Postingan

Berbagi Jalan, Berbagi Kehidupan

Beberapa waktu lalu terdengar lagi berita tentang seorang pesepeda yang meninggal karena tertabrak sepeda motor. Ini bukan kejadian pertama yang menimpa pesepeda. Sudah banyak kasus-kasus serupa, dari sekedar luka ringan sampai merenggut jiwa. Terlepas dari ajal yang bisa merenggut dimana saja dan dengan cara apa saja, kematian para pesepeda di jalan raya menunjukkan bahwa bersepeda di jalan raya bukanlah kegiatan yang aman. Harapan para pesepeda untuk memiliki infrastruktur yang memadai, aman dan nyaman bukannya tidak disuarakan dan diakomodir, tetapi memang belum bisa dikatakan memenuhi harapan yang paling minimal sekalipun. Jalur sepeda sudah ada di beberapa tempat, namun utilisasi-nya masih sangat minim. Okupasi jalur oleh pengendara kendaraan bermotor masih dominan. Diskusi mengenai hal ini berujung pada perdebatan tanpa akhir, seperti mempertanyakan mana lebih dulu? telur atau ayam?. Harus diakui bahwa perilaku pengendara kendaraan bermotor belum sepenuhnya ramah terhadap pe...

Bis Jemputan dan Perilaku Ekonomi

Kalau ilmuwan menggunakan laboratorium untuk melakukan pengamatan, percobaan dan pengambilan kesimpulan, ekonom ala-ala macam saya yang malas melakukan observasi ke daerah pedalaman Indonesia, cukup menjadikan populasi rombongan kereta (roker), sopir bajaj, dan sopir jemputan di stasiun Tanah Abang sebagai objek pengamatan, membandingkan dengan teori ekonomi yang samar-samar masih teringat, dan menarik kesimpulan ‘nyerempet’ motivasi ekonomi gitu. Supaya kelihatan ilmiah, saya membatasi lingkup populasi dengan roker PNS Kementerian yang berkantor di Lapangan Banteng Timur. Ketertarikan saya untuk mengamati dimulai dari fonomena euphoria roker yang menuntut unit mereka bekerja menyediakan jemputan stasiun-kantor di pagi hari, dan sebaliknya di sore hari. Tercatat 5 eselon 1 yang pada mulanya mengadakan jemputan. Kadang, rekan se-Bajaj saya di luar eselon 1 tersebut berceletuk, “Sayang Setjen ga ada jemputan”, atau, “Andai saja DJA juga ada jemputan”. Pada akhirnya, jemputan 2 eselon ...

Sweeping Tersukses

Secara formal, keikutsertaanku di diklat teknis komputer ketika itu menjadi titik awal karirku di bidang IT/Komputer, meskipun belajar pemrograman sudah aku mulai setahun sebelum ikut diklat. Waktu itu, diklat teknis komputer termasuk diklat  paporit  (sedikit penyesuaian dengan tempat aku tinggal sekarang : Bogor... hehe)  bagi teman-teman. Wah, minat teman-teman ke dunia IT besar juga ya,  tapi tunggu dulu. :D Hampir semua teman-teman yang ditempatkan di luar jawa, rajin cari info ada diklat apa saja yang bisa diikuti. Alasannya satu : biar bisa dekat dengan kampung halaman. Jadi tidak ada hubungannya dengan minat di dunia IT. Sssst... rahasia :P Kebetulan diklat teknis komputer ini lamanya : 1 bulan plus 4 bulan. Lumayan bisa berkeliaran di jakarta dan kampung halaman selama total 5 bulan. Satu kesempatan yang harus diambil. Ini jelas terlihat dari peserta yang lulus seleksi, lebih dari 80% dari luar jawa. Akibatnya hampir setiap akhir pekan, tempat pengina...

Hujan Hari Ini

Berbulan-bulan kami menunggu kehadiranmu..  atau malah sudah hitungan tahun?  entah lah.. yang pasti lama...  sudah kami persiapkan segalanya menyambutmu..  berhias diri agar layak menemuimu...  coba kuselipkan ruang-ruang baru untuk peraduanmu...  Tiba-tiba hari ini dirimu hadir mendahului fajar...  atau mungkin sudah hadir saat mata kami masih terpejam?  sungguh kejutan yang tak terkirakan...  di kala harapan kami mulai tergerus kenyataan..  engkau tiba..dan masih sama.. menyejukkan...  Tapi semua ternyata tak berbeda...  meskipun kami sudah bersiap dan berusaha sigap...  suka cita akan datangmu tetap meluap-luap menutup jalanan..  ruang-ruang baru yang kami siapkan masih tak mampu membuatmu nyaman...  basah... tapi bisa menghapus gelisah... Bahagia dan syukur kami panjatkan...  tak lupa lantunan doa serta menyelipkan secercah keinginan...  Karena kehadiranm...

Perhatian, Rani

sebuah cerita yang kudengar dari dosen pendidikan agama saat kuliah dulu. Ada satu keluarga yang harmonis, terdiri atas seorang ayah, ibu, dan seorang anak perempuan (sebut saja Rani) yang beranjak dewasa  dan sudah saatnya belajar berpijar. Mereka hidup rukun penuh kebahagiaan. Terutama karena Rani, anak remaja satu-satunya itu tumbuh sebagai remaja yang cerdas, cantik, ceria, taat beribadah, serta sangat menyayangi, menghormati dan berbakti kepada kedua orang tuanya. (Mungkin jika divisualisasikan sosok Rani ini seperti Dr. Shindy Kurnia Putri, ngayal). Namun, pada suatu saat, perangai sang anak mulai berubah drastis. Ia menjadi pemurung dan mulai berani membantah kedua orang tuanya. Suatu hari, ketika sang ibu seperti biasa mengajak Rani untuk ikut menghadiri pengajian, Rani berkata dengan nada sinis. "Tak perlu ibu suruh-suruh, toh ibu hanya pura-pura saja kan?" hardiknya. Mendengar kata-kata itu, sang ibu terhenyak. Ia  kaget karena baru kali ini kata-kata seperti...

Pelarian

Dari tempat aku duduk, melalui jendela setengah kusam ini, kulihat mobil-mobil terparkir rapi dibawah sana, orang-orang terlihat kecil berjalan di koridor merah.. Diseberang tempat aku duduk ini, terlihat Gedung Menara Era, Allson dan Dhanapala berdiri tegak, angkuh mencoba menggapai awan.. Pikiranku melayang.. Sementara pembicara yang duduk di dep an sana terlalu berisik, ngoceh terus entah membicarakan apa.. aku penat, sumpek dan ingin lari... Ataukah kubuka saja jendela ini, mencoba lari dari keadaan sekaligus mencoba belajar terbang..? pastilah burung-burung itu akan menertawaiku, mereka pasti akan secepatnya bergosip, "eh, ada manusia tak punya sayap, mencoba belajar terbang.." mereka pasti akan tertawa lebar melihat aku yang pasti terjatuh dari lantai 9.. Bahkan dengan semangatnya mereka akan mengabarkan kabar ini pada angin, pucuk-pucuk cemara dan lampu indah di taman kota.. Aku akan jadi berita bukan hanya di koran dan televisi tapi juga gosipan kupu-kupu pada...

Sodara Ketemu Gede

Gambar
Neng kenal  mba Yayun, Tirta, dan mas Akmal saat wawancara beasiswa di gedung A Bank Indonesia. Dia heran dengan kepribadian ketiga orang ini yang ramah dan langsung ‘nyetel’ ngobrol ngalor ngidul seputar materi tes matematika dan wawancara saat itu. Padahal, banyak orang yang baru kita kenal harus ditanya berkali-kali untuk memulai percakapan. Pertemuan selanjutnya, dan menandai dimulainya persaudaraan mereka, di pesawat JL726 tujuan Jakarta-Tokyo, 8 Juli 2009. “Lu udah tahu bahasa Jepang yang harus diucapin setelah selesai makan?” tanya Tirta. “Hah?? Emang bakalan penting kita pake kalo di sana? Gue cuma tahu arigatou ,” Neng jadi takjub dengan kesiapan orang satu ini. “Lho … kalo ke Negara orang, kita harus tahu tata krama yang berlaku di sana. Sehabis makan, bilang ke koki nya,’ gochisyoo samadeshita, ’ mereka akan respek banget.” Well … oke, oke, Neng pun terbata-bata bagai merapal ‘mantra’ gochisyoo samadeshita … berkali-kali. Mereka kemudian bergabung dengan...

Herbal – Daun Afrika

Sudah pernah dengar nama Daun Afrika? Gak banyak yang mengenal manfaat dan faedah dari Daun Afrika. Saya mengenal daun ini (kalau boleh disebut terapi herbal) dari ibu mertua saya yang memang senang mencari sumber herbal dari alam. Adanya kebutuhan inipun karena beliau memang sedang sakit dan beberapa terapinya juga menghindari berbagai macam obat-obatan kimia yang dapat merusak ginjal manusia. Selain daun afrika ini ada juga tanaman binahong dan  beetroot  (pernah di- post -ing di salah satu grup  whatsApp ). Jika mencari binahong saat ini cukup susah dan tidak banyak yang menanam jenis tanaman ini. Kalau  beetroot   atau buah bit, ibu mertua juga pernah konsumsi, dan khasiatnya cukup manjur. Setelah banyak yang mengetahui manfaat  beetroot  atau buah bit, akhirnya buah bit ini menjadi komoditas yang cukup mahal di pasaran. Ibu mertua tidak berani konsumsi daun Afrika karena rasanya yang cukup pahit. Memang sesuatu yang pahit itu akan memberikan...