Postingan

Morning

It all starts with a "Hello" Then comes a cup of coffee Then comes other cups of coffee Suddenly comes milk and tea Then a ride and a walk Then one goes to a barbershop Then one does house chores Then ones having breakfast Then ones exercising Then ones are talking Then ones are listening Then ones are thinking Then one says, "What?" Then one says, "This" Then one says, "Why?" Then one says, "Because" Then one says, "How?" Then one says, "Look" Then ones got confused Then ones are upset Then ones are interested Then ones are nodding Then ones are smiling Then ones are giggling It all starts with a "good morning" But usually it all ends in laughter NB: Tulisan ini terinspirasi percakapan di pagi hari

Sepi

Sepi tak berarti kosong Sepi tak bermakna sunyi Sepi adalah rehat Sepi adalah ruang Di antara makna Satu sama lain Sepi adalah indah Lihatlah bunga merekah Dalam sepi semalam Sepi adalah kasih Lihatlah nelayan menangkap ikan Kala kita masih terlelap Sepi adalah pertaruhan nasib Lihatlah siswa di ruang ujian Sepi adalah tanda keahlian Lihatlah dokter di kamar operasi Sepi adalah bahasa hati Ketika tak ada lagi yang dapat diungkapkan Biarlah sepi menunjukkan Siapa kawan kita dalam kesunyian NB: Tulisan ini terinspirasi komentar seorang rekan mengenai sepi

Penasihat Yang Bertebaran

"Bu, ke pasar dulu ya," pamit pak Hasan, penjual jus buah di sekitar kantorku yang nampak terburu-buru, khawatir perjalanannya dikalahkan cepat oleh semburat sinar pagi yang lebih dulu menyelimuti pasar, tempat sang bapak biasa membeli buah-buahan. "Hati-hati ya, pak," jawab istrinya singkat sampai-sampai menitipkan kalimat penyemangat pun tak sempat lagi. Tapi sang bapak tahu, pesan singkat itu membawa sirat sebagai penyemangat di setiap mengawali hari-hari nya. Ini dialog rutin yang sempat terbayang olehku, sepasang insan yang harus mengawali hari-hari menjemput rizqi-Nya dengan cara yang berbeda dari kebanyakan orang. Mereka adalah pejuang yang lebih dini harus mengalahkan rasa kantuk dan capeknya. Mereka harus berpeluh keringat lebih awal dari kebanyakan orang yang masih belum mau kehilangan kehangatan tidurnya. Tentu bukan hal yang ringan. Pak Hasan dan istrinya, sepasang sosok bersahaja, sudah beberapa tahun ini jualan jus di depan masjid belakang kantorku. M...

Kisah Iteung, Episode Cantik

"Ibu Cantik, nasinya cukup?" tanya Ibu Kantin sambil menyodorkan piring yang terisi penuh nasi. "Nggak salah nih, Iteung dipanggil cantik?" hati Iteung setengah percaya setengah nggak. Ah, sepertinya cuma ilusi aja deh, saking Iteung ngarep dibilang cantik sama orang lain. Selama ini bisa dihitung jari orang yang muji Iteung. Jari jempol aja yang keitung. Satu-satunya orang yang pernah bilang Iteung cantik cuma si Akang. Itupun setelah Iteung acungin palu ke mukanya Akang. "Ibu Cantik!" suara cempreng ibu Kantin mengagetkan Iteung. Berarti bener kan, Iteung dibilang cantik. Nambah satu jari deh orang yang bilang Iteung cantik. "Tuh Kang, bener kan Iteung cantik," hati Iteung langsung bersenandung lagunya Kahitna. Ngebayangin Mario Kahitna nyanyi lagu "Cantik" sambil ngasih bunga ke Iteung, bikin Iteung senyum-senyum sendiri. Iteungnya malu-malu sambil muterin badan ke kiri dan kanan. Serasa jadi ABG. "Bu Cantiiiiik!" ter...

GEMESS (Garing mak kress) : Menuliskan Ide

Supangat sedang giat-giatnya belajar menjadi seorang penulis. Impiannya sejak kecil memang ingin menjadi penulis hebat. Namun karena kesibukan mengejar karir sebagai birokrat, baru akhir-akhir ini dia bisa meluangkan waktunya untuk kembali menekuni dunia tulis menulis. Demi meningkatkan kualitas tulisannya, Supangat juga tak segan untuk mengikuti berbagai pelatihan menulis dari banyak narasumber. Hingga suatu hari, tanpa diduga di kantor Supangat diadakan pelatihan menulis untuk pegawai yang memang memiliki semangat tinggi untuk membuat karya dari goresan pena (meskipun kini sudah beralih ke keyboard komputer) Mendengar info tersebut Supangat begitu bersemangat. Tak berpikir dua kali dia langsung menghubungi panitia untuk mendaftar menjadi peserta. Apalagi pembicaranya kali ini adalah seorang penulis yang sudah cukup punya nama. Singkat cerita, hari itu tiba, Supangat yang sedari rumah sudah berbunga-bunga, segera mengambil bangku terdepan supaya lebih serius menyimak seluruh is...

CURCOL SI AKI (Episode II : Hari yang Melelahkan... )

Hari yang melelahkan..... Pukul 08.30 kami sampai di insitusi penegak hukum. Berarti masih ada waktu setengah jam untuk bersiap-siap karena dalam surat panggilan yang diterima, pemeriksaan akan dilakukan pada pukul 09.00.  Pak Arham melakukan koordinasi dengan petugas penerima tamu sementara kami menunggu di ruang tunggu. Aku melihat ke sekelilingku. Kulihat banyak juga orang-orang yang sering kulihat di televisi sedang duduk menunggu pemeriksaan.. Ada mantan menteri, ada pejabat publik aktif, ada juga pengusaha terkenal. Kelihatannya korupsi di negeri ini telah merambah ke segala penjuru. Semoga saja mereka hanya sebagai saksi yang tidak terlibat dalam kejahatan kerah putih ini.  Tiba saatnya giliran kami untuk diperiksa. Semua peralatan komunikasi diminta dimasukkan ke dalam locker yang telah disediakan dan selanjutnya kami menuju ruang pemeriksaan. Ruang pemeriksaan yang cukup kecil menjadi terasa semakin sempit ketika kami berempat  masuk ke dalamnya. Ruang itu h...

Gerimis Menangis

Bocah kurus yang beringus Melangkah terus menenteng kardus Wajah tirus menatap lurus Terberangus raga tak terurus Wanita menjelang senja Bergaya layaknya remaja Terlupa mahligai keluarga Terbawa pesona pemuda Lelaki berkumis yang tak lagi klimis Hati miris ucap tak digubris Kekasih manis beri luka mengiris Mimpi dikais di ujung gerimis Edisi bengong dalam bus jurusan Senen-Cimone yang ngetem