Postingan

Basis Rasa

by Ash Beige Baby Aku ngga benci kalian Habis-habiskan energi aja Seperti peduli tapi beda quadran Cinta Benci garis tipis,  kan   Sekarang aku di basis Sampai Koordinat nol koma nol Tingkah laku mereka bukan beban Eksistensi mereka ngga memberatkan Keabsenan mereka juga bukan syukuran Ini  bukan benci yang berisik Cuma  mati rasa yang tenang .   Melesat jatuh jungkir balik dapat lotre tembak-tembakan Selama ngga ngaruh ke hidupku  kalian bukan siapa-siapa buatku  

Jiwa yang Hancur

  Berkali-kali kucoba bangkit Tak banyak yang percaya Dari jiwa yang mengeryit Namun tubuh yang seolah biasa saja. Sulit menghadapi semua ini Rasanya seperti tubuh ini remuk berkeping-keping Namun semua tetap tak percaya lagi Jika daku seperti rumput mengering Kemanakah aku minta pertolongan? Hanya kepada sang Pencipta diri ini Tak henti aku meminta pertolongan dari-Nya Meskipun tiap hari seperti mengais rumput di rawa Tapi tetap ku berusaha demi menghidupkan jiwa Jiwa yang hancur karena luka Jiwa yang tenggelam karena lara

Hujan di Bulan Februari

  Gerimis turun di awal bulan, Membasahi jalan yang sepi, Februari datang dengan perlahan, Membawa rindu ke dalam hati. Payung berwarna merah jambu, Menghiasi sudut kota yang tua, Ada cerita tentang aku dan kamu, Yang tersimpan dalam doa. Cinta bukan sekadar kata, Namun hadir dalam perbuatan, Menghapus air mata dan duka, Menjadi pelita dalam kegelapan. Biarkan hujan terus menari, Di bawah langit yang kelabu, Sebab kasih di bulan Februari, Akan selalu terasa baru. Jakarta, 02 Februari 2026

Pesan di Ambang Pagi

  Di ambang jendela pagi menyapa, Februari datang membawa berita, Tentang embun yang jatuh perlahan, Menghapus sisa duka semalam. Angin berbisik di antara dahan, Membawa aroma tanah yang basah, Langkah kaki mulai berjalan, Menjemput mimpi yang hampir pecah. Bulan ini terasa begitu singkat, Namun penuh dengan rahasia, Seperti janji yang terikat, Di antara doa dan usaha. Mari kita tulis cerita baru, Di atas lembar yang masih putih, Tanpa ada rasa ragu, Hanya semangat yang takkan letih. Jakarta, 02 Februari 2026  

The Art of Detachment : Befriending My Quarter Life Crisis

​ by: Ash Beige Baby I just had an encounter with… something. Or someone. I am still not sure. But it shook me awake. It snapped me out of a fragile version of myself I once believed was permanent. This is the first time I share this in public (if it can even be called a secret). So I was in the middle of what people politely call a quarter-life crisis, that quiet season where we feel misplaced in every room, trash, belongs to nowhere, attached to no one. I felt like I had to fake my personality just to exist, and even build temporary shelters out of strangers with small talk, pretending they were homes. I'm a fool. Then I was exposed to an idea. A simple one. The kind we think we understand until it reaches our life and refuses to stay theoretical. It sounded easy, almost gentle. But when it dragged me into reality, it became something else entirely.. a wicked, beautiful bittersweet. Anyway, I wrote this while sitting by the lakeside with a glass of strong matcha latte in my hands...

Asytaqu Ilaika

By: Ash Beige Baby Pada langit aku berbisik, tentang gema yang menetap yang datang seperti bayang senja yang menolak tenggelam. Pada langit aku berbisik, kutitip satu rahasia yang tak pernah berani kuucap kepada apa atau siapa. Suara itu seperti nyala redup yang lupa jalan pulang, yang masih mencoba hidup meski tak bisa utuh Aku tidak meminta kembali, aku hanya menitip ini pada angin penjelajah yang tak mengenal nama yang tak peduli arah Jika sampai, biarlah sampai. Jika tidak, biarlah hilang. Mungkin ia bisa tiba, ke tempat yang tak mungkin kujangkau, atau malah memilih lenyap? di balik cakrawala seperti cerita yang sengaja terlantar Tidak selesai Nanti bila suatu hari langit menua dan angin pulang tidak bawa apa-apa Aku simpan ini sendiri saja Sebagai rahasia purba yang hanya dimengerti alam, bukan manusia. Dan baru kali ini aku paham apa yang Khalil Gibran coba sampaikan وَفِي اللَّيْلِ أَسْمَعُ صَوْتَكِ فِي صَمْتِ الْقَلْبِ، وَأَرَى وَجْهَكِ فِي ظَلَامِ الْعَيْنَيْنِ Dan di malam h...

Menjadi Orang Baik

  Setiap hari Rabu, Anna selalu memeriksakan kesehatannya. Ia memiliki masalah pada lambung yang mengharuskannya menjalani kontrol rutin setiap minggu serta mengonsumsi tiga jenis obat lambung untuk meredakan nyeri. Anna adalah anak yang mudah bingung dan sering linglung saat berada di luar rumah karena sehari-hari ia terbiasa berada di rumah sendirian. Ia juga kerap berprasangka buruk terhadap orang lain yang berbuat baik kepadanya. Anna tidak percaya bahwa ada orang yang tulus selain keluarganya, yaitu orang-orang yang ia kasihi. Menurutnya, jika seseorang bersikap baik, pasti ada imbalan yang diharapkan dari kebaikan tersebut. Pagi itu, seperti biasa, Anna bersiap untuk melakukan kontrol rutin ke dokter. Ia sangat menyukai dokter yang menanganinya. Anna merasa dokter tersebut tulus membantunya, meskipun dalam pikirannya ia tetap menyadari bahwa pelayanan itu diberikan karena dibayar. Setelah mempersiapkan diri, Anna berangkat ke rumah sakit dan tidak lupa sarapan terlebih da...