Postingan

YUKK

  Ketika aku duduk di Bangku Sekolah Mengah Pertama, ada sebuah film kartun dengan tokoh bernama Yukk. Tokoh tersebut memiliki kepala yang ditutupi oleh rumah kayu, sepanjang seri film kartun tersebut kami tidak pernah tahu wajah Yukk yang sebenarnya seperti apa. Karena dalam film tersebut bila Yukk membuka rumahnya, maka orang yang melihat wajahnya akan menjerit ketakutan dan pingsan.  Pada waktu itu aku memiliki sahabat sekaligus teman kelompok belajar. Biasanya kami akan belajar ke tempat salah satu teman dan mendiskusikan mata pelajaran yang sulit bila kami kerjakan seorang diri. Dengan metode kelompok belajar, Alhamdulillah banyak pelajaran yang dapat kami selesaikan bersama.  Pada suatu hari, kelompok belajar kami selenggarakan di rumah teman kami bernama Pipit. Pipit memiliki seorang adik perempuan yang lucu dan menggemaskan, bernama Dita (aku tidak tahu persis berapa usia Dita saat itu). Ketika kami telah selesai kelompok belajar dan bermaksud pamitan kepada tuan ...

Kepada …

Kepada langit matahari ceria  Bersinar terang tanpa cela  Begitu pun kehidupan dunia  Berjalan sesuai takdirnya Kepada malam bulan tersenyum Tawanya ikhlas penuh harum  Begitu pun perjalanan seorang kaum Bergerak pasti mengikuti pendulum  Kepada pohon daun berguguran Menutupi bumi bertebaran   Begitu pun jua soal pekerjaan  Ada awalan ada akhiran  Kepada Ani Rahmi kami belajar  Menjalani kehidupan dengan wajar  Begitu pun saat cita cita dikejar  Berhentilah meski menanti dengan sabar Kepada doa kami bersimpuh  Tanpa pernah sekali luluh  Walau bidadari pergi dengan teguh  Panjatkan doa meski peluh  Bekasi, 28 Juli 2021 (Puisi ini saya dedikasi kepada salah seorang pensiunan dari PNBP SDA dan KND)  https://rulyardiansyah.blogspot.com/2021/08/kepada.html 

Posting not Ghosting

2 tahun kurang tepatnya Saya tidak posting Bukan niatnya Hendak menjadi ghosting   Asa selalu ada Meski kadang Lelah Sisa yang ada Akan ditelaah   Meski bukan lebah Yang bisa memberi manfaat Namun diri hindari ghibah Agar penuh syafaat   Semangat tetap ada Meski selalu ada kendala Jiwa yang yang terjaga Siap mengawal jelaga   Bekasi, 28 Agustus 2021  Puisi ini dapat dilihat di laman berikut :   https://rulyardiansyah.blogspot.com/2021/08/blog-post.html 

Dongeng lelaki yang memuja

# 1 Status wa sebaris kata kata dituliskan pada status wa lalu degub jantung berpacu, dihela harapan dan kecemasan engkaukah duhai pujaan satu  di antara deretan nama yang membaca sebelum  ujung waktu tayang tiba sebab  bahagia telah ditafsirkan sederhana, hanya jika satus wa telah kau baca seakan satu persembahan, telah sampai kepada tujuannya karena untuk alasan ini, mahakarya  telah dicipta #2 aku belum sempat mencari cara hari hari ini masih seperti sebelumnya, mulai bekerja sejak membuka mata, hingga kadang malam tiba ada saja yang harus dikerjakan,  rapat virtual yang  bersambung disposisi  bertubi yang bikin bingung maaf,  jiika  aku belum sempat, mencari cara melupakan mu #3 My Task di aplikasi persuratannmau  tak sengaja aku mengintip, My Task di aplikasi persuratanmu tertulis tugas "menjalani takdir selalu  hidup dalam pikiran  para pemuja" waktu mulai  bertahun  lalu, waktu selesai  tak tahu- aku lihat...

Dongeng Musim Pandemi

# 1 Doa  seorang lelaki  semalam  berdoa, Tuhan lindungilah orang orang baik dari Corona, Timpakan saja  pada koruptor,  pemimpin lalim, preman   serta  orang orang jahat lainnya saja agar hidup ini tak makin berat akan coba pagi tadi sang lelaki. sesak nafas dokter menyebut nya hasil reaktif  atau   positif yang tak terlalu jelas dia dengar, karena dia bergegas hendak meralat doa-nya ( Bekasi,  Agustus 2021)  

Riak

Gambar
Keberadaan riak itu biasa Pada sampan yang berlayar di Samudera kehidupan Pabila riak berubah menjadi isak Pastilah ia menyimpan apa yang tak dihendak Oleh sebab manusia mudah lelah Segera tuk mendekat padaNYA Agar lelah DIA ubah menjadi Lillaah Dengan caraNYA Dengan keMaha AgunganNYA

MENCARI PUISI (di hari puisi)

kelopak mata belum juga terbuka lebar gelagapan mencari puisi ke sudut-sudut kamar ternyata sedang duduk-duduk santai di selasar asyik berkelakar dengan mentari yang baru saja keluar "Puisi yang satu lagi mana?" aku menanyakan pada puisi pertama di kejauhan tampak dia melambaikan tangan bersama dedaunan hijau berkilau setelah semalaman mendesau terdengar cicitcuit dari atap-atap rumah yang seperti saf salat menemani puisi yang bersiap rapat "Puisiku masih kurang satu, ada yang tahu?" coba kutanya pada dunia dan mereka "Dia masih lelap dalam gumpalan gelap  di bawah rongga dada" serempak jawaban terlontar kompak kunyalakan lampunya puisi terbangun dari gulita dan bergegas menyiapkan rasa. /ekp --- 26 Juli 2021