Postingan

Anakku mengira demokrasi

Anakku mengira Demokrasi sekedar ritual Lima tahunan, saat pintu pintu diketuk bergiliran Bagai sinterklas, ada yang membagi dua puluh tiga puluh ribuan ongkos menghapal gambar dan nama,  dan menyoblosnya dikotak suara Anakku mengira demokrasi adalah sekedar mencelup jari di kotak tinta, pertanda tertunai hak suara,  berbangga menjadi pewarta yang berlomba  mengabarkannya ke seluruh penjuru dunia, "ini jariku,  mana jarimu" Anakku mengira demokrasi Adalah sekedar memelihara kesabaran lima tahun menikmati, Hilir mudik para tokoh di kertas suara Memenuhi panggung panggung berita Tentang kegemaran mereka berujar,  hianati nalar, tapi tak tertawar, bertitah seolah atas nama buku dan ilmu, tapi peragu mengacungkan telunjuk mencela Tanpa berkaca, dan menulis  fatwa tanpa membaca, Anakku mengira, Demokrasi,  adalah sekedar kebebasan tanpa tepi, Menafsir kitab suci untuk memaki,  Penghalalan  aib kawan sendiri, Me...

Bukan Puisi atau Misteri

Gambar
Assalamualaikum wr. wb. Saya ingin membagi pengamalan saya, yang hampir tertipu, semoga dengan membaca cerita ini pembaca tidak tertipu dengan orang yang menggunakan modus ini. Pada hari Rabu pagi tanggal 15/08/2018, saya di telpon orang yang mengaku bernama Joko Susilo (selanjutnya akan disebut Jolo), -kalau nelpon pakai nomor HP 081294085309- yang berencana akan menyewa mobil berikut supir untuk keperluan liburan di Puncak Bogor selama 5 hari, terhitung tanggal 20 s/d 24 Agustus 2018. Singkat cerita setelah tawar menawar, tercapai kesepatan harga, dan lewat telpon Jolo mengatakan akan memberikan uang muka/DP, padahal saya tidak meminta. Jujur saya sempat kagum plus sedikit heran, saya gak minta DP tapi dia yang duluan bilang akan memberi DP. Siang sekitar jam 11.40, lewat whatsapp (wa), -kalau wa pakai nomor HP 085697161168- Jolo memberikan foto KTP, hal ini juga membuat saya heran, toh saya nggak minta foto KTP. Ini KTP yang dia berikan, tapi sudah pasti bukan KTP dia s...

Berawal dari Yang Terkecil

"Klontaang!" suara mainan plastik tak sengaja terkena langkah kakiku hingga terpelanting cukup jauh. "Tuh kan, rumah sudah berantakan banget Mas, sudah waktunya beberes," ujar istriku beberapa detik setelahnya. "Aduh, capek ini mau ngapa-ngapain, besok-besok aja lah kalau udah gak males," jawabku sembari menyembunyikan mainan plastik tadi ke kardus di atas meja. "Ah, kamu sih tiap hari juga males," sergah istriku. "Hehe, lagian kita masih bisa tidur kan, jadi belum berantakan-berantakan banget lah," timpalku sambil nyengir. Istriku hanya bisa mengakhiri percakapan saat itu dengan menghela nafas dan sedikit bersungut. *** seminggu kemudian *** "Mas, si Tyas nanti mau ke sini, dia mau minta diantar lihat kontrakan di sekitar sini," istriku membuka minggu pagi dengan breaking news yang cukup mengagetkan. Tyas adalah teman kantor istriku yang berstatus calon pengantin yang ...

Dua Pria Dalam Group WA

Dua pria dalam group wa,  Piawai bermain drama  Mengaduk benak para anggota Satu berujar, Satu mengejar  Seakan takkan pernah irama sejajar, Bagai penonton misbar,  Semua tersihir mengelar tikar,  Menunggu cerita kelar  Di dunia nyata mereka berdua geli sendiri,  Seiring sejalan dalam group lari,  Yang terbaca membully,  Sebenarnya memuji  Di dunia nyata mereka berdua tertawa  Beradu kayuh dalam group sepeda  Yang terbaca mencela,  Sebenarnya puji dan puja  Didunia nyata mereka berdua terbahak,  Tahunan bersama dalam kerja satu tapak,  Saling mengenal bahkan aroma ketiak,  Serius nampak bercanda,  Becanda nampak serius,  Takkan terelak              Sutikno Slamet, 1 Agustus 2018

Menjaga Kewarasan

Gambar
M ari kawan,  kalau kepala sudah terasa berat, Ide ide terasa mampat,  ambil kursi sebelah sini  kita perlu berbincang atau berdendang,  Menyeduh kopi atau berpuisi  siasat kita menjaga kewarasan  Tubuh tubuh kita telah seharian demi seharian, melangkah pergi pagi dalam lintasan mampat minim celah, berdiam terperangkap dalam kubikel ruang dan aturan, disergap kebosanan dan rasa resah, beranjak pulang dalam raga yang lelah  hilang arah sudah Antara pilihan atau keterpaksaan, Antara pengabdian atau pemenuhan kebutuhan   Atau semuanya Lupakan sejenak tentang berkas dan surat, disposisi atau rapat, karena bisa jadi smua tak berhenti bahkan saat organisasi sekarat Mari kawan, Kalau kepala sudah terasa berat,  Ide ide terasa mampat Kita harus tetap Waras  Sutikno Slamet, 31 Juli 2018

Hari ini, Kita Telah sampai

D ik, Hari ini kita telah Sampai Pada zaman Dimana Feodalisme beralih rupa Dari warna darah menjadi ijazah Kasta tertinggi adalah mereka yang sekolah di negeri antah berantah Seolah semua persoalan bisa diselesaikan dengan perbendaharaan kata kata yang susah, Terus belajarlah, sebelum usia membuat kamu harus menyerah... Dik, kita sampai juga pada zaman Dimana emansipasi beralih rupa, Dari kesetaraan menjadi sama, Ada yang menjatah kursi birokrasi sepertiga untuk wanita, Sebagian mereka bersorak gembira, Sebagian terhina, seolah tanpa itu mereka tak bisa setara pria Maka teruslah berkarya, tak perlu jadi lucinta luna kedua Dik, kita sampai juga pada zaman dimana kepahlawanan beralih rupa, Bukan yang ikhlas menebar jasa tetapi yang banyak membangun citra Akan banyak duryudana nampak yudistira, Dorna nampak krisna, Bahkan penjahat nampak ulama Bersabarlah... Karena pada setiap zaman akan ada pahlawannya, setiap pahlawan ada zamannya  Cakung, Juli 2018

Diman 2018,

Perbincangan kita karena iba saja kata kata berhamburan di udara  Buatmu sarat makna, Buatku tiada  Sekian waktu,  Aku sabar menahan jemu,  Kita dua orang yang sama sama berlari,  Kau menujuku, Aku menjauhimu  Entah, Bagaimana lagi aku memberimu jawaban, Kusamarkan isyarat tak terlihat  Keterusterangan kau anggap banyolan  Cakung, Juli 2018