Postingan

SERPIHAN 'HIBAT'

  “I miss you, so bad …”   Jemariku seketika begetar. Pesan teks yang telah kurangkai, seketika buyar. Aku bergeming. Aku tau kata-kata semacam ini gurauan yang biasa dia lontarkan kepada perempuan manapun jika dia suka. Tanpa tedeng aling-aling.    Wajah tengilnya berkelabat sesaat lalu aku merasakan semburat merah memenuhi parasku.    “Hey, kok diem? Kaget ya dikangenin? ”, kalimatnya kembali menyerangku diakhiri dengan emoji terbahak.    Alih-alih mengetikkan beberapa kata-kata balasan, aku hanya mampu mengirimkan emoji tertawa membalas gurauannya.   Aku mencaci dalam hati. “ Kemunafikan macam apa ini? Bukankah kata-kata itu yang selalu kau rindukan? Sejak 11, 10 atau 9 tahun yang lalu? Mengumpulkan potongan-potongan kenangan yang timbul tenggelam alurnya karena tergerus ingatan yang semakin lemah daya. Menikmati serpihan ‘hibat’ ketika membutuhkan kekuatan dan sandaran rasa. Mengunci rapat-rapat rongga hati dan berserah pada jalan takdir ...

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU DAN BUNCAHAN RINDU

Lelaki ini rindu. Perempuan itu juga. Membuncah. Hujan mengalir tanpa spasi. Layaknya skripsi yang tak kunjung jadi. "Pakkkk....!", jengah Perempuan itu. Mata bulat indahnya melotot penuh. Alih-alih seram, malah menggemaskan. Lelaki ini tertawa. Jahil. "Whaaat...!?, balasnya. "Gak usah usaha deh", rajuk Perempuan itu. Lelaki ini tergelak lagi. Lelaki ini tau pasti. Dalam situasi yang berbeda, tatapannya tadi akan menciptakan medan magnet yang kuat. Perempuan itu akan menjadi seganas kobra memangsa korbannya. Tanpa dikomando Lelaki ini dan Perempuan itu terbahak. Mengundang tatap heran dari sekitar. Mereka tak peduli. Pipi Perempuan itu memerah. Bersungut-sungut menuntaskan gelato terakhirnya. Lelaki ini masih menahan tawa. Sungguh, rasanya sudah bukan ratusan purnama lagi mereka tak jumpa.  Senja sudah semakin tua. Udara dingin mulai menyergap. Sisa-sisa hujan masih menyisakan genangan. Satu dua jangkrik sudah menuju pos jaga. Lelaki ini dan Perempuan itu masih...

You Did it Your Way

Mentari terbit, mentari tenggelam Cakrawala merah jingga Batas itu sebentar lagi tiba Waktu akan segera menjadi figura Pintu pertama yang engkau masuki dulu Dan pintu yang akan kau tutup hari ini Jelas berbeda, namun semua akhirnya akan punya nama yang sama, kenangan Tiba  dimuka, pulang paling belakang Adalah salah satu yang akan kami kenang Sebagian kami menghilang Saat mendadak rapat menjelang pulang Mungkin akan kau ingat dengan senyuman Air tenang yang menyimpan banyak pusaran Tak bisa diam, terus bergerak mencapai tujuan Kerja, kejar, selesaikan... Secepatnya, engkau tak suka menunda Seringkali bagi kami, itu artinya adalah lembur Bahkan kadang sampai mengurangi jam hari libur Tentu ada yang menggerutu atau hadir dengan keterpaksaan Ada juga yang diam-diam menghilang Namun itulah dinamika kerja, yang siap kau terima Yang terpenting adalah menyelesaikan tugas, tuntas Usai sudah, tak ada penyesalan Terbaik atau bukan hanyalah perbandingan Totalitaslah yang seharusnya diutamakan...

Refleksi Merdeka

Kalau soal kapan merdeka, kita punya tanggal yang sama Tetapi soal jiwa-jiwa yang merdeka, Kita harus lihat dulu, satu-satu orang punya jiwa Bahwa penjajahan adalah kezaliman Kita semua sudah tahu itu Bentuk perbudakan  besar-besaran sebuah bangsa atas bangsa lainnya Penindasan dan eksploitasi Hak-hak asasi dikebiri kemanusiaan yang adil dan beradab terang-terangan diinjak-injak Yang jarang kita sadari adalah Jiwa-jiwa merdeka tak pernah bisa dijajah Para pendiri bangsa, pejuang kemerdekaan Mereka yang kini kita sebut pahlawan Adalah orang-orang yang tak pernah dijajah Mereka adalah para pemberani Orang-orang dengan jiwa merdeka Yang menjunjung tinggi kemanusiaan Yang mengedepankan keadilan Yang karenanya tak bisa menerima Segala bentuk penindasan Segala apapun yang namanya penjajahan Kemerdekaan bagi mereka Bukan ditandai dengan proklamasi Proklamasi hanyalah bentuk tanggungjawab dari jiwa-jiwa yang merdeka untuk juga memerdekakan jiwa-jiwa lainnya yang masih terjajah untuk membaw...

I Wish ...

Suatu sore, Awal bulan Mei 2022   “Ren, ih malah ngelamun, udah kerjaan kantor jangan dipikirin mulu ….”,  Nina mengibaskan tangannya di depan mukaku.    “Maklum pejabat negara, udah bagus bisa juga akhirnya meet-up, jadi harap maklum kalo Rendra gak fokus, Nin …”,  Siska berseloroh menimpali ucapan Nina.    Aku tergelak membalas ucapan mereka. Nina dan Yuli adalah temanku di SMP dan SMA yang juga sudah tinggal di ibu kota ini.    “Lu mau makan apa? Pesen dulu … ini ada ….. bla, bla, bla …”  Nina menyodorkan buku menu sambil sibuk menjelaskan pilihan makanan yang menurutnya enak di kafe itu.    Aku memandangnya sekilas. Nina, seorang istri, ibu pekerja yang masih terlihat cantik dan menarik di usianya yang menjelang angka 50. Cara bicaranya ceplas ceplos dan agak sedikit manja.  Dia pandai menjaga bentuk tubuhnya, sehingga masih terlihat seksi. Mungkin jika baru mengenalnya, aku akan termasuk salah satu laki-laki yang...

LUGU

Di pasar, berjajar pedagang menjajakan kebenaran dengan suara kencang Para langganan berbondong datang memborong kebenaran tanpa bertanya, langsung percaya sesuai selera Aku, orang baru coba menawar satu persatu berharap bertemu yang benar-benar benar,  Dasar lugu!

FILM NGERI-NGERI SEDAP, SEBUAH RENUNGAN

Sebenarnya udah agak lama aku nonton film ini ketika film ini baru release. Agak telat aku membahas film ini, tertunda beberapa hari. Disclaimer di awal, tak ada niatku untuk spoiler dan ini reviu dari sudut pandangku sendiri. Film ini menceritakan tentang sebuah keluarga dengan latar belakang Batak yang terdiri dari Bapak, Ibu, dan empat orang anak. Film ini dibuka dengan ibu yang menghubungi tiga orang anak laki-lakinya yang merantau di luar pulau agar segera pulang. Sayangnya ketiga anak laki-laki tersebut menolak dengan berbagai alasan. Sang Bapak memanfaatkan anak perempuannya yang penurut dan tinggal bersama mereka untuk membujuk kakak dan adik-adiknya pulang. Dari situlah kisah dirangkai sampai dengan film berakhir. Ada percakapan yang menarik bagiku dalam film ini. Percakapan antara Bapak dan Ibu ketika anak perempuannya berhasil membujuk kakak dan adik-adiknya pulang. Bapak: Apa kubilang! Kalau kau ikuti usahaku, pasti berhasil, kan? Ibu: Kau memang paling hebat di dunia. Dana...