Postingan

Kuburanku

Ini adalah kuburanku Yang ku gali sejak bertahun-tahun lalu Dengan riuh tawa dan derai air mata palsu Dalam episode kehidupan semu Kuburanku tampak kusam Tergilas pedihnya kemarau panjang Tertampar panasnya mentari dan hembusan bayu yang menghempas dedaunan kering Dari sebuah pohon sekarat di sisi kuburanku Tak ada yang sudi melihat kuburanku Selain aku Karena ia terus memanggilku Dengan suara paraunya yang sumbang di dengar Entah kapan hujan bertamu ke kuburanku Membasahi tanah merah di sekelilingnya Mengusir debu yang menyelimuti Yang dengannya kelak rerumputan dan pepohonan menghijau Akankah senyum kan mengembang Dari para peziarah yang datang Menatap kuburanku Yang didalamnya bersemayam jasadku Seraya berdoa; semoga RahmatNYA tercurah kepadamu

Pesona Separo Agama (2)

Kelam shubuh perlahan berganti terang, pertanda pagi kan menjelang. Jauh di ufuk timur, mentari tampak mendaki cakrawala, menebar kehangatan. Cahaya kuning keemasan perlahan menembus jendela kaca. Kerlap-kerlip terhalang dedaunan Mangga. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar deru motor dan mobil silih berganti. Sesekali diselingi suara penjual gorengan, berlalu lalang, menjajakan pisang memutari komplek Pandega Marta.  Bagi sebagian orang, melanjutkan tidur di pagi akhir pekan adalah kenikmatan yang tiada duanya. Apalagi kalau hujan, bersembunyi di balik selimut tebal sungguhlah nikmat Tuhan paling hakiki. Namun tidak bagi Izzam, Fattah, dan Ardi. Dua tahun mereka ditempa. Tak hanya diajari aqidah, fiqih, dan tafsir, melainkan juga shiroh . Saban hari ditausiahi bagaimana Nabi dan para sahabat memulai pagi, keutamaan berlama-lama di masjid sembari menunggu waktu syuruq , dan sebagainya. Tak heran ketika mata begitu berat, selalu saja terngiang di benak mereka QS. Al Jumu’ah...

Demi Masa (3), Pegawai Baru

Pukul 22.00 Tina membaca ulang pekerjaannya. Matanya terasa berat karena dari sore ia fokus mengerjakan tugas yang dititipkan oleh Ponco kepadanya. Dibawanya kertas kerja yang telah diselesaikannya ke cubicle  Adnan. Setelah dipersilakan, Tina duduk menghadapi Adnan. Kertas yang dipegangnya beralih ke tangan Adnan. “Pak, boleh saya bicara dulu?” tanya Tina. “Boleh-boleh aja sih, cuma kan ini udah larut, kamu nggak pengen pulang?” “Ah, Bapak. Biasanya juga nggak peduli kok saya pulang malam  atau bahkan pagi,” sindir Tina “Hehehe, ya nggak gitu juga kali,” Adnan tertawa kecil. “Oke…oke, apa yang mau dibicarakan?” sambung Adnan. “Masalah sensitif sih pak. Bapak jangan marah ya…..,” Tina agak ragu melanjutkan bicara. “Kamu hamil?” mata Adnan melotot ke arah Tina. “Makanya jangan bergaul bebas gitu, Tin. Nanti jadi aib semuanya. Kan saya juga…..,” belum sempat Adnan melanjutkan omongannya Tina memotong perkataan Adnan. “Ya Allah, Pak. Tega ya Bapak nuduh sembarangan. ...

Tiba Tiba Saja Rabu Pagi Tiba

Tiba tiba saja rabu pagi tiba, Baru sejenak rasanya selasa, Siang nanti pun bisa jadi tak lama Tiba tiba saja senja Tiba tiba saja malam Tiba tiba saja  hari, minggu, tahun terlewat tanpa tanda, tanpa baca Tiba tiba saja, Kita berduka, Tentang bermusim waktu tersia Sutikno Slamet, 14 Agustus 2019

Demi Masa (2)

Pukul 17.00 “Tin, gue tunggu di kafe  Mawar ya.” “Iya Mas, segera meluncur,” Tina mengambil  tasnya. Ia bercermin ke ponselnya sambil menambahkan gincu di bibirnya. “Yup, aku udah cantik.   Wait for me , Mas Agung  sayang…..,” Tina beranjak dari tempat duduknya. “Tina…..,” “Ya, Pak?” Tina berbalik mendengar Adnan memanggil namanya. “Kamu jangan pulang dulu ya. Bantu saya selesaikan laporan penjualan. Walau ini sudah agak terlambat, nggak apa-apa yang penting laporan selesai. Bahannya sudah saya email ya. Pak Charles udah marah-marah. Please.” Kedua tangan Adnan dikatupkan di dada pertanda ia sangat membutuhkan bantuan. Tina merasa serba salah. Sudah sering ia membatalkan janji dengan Agung, kekasihnya karena banyaknya tugas yang diberikan Adnan kepadanya. Sebagian besarnya adalah menyelesaikan pekerjaan yang ditinggalkan Ponco, teman kerjanya. “Memangnya Ponco ke mana, Pak?” antara kesal dan bingung Tina bertanya kepada Adnan. “Dia nggak masuk hari ini k...

Membaca lagi Rendra

Ketika terjadi ketidakadilan, orang-orang akan bertanya. Saat ketidakadilan justru dipertontonkan tanpa sedikit pun kepedulian, orang-orang tidak hanya bertanya tapi akan menunjukkan ketidaksukaan dalam berbagai bentuknya. Saat pertanyaan-pertanyaan yg ada tidak menemukan jawabnya, ketika tekanan justru yg menjadi jawaban, ruang baru akan tercipta. Pertanyaan yg diajukan boleh saja membentur keadaan namun ia tidaklah mereda. Ia akan tumbuh di kebon belakang lalu pada saatnya menjelma hutan. Ia terus hidup di alam bawah sadar, tercebur ke kali mengalir lalu menjadi ombak di samudra. Suara-suara yg diteriakkan memang memekakkan telinga namun ia jelas bentuknya. Jawablah, jangan melengos darinya. Dan lebih berhati-hatilah dengan suara-suara yg dikumpulkan dalam hati karena ia akan menjadi energi yg bukan lagi melahirkan kata namun tindakan. Dan sesungguhnya ketidakadilan itu rapuh karena ia berdiri di atas kaki-kaki yg tidak utuh. Tak ada keseimbangan maka janganlah heran jika ia ...

Pantun pembuka

Penumpang berjejal naik semua, Menuju  bintaro lewati maja Salam kenal adik semua Saya hartanto dari dja Berkali kali  terasa mual Ketiak dari pasar ketemu muka 14 kali menurut jadwal, Hendak Belajar ilmu pbk Tak pernah sempat kami terlelap Berdiri rapat tak bisa kemana Dari awal saya berharap, Ilmu manfaat, nilainya A Pintu terbuka segera turun, Didesak penumpang dari belakang Temu pembuka saya berpantun Benak senang tak jadi tegang Cerita ini tak terelakan, Jamak di temu lintas stasiun Adik disini saya silakan Siapa mau berbalas pantun Bintaro, 5 oktober 2019 (Pantun di pembuka perkuliahan semester ganjil 19/20)