya, ketika tekanan justru yg menjadi jawaban, ruang baru akan tercipta. Pertanyaan yg diajukan boleh saja membentur keadaan namun ia tidaklah mereda. Ia akan tumbuh di kebon belakang lalu pada saatnya menjelma hutan. Ia terus hidup di alam bawah sadar, tercebur ke kali mengalir lalu menjadi ombak di samudra. Suara-suara yg diteriakkan memang memekakkan telinga namun ia jelas bentuknya. Jawablah, jangan melengos darinya. Dan lebih berhati-hatilah dengan suara-suara yg dikumpulkan dalam hati karena ia akan menjadi energi yg bukan lagi melahirkan kata namun tindakan. Dan sesungguhnya ketidakadilan itu rapuh karena ia berdiri di atas kaki-kaki yg tidak utuh. Tak ada keseimbangan maka janganlah heran jika ia ...

Pantun pembuka

Penumpang berjejal naik semua, Menuju  bintaro lewati maja Salam kenal adik semua Saya hartanto dari dja Berkali kali  terasa mual Ketiak dari pasar ketemu muka 14 kali menurut jadwal, Hendak Belajar ilmu pbk Tak pernah sempat kami terlelap Berdiri rapat tak bisa kemana Dari awal saya berharap, Ilmu manfaat, nilainya A Pintu terbuka segera turun, Didesak penumpang dari belakang Temu pembuka saya berpantun Benak senang tak jadi tegang Cerita ini tak terelakan, Jamak di temu lintas stasiun Adik disini saya silakan Siapa mau berbalas pantun Bintaro, 5 oktober 2019 (Pantun di pembuka perkuliahan semester ganjil 19/20)

Perjalanan adalah Tujuan

Gambar
Catatan Perjalanan Menuju Jamselinas Palembang Bulan September adalah bulannya Jambore Sepeda Lipat Nasional atau dikenal sebagai Jamselinas. Tahun 2019 adalah Jamselinas ke-9. Ide gowes menuju Jamselinas 9 awalnya dimulai oleh Om Diki Rahman sang kompor api biru dari Cilegon. "Ayolah Om In, sekalian pulang kampung," ajaknya saat itu. Saya sih iya-iyain aja, secara sudah terbayang betapa jauhnya jarak Lampung ke Palembang. Makin mendekati hari H, om Di ki pun mulai aktif japri-japri rute dan ‘teaser’ penggoda 😃 . Iman saya pun mulai goyah, apalagi ada pilihan start dari Tanjung Karang. Istri mulai dilobi agar visa gowes keluar. "Malu lah Mi, masak wong Palembang gak hadir acara di Palembang," begitu alasan saya waktu mohon ijin gowes Jamselinas 9 ini. Singkat cerita, ijin pun diberikan. Peserta yang awalnya saya sendiri yang berencana ‘nebeng’ rombongan SCAM om Diki akhirnya bertambah. Para senior turing ID Dahon yaitu Mang Dewa , Koh Handoko Candra , dan ...

Monyet penari, ular penjaga dan tuannya

Ada hikayat, Tentang monyet penari dan ular penjaga, Oleh tuannya mereka dibawa berkeliling kota,dari pasar ke pasar, dari kerumunan ke kerumunan, sang monyet terus menari dan sang ular mengawasi, Begitu seterusnya hampir tanpa henti Senja hari, Saatnya tuan berbagi rejeki, Di hitung tuang isi pundi pundi, Sejumput buat penari, bagi penjaga  saku bernas terisi Wahai tuan, Tak salahkah kau buat kini Aku lah yang lelah menari Kenapa pada ular , Hadiah pundi penuh isi Wahai monyet penari, Tak menari tak berarti berdiam diri, Pada kata kata dan bisa sang penjaga Ku pastikan langkah gemulaimu tanpa terhenti, maka wajar saja, jika padanya jatah lebih harus ku bagi Wahai tuan, Tidakkah dia tak bisa menari, Tak kan mungkin dia mengerti Kapan langkah gemulai meniti, Kapan langkah harus berhenti Wahai penari, Tak perlu menari untuk menjadi ular, Dia telah dilahirkan dengan bisa dan kata, kalau sesekali dia juga bisa menari, mungkin hanya kebetulan, Tuhan ta...