Postingan

Musim Hiperbola

Selepas Isya, usai santap malam yang mengenyangkan, Dirum mendaratkan tubuh di sofa kesayangannya seraya mengambil remote TV yang rebah di atas meja. Belum sempat tangan Dirum meraih remote, hape yang juga tergeletak di meja menyala. Nama Durim terpampang di layar hape yang sedang memanggil itu. Lalu, sambil menyandarkan diri, Dirum segera mengangkat panggilan dari Durim. ‘Halo, Assalammualaikum Rum!’, suara Durim terdengar keras dan antusias membuka percakapan. ‘Waalaikum salam, Sepupu!’ jawab Dirum dengan gembira. Sudah lama Durim, sepupu jauh Dirum yang tinggal di Desa Kononda tidak menelepon. Terakhir Durim menelepon seingat Dirum adalah tahun lalu saat mengabarkan undangan pernikahannya sekaligus   menyampaikan soal kebun durian dan rambutannya yang tengah berbuah lebat. Maka yang terlintas pertama dibenak Dirum usai menjawab salam dari Durim adalah, ‘Apakah Durim kali ini akan mengabarkan tentang kelahiran anak atau waktu panen durian dan rambutan yang segera datang?’ ...

Kampanye

Saya berjanji, Kalau saya terpilih nanti Saya pasti akan memberi  Penduduk seluruh negeri Kebebasan untuk  bermimpi Kalau saya tidak tepati, Nanti janjinya saya revisi (Gedung Sutikno Slamet, 10 Jan 2024)

Buah Catur

di permainan aku mungkin sekedar bidak, dan kau yang jadi  raja atau menteri nya atau bisa jadi sebaliknya, Tapi seusai permainan, kita sama sama berakhir di sebuah kotak   lalu untuk alasan apa, kita harus berbangga atau bersusah hati... (Gedung Sutikno Slamet, 281223)

Gadis Ketek

Jeng yah.. aku sudah merasa payah, urusan berdusta kaulah juaranya, kau bilang dalam hidupmu akulah satu satunya, teman berbagi keluh kesah dan cerita bahu tempatmu bersandar ketika kau begitu lelah akan dunia tapi tak begitu adanya ku rasa, sebentar saja aku hilap mata langkahmu   telah bebas berkelana menjawab setiap kerlip mata yang memuja  pesonamu yang menyilaukan dunia  dan setiap kali aku diserang cemburu buta kau akan berkata, apakah aku berhak melarang orang lain mencinta Jeng yah, mungkin saja aku telah salah berlebihan menjadikanmu rumah tempat menuju pulang ketika lelah dan payah tapi setiap kali aku kembali pergi melangkah  maka  mereka mengerumunimu  seperti kumpulan lebah yang menemukan kembang mekar yang merekah setiap kali aku bilang aku  marah,' kau selalu berkilah, "' kalau ada yang datang,  tanpa kuundang, apa harus aku yang salah? "' (Kampung Ujung Harapan, 27 November 2023)

Peringatan

Tuan yang punya kuasa, Jika separoh saja dari mereka yang padamu, seperti tak berdaya memilih memendam dalam rasa sakitnya, hingga tumpah ruah dalam aliran doa apakah kau masih berpkir seluruh doa itu, sekedar lafal tersia?

Karena Mengingatmu Harus Menembus Malam

malam ini kabut sangat menggebu pekat dan panjang sepertinya aku tak bisa mengingatmu mungkin esok

Sebuah Asa di Tanah Seberang

Dulu kukira, tanah ini akan menjadi pelabuhan terakhirku, Tempatku mengabdi dan mencari rezeki Sambil sesekali melepas penat, di deretan gedung megah Sambil minum kopi Tak terlintas untuk pergi dari tanah ini, Meninggalkan segala kenyamanan yang bertahun menemani, Suara itu, begitu nyaring terdengar di dalam hati Hei. Bukankah kamu seorang pegawai negeri?? Sumpah jabatan dan bukti pengabdianmu menanti Seorang abdi. Bukankah sudah selayaknya untuk mengabdi? Hati tertunduk mentafakuri diri, Mungkinkah keinginan mengalahkan kewajiban? Tentu nuranilah yang lebih tahu jawaban yang pasti Hari ini kumantapkan hati Impian sejati tak akan pudar, meski kita terjaga Cita-cita murni akan terus berkembang Walau mesti berjibaku dengan tantangan Negeri kita sangat luas Terbentang dari ujung Sumatera hingga Papua Beragam budaya dan kekayaan alam yang melimpah ruah Harus dapat dinikmati oleh seluruh anak bangsa Abaikan segala kenyamanan untuk sementara Tak ada yang sia-sia, selama asa tetap ada