Postingan

MASA SEKOLAH (1), GURU GEOGRAFI

Suasana kelas sangat lenng saat itu. Baru sekitar setengah penghuni kelas 3-11 sebuah SMA Negeri di Bandung yang telah berada di dalam kelas, padahal pelajaran Geografi akan segera dimulai. Guru mata pelajaran Geografi ini sebenarnya agak kuhindari karena aku belum membayar uang buku yang kubeli dari Pak Azimuth, begitu panggilan kami kepadanya (kami memanggilnya demikian karena ketika Pak Guru ini menjelaskan tentang sudut putar arah angin, gaya tangannya sangat atraktif sehingga kami menjulukinya Pak Azimuth). Agak riskan bagiku kalau hanya sedikit teman-teman yang berada di dalam kelas karena perhatian Pak Azimuth takkan terbagi dan tentu saja aku akan semakin terlihat olehnya. Ketika terdengar suara tapak kaki mendekat ke pintu kelas, jantungku semakin kencang berdetak. Sementara tak ada sedikit pun tanda-tanda teman-teman sekelasku memasuki ruang kelas. “Sebagian anak-anak ada kegiatan OSIS. Genk Boy Band seperti biasa nangkring di kantin.” Bisikan Siti semakin membuat suasana men...

GADIS KECIL BERPONI

Denting di dinding berhitung sepuluh kali Mengagetkan sepi dan gadis kecil berponi sedang menabur bunga berbahan lego sembari komat kamit merapal membetulkan letak nisan dari bantal bungkuk menuliskan: Nina Bobo kemudian dua pelayat datang dengan tawa ceria laki-laki dan perempuan, dari balik meja membawa kembang karangan berhias penat keringat tersemat ucapan: "lagi main apa, Nak?" gadis kecil berponi, matanya sudah berpakaian serba hitam meringkuk peluk menyanyi sendiri.

Kesedihan Akan Membunuhnu

Kesedihan itu seperti psikopat. Dalam kelembutan dia masuk menembus rongga dada,  bermain  senyap diantara rusuk yang berjajar rapi bagaikan pasukan penjaga,  tapi tak mampu menahannya  dan akhirnya kesedihan menguasai hati,  mencabik-cabiknya sampai kita lupa arti sebuah bahagia. Saat aku tertawa, dia hadir dan aku hanya bisa tetiba terdiam.  Desakannnya memaksaku menutup bibirku yang terbuka,  tekanannya memaksaku mengeluarkan butiran air yang kusimpan lama dalam dua bola mata.  Saat aku berdiri, dia hadir dan aku harus jatuh terduduk dan tertunduk. Disana sesosok makhluk bertanduk tertawa dengan aroma yang sangat busuk. Kesedihan..  mengapa kita harus berjumpa saat aku sedang mencoba menata istana bahagia,  saat aku sedang belajar tertawa  dan saat ku bertahan jauh dari dia.  Kesedihan ijinkan aku membencimu..  Aku juga berhak bahagia.. Ya kaan.. ?? KOS di WBC (Kumpulan Obrolan Santuy di Warung Bang Casman)

Udin dan Gelembung Sabun

Sengatan sinar matahari pada pukul dua belas siang terasa panas menyentuh kulit. Siapapun yang tidak mempunyai keperluan mendesak untuk keluar rumah, lebih memilih berdiam diri di dalam rumah sambil menikmati hembusan udara segar dari mesin pendingin udara/mesin kipas angin, kipas-kipas dengan kipas tradisional dari anyaman bambu, atau bahkan ada yang berteduh dibawah pepohonan yang berada di halaman rumah. Bagi sebagian yang lain khususnya para Ibu, sinar matahari yang terang benderang menjadi kebahagiaan tersendiri, karena jemuran pakaian yang memenuhi seluruh tali jemuran bisa kering lebih cepat sehingga sebagian pekerjaan rumah bisa selesai lebih cepat dari biasanya. Di musim penghujan, pakaian yang dijemur lebih lama keringnya. Bahkan, jika telah selesai mencuci kemudian menjemur pakaian lebih pagi, menjelang sore atau malam bahkan esok harinya pakaian masih terasa lembab, sehingga apabila dipaksa untuk di angkat pakaian yang lembab tadi dan ditumpuk selama beberapa jam, pakaian-p...

Lelayu

Pasti Pada akhirnya  Gemuruh ini akan  menjadi senyap, Musnah segala ada Yang begitu kuat didekap, Lenyap segala cahaya Yang kini terang dalam tatap, Mati Yang mengintai dari tipisnya tingkap, mengendap endap  Di antara ingat dan lupa  Di antara tidur dan tafakur Di antara hikmat dan maksiat Di antara tawa dan doa suatu hari, Akan tiba,tanpa duga,  Merenggut dunia, tanpa tunda (Bekasi, 23 Jan 2021 03.00 WIB)

Rahwana Jatuh Cinta

  (Rahwana berdiri di pintu peraduan Shinta. Bicara pada dirinya sendiri) Wahai Shinta, putri titisan Banowati, hatiku terus dilanda rindu aku ingin mendekatimu, untuk sekedar  mendengar suaramu saja  begitu pun aku sudah senang. karena itu setiap malam, aku datang ke tempat aku menyembunyikanmu, namun yang ku dengar adalah suaramu yang meninggi.... membentak dan mengusirku pergi. bagaimana pun, aku tak pernah jemu, sampai kau mau mengajakku bicara sampai kamu mau membuka hatimu untuk mengenalku, sekedar mengenalku. agar aku bisa menunjukkan isi hatiku padamu. walaupun terlihat dari sinar mata dan caraku menatapmu bagaimana kau bisa tahu? sementara untuk melihatku saja engkau tak mau apakah karena rupaku? atau karena orang sepertiku tak layak mendapatkan cinta? (Rahwana tertunduk, wajahnya murung... matanya yang buas, memudar sendu) aku Rahwana, Raja Negeri Alengka aku terbiasa mendapatkan keinginanku dengan sesuka hati aku memang bukan orang baik tapi aku tetap punya per...

Aku, Si Kutu Buku, Dan Sunyi

  Ku terduduk kaku di sudut ruangan sebuah rumah tua yang berada di tengah perkebunan di daerah Pangalengan. Suasana senyap membuatku semakin tak nyaman. Hanya terdengar suara jangkrik yang terus bernyanyi menemani sunyiku. Di sudut lain seorang remaja pria yang kutaksir seusiaku duduk bersila, asyik dengan buku yang sedang dibacanya. Sedikit demi sedikit kugeser badanku, mendekat ke arahnya. Kepalaku menunduk mengamati buku yang sedang dipegangnya, memastikan posisinya tidak terbalik. Siapa tahu dia cuma pura-pura membaca untuk memberi kesan pandai kepadaku. “Hey ….” Tak ada balasan kudengar. Remaja pria itu   tak bergeming. Masih duduk dengan posisi yang sama. Hanya matanya yang mondar mandir ke kiri dan kanan, seperti orang yang sedang senam pagi di lapangan. Kuberanikan diri menggerakkan jari tanganku untuk mencoleknya. “Hey, kita kan cuma berdua di sini. Di rumah yang luas ini, kita ngapain kek, ngobrol kek, main   gaple gitu, atau main congklak kek,   j...