Langsung ke konten utama

Sosok Hitam Berjubah Hakim

Sosok yang mengenakan pakaian jubah hakim itu berdiri di trotoar seberang jalan, dengan payung hitam yang menutupi wajahnya, keremangan cahaya serta gerimis hujan, membuat saya tidak dapat melihat dengan jelas wajahnya. Hanya terlihat gelap, namun entah mengapa saya merasa sosok itu melihat tajam kearah saya, saya terpaku dalam usaha melihat lebih jelas kearah wajahnya, dan perlahan-lahan sosok itu seperti melayang semakin mendekati saya, sampai beberapa jenak kemudian... srrooottt.... saya terkaget sendiri dengan suara air bercampur udara dalam aqua gelas yang saya pegang, yang habis saya minum melalui sedotan kecil.. saya seperti bangun dari hipnotis, seperti baru tersadar, dan saya lihat sosok itu kembali ke tempatnya semula, berdiri di pinggir jalan...

Kisah nyata ini saya alami pada tahun 1998, bulan dan tanggalnya saya sudah tidak ingat lagi. Kisah ini mirip dengan peristiwa yang saya alami pada cerita “Wanita Berpayung Merah”. Saya juga sudah tidak ingat lagi peristiwa mana yang lebih dahulu terjadi, peristiwa yang akan saya ceritakan ini ataukah wanita berpayung merah yang sudah saya ceritakan lebih dahulu.

Malam itu, seperti biasa, saya kembali membantu Bapak Velmer Moningka menyelesaikan pekerjaan beliau di Seksi Perbendaharaan 1. Selain dapat makanan gratis dan tambahan uang jajan, saya juga mendapat pengalaman penyelesaian pekerjaan pada Seksi Perbendaharaan. Selepas kuliah D3 Perbendaharaan Negara pada tahun 1997, lalu ditugaskan pada KPKN Ternate pada akhir tahun 1997, tentu saya belum punya pengalaman bekerja, sehingga membantu Bapak Velmer di Seksi Perbendaharaan 1 pada awal-awal bekerja menjadi tambahan ilmu dan pengalaman bagi saya.

Jam di dinding telah menunjukkan pukul 02.30 dini hari, hujan pun telah mereda, menyisakan gerimis dan angin yang bertiup pelan. Mungkin pembaca teringat cerita yang lalu, 2 kisah yang telah lebih dahulu saya ceritakan, suasana yang sama, gerimis, entahlah.. saya juga heran, beberapa kali ketika saya melihat “penampakan” dalam suasana yang sama, dini hari dan kondisi cuaca gerimis.

“Sudah Mas, hari ini cukup, besok kita lanjut lagi” kata Pak Velmer.

Kami pun segera merapikan berkas, mematikan lampu dan mengunci ruangan Seksi Perbendaharaan 1. Dreenng, dengg, dengg... suara khas knalpot Vespa PX 150 telah memecah kesunyian, Pak Velmer dengan Vespa biru mudanya telah meluncur meninggalkan KPKN Ternate, tinggallah saya sendirian di halaman kantor yang sepi.

Saya berjalan menyeberangi lapangan badminton untuk menuju bangunan lantai 3 tempat saya dan beberapa teman lainnya tinggal. Tiba-tiba bulu kuduk saya berdiri, badan merinding.. hadeh.. ada apa ini. Sejenak saya ragu untuk meneruskan langkah, karena untuk menuju lantai 3, saya harus melalui tangga pada lantai 1 dan 2, dan ini yang seringkali (meskipun tidak selalu) membuat saya tiba-tiba merinding dan merasa ada kehadiran makhluk astral di sekitar, seperti yang saat ini saya rasakan. Tapi kalau saya tidak naik ke atas ke lantai 3, akan kemana saya istirahat?. Menunggu sampai pagi di ruangan kantor juga bukan pilihan yang lebih baik.

Akhirnya, saya beranikan diri untuk tetap melanjutkan langkah menuju lantai 3. Menapaki anak tangga demi anak tangga lantai 1 dan 2, saya lalui dengan rapalan mantra-mantra do’a. Lolongan anjing liar di luar sana, semakin membuat ciut hati saya. Saya berdo’a kepada yang Maha Kuasa, meminta perlindungan agar selamat, dan kalaupun saya harus menjumpai penampakan, tolong Ya Allah, jangan yang seram-seram, dan jangan yang mengagetkan, bathin saya memohon.

Dan alhamdulillah, saya sampai di lantai 3 dengan selamat, dan tanpa menjumpai penampakan yang aneh-aneh di tangga gedung. Sampai di lantai 3 hati saya tenang, badan yang merinding sudah kembali normal, saya minum kembali aqua gelas di tangan yang saya bawa dari tadi, saya tidak langsung masuk kamar, saya mendekat ke jendela untuk melihat suasana Kota Ternate sembari menghabiskan aqua gelas saya. Hujan gerimis masih turun mengguyur Kota Ternate, suasana sejuk menambah keinginan untuk memeluk guling secepatnya.

Keinginan memeluk guling secepatnya terusik, ketika pandangan saya menangkap sosok yang berdiri di atas trotoar di pinggir jalan. Dia berdiri di trotoar depan Kantor Kota Administratif Ternate persis diseberang KPKN Ternate. Pakaian yang dikenakannya seperti jubah hakim, hitam panjang dengan corak putih ditengah dari leher hingga diatas pusar.


(Ilustrasi, sumber : https://diarywardah.blogspot.co.id/2016/08/payung-hitam-air-mata.html)

Sosok yang mengenakan pakaian jubah hakim itu berdiri di trotoar seberang jalan, dengan payung hitam yang menutupi wajahnya, keremangan cahaya serta gerimis hujan, membuat saya tidak dapat melihat dengan jelas wajahnya. Hanya terlihat gelap, namun entah mengapa saya merasa sosok itu melihat tajam kearah saya, saya terpaku dalam usaha melihat lebih jelas kearah wajahnya, dan perlahan-lahan sosok itu seperti melayang semakin mendekati saya, sampai beberapa jenak kemudian... srrooottt.... saya terkaget sendiri dengan suara air bercampur udara dalam aqua gelas yang saya pegang, yang habis saya minum melalui sedotan kecil.. saya seperti bangun dari hipnotis, seperti baru tersadar, dan saya lihat sosok itu kembali ke tempatnya semula, berdiri di pinggir jalan...

“Ru... Heru...” saya memanggil teman sebelah kamar yang tentu saja sedang tidur nyenyak.

Karena tidak ada jawaban dari Heru, saya balik badan dan menggedor-gedor pintu kamar Heru yang terkunci.

“Hmm.. eh, ada apa..?” kata Heru dari dalam.

“Bangun, ini ada orang di bawah..” jawab saya sembari kembali balik badan dan menuju jendela lantai 3.

Namun, saat saya sampai di pinggir jendela, tak saya jumpai lagi sosok itu, Heru yang menyusul saya melihat ke luar melalui jendela beberapa detik kemudian, juga tidak melihat sosok yang saya ceritakan. Saya jadi merasa bersalah telah mengganggu tidur Heru. Tapi beberapa waktu lalu sosok itu benar-benar terlihat jelas, nyata, oleh mata saya. Maafkan saya, Ru.. bathin saya.



*Heru Susilo, kabar terakhir bertugas di KPPN Manokwari, andai kamu baca tulisan ini, masih ingatkah kamu Ru..?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....

Siapa Sih Ini

  by Ash Beige Baby Lo pernah ngga sih, ngerasa lo jadi orang yang beda di setiap tempat? Kayak… di satu circle lo jadi versi yang ini, di tempat lain lo jadi versi yang lain lagi, dan anehnya… semuanya terasa “lo” tapi, bukan juga Gue ngalamin itu setahun terakhir. Dan jujur, capek banget. Karena setiap hari gue harus “jadi sesuatu”, Sampai di satu titik gue mulai nanya ke diri gue sendiri: Gue ini sebenarnya apa? ..atau siapa, sih? Am I even… real? Rasanya kaya gue terlalu bisa menyesuaikan diri  sampai akhirnya kehilangan bentuk asli  Terus di tengah kekacauan itu, gue ketemu satu “tempat”. Atau mungkin… satu orang  Yang bikin gue ngerasa, “oh… ini gue.” Ngga perlu adjust  dan mikir harus jadi siapa. Ngga perlu takut di judge juga Dan jujur  rasanya kayak nemu pulau yang nyaman ditengah badai lautan Padahal tujuan gue dermaga dan daratan pulau Jawa Sementara itu pulau berkeliaran serial killer  Tahu bagian paling bahayanya? Waktu lo lagi lost banget...