Postingan

Gadis Kecil Dan Lelaki Berbaju Putih

 Gadis kecil Itu menutupi kuping dengan rambutnya ketika beberapa temannya menutup hidungnya. Ia meletakkan bola bekel yang sedang dipegangnya. Ia berdiri dari duduknya dan berpamitan kepada teman-temannya bermain. Mukanya bersemu merah menahan rasa malu di hatinya. Dalam beberapa langkah, ia mendengar teman-temannya berbicara satu sama lain. Pembicaraan yang membuat gadis kecil Itu merasa tersisih dari pergaulan anak-anak seusianya.  “Kenapa tadi baunya nggak enak sekali ya? Ampun deh, aku nggak sanggup berdekatan dengannya. Lain kali jangan diajak bermain lagi, bikin jijik aja.” “Bukan aku yang ajak, kok. Dia sendiri yang pengen gabung,” timpal yang lainnya. Gadis kecil Itu terus melangkah menjauhi tempatnya bergaul bersama teman-temannya. Rasanya tak ada harapan baginya untuk kembali bermain bersama. Sesampainya di rumah ia langsung masuk kamar. Perasaannya sungguh terluka. Ia ingin sekali bercerita tapi ia tak sanggup bercerita karena merasa tak ada gunanya. Ditatapnya cer...

Desember Yang Mencekam

Gambar
  Langit kali ini menghitam Seolah siap menerkam insan yang terkurung di padatnya jalanan Bersahutan bunyi klakson kendaraan roda empat Berebut tempat agar dapat secepatnya berada di depan   Saling sikut dan senggol hal yang biasa Tak ada perasaan bersalah Seringkali umpatan tak terhindarkan keluar dari mulut insan yang depresi Tak tahan menanggung kesal yang tak berujung   Aku hanya bisa terdiam tak berdaya terkurung di balik kaca Lengkingan klakson yang bersahutan seolah alunan nada yang sanggup memecahkan gendang telinga Aku hanya berdiam dalam gelisah Sesekali badanku bergerak ke kiri dan ke kanan   Semakin lama perasaan tak nyaman menggerogoti kewarasanku Ku mulai berteriak dan menangis Rasanya ku ingin terbang melintasi benda-benda berjendela itu Yang semrawut berdesakan di atas aspal basah     Akhirnya air deras mengucur dari langit Membuatku semakin panik Dingin seketika melanda sekujur tubuhku Desember ...

Jiwa dan Raga Yang Tak Selaras

  Bulan Desember tahun lalu, Ku pernah bersumpah Ku akan selalu mengungkapkan apa   yang sebenarnya ada di dalam hatiku Aku akan jujur   Desember kali ini, Aku berkata iya padahal kuingin berkata tidak Aku berkata tidak padahal kuingin berkata iya Aku berkata suka padahal aku benci   Desember kali ini, Ragaku tetap sama Tak sanggup ku keluar Dari belenggu rasa tak nyaman di jiwa

Yaa Rabbanaa

Code blue Code blue Ruang perawatan anak Seketika suara dari alat pengeras suara ruangan memecah kesunyian Para petugas medis berlarian menuju lokasi yang dituju Aku hanya terpaku menatap gerak langkah cepatnya Untaian doa melesat dari bibir, "semoga semua dalam keadaan baik-baik saja." Beberapa menit kemudian suasana kembali hening  Hingga terlihat kembali para petugas medis yang tadi berjalan bahkan berlari tergesa Aku memberanikan diri menanyakan apa yang terjadi kepada salah satu petugas medis Jawabnya, "satu pasien anak-anak yang sedang dalam perawatan tetiba berhenti detak jantungnya." Lemas kakiku Berdebar jantungku Tak kuasa ku menahan air mata Ya Rabbanaa....

Mimpi Buruk Karenina

  Fitra membuka sebuah amplop yang sedang dipegangnya. Matanya terpusat pada satu tulisan besar yang berada di tengah kertas. Kekesalan tergurat jelas di wajahnya. Kemudian kertas itu diremasnya. Tak ingin berlama-lama di bangunan sekolah bertingkat itu, Fitra melangkah keluar dari sekolah itu. Langkahnya cepat karena menahan kekesalan. Sesampainya di tempat parkir Fitra masuk ke dalam mobilnya. Ia tidak langsung menyalakan mesin mobilnya melainkan duduk di depan setir. Kemudian ia membuka tasnya dan mengambil ponsel. Dicarinya sekolah-sekolah dasar yang dipikirnya bisa mendaftarkan Karenina, anaknya. Sudah setengah jam lebih, Fitra berada di dalam mobilnya, namun belum ada satu pun sekolah yang menurutnya cocok untuk Karenina. Dari mulai waktu pendaftaran yang sudah selesai, lokasi yang jauh dari rumahnya sampai biaya yang terlalu mahal baginya. Perasaan stres mulai menyerang pikiran Fitra. Ia bingung harus ke mana lagi mencari sekolah untuk Karenina. Akhirnya Fitra memutu...

Lelaki Ini dan Perempuan Itu dan Kenangan Tersisa Abu

Perempuan itu berdiri, gelisah. Sejuknya pusat perbelanjaan mewah ini tak juga menenangkan hatinya. Terlihat sekali usaha kerasnya terlihat biasa. Mondar-mandir tak tentu arah. Membuang senyum menjawab sapa pramuniaga. Lelaki ini menatapinya dari jauh. Sudah 5 menit berlalu dari janji temu, tapi dia berusaha memastikan dulu. Pahatan memori bertahun lalu masih lengkap liku ukirnya. Perempuan itu dengan kuncir kuda dan ransel biru muda, kikuk menapaki dunia dewasa penuh serakah. Kasat mata tak banyak yang berubah. Tapi lelaki ini terlalu perasa untuk tak menduga. Perlahan didatanginya perempuan itu. "Assalamu'alaikum", salamnya lirih. Hanya sejengkal di belakang telinga. Perempuan itu terlonjak, menoleh untuk memastikan. "Wa'alaikumussalaam..." jawabnya setengah tercekat. Sedetik jeda sebelum lelaki ini memeluknya, diantara tatap praduga. Perempuan itu membalasnya. Sejenak tersengat karena ini kali pertama sepanjang persahabatan mereka. "Gaya bener lu ng...

Kangen Emak ...