Postingan

DOA

Bahkan ayam belum terjaga Saat kubisikkan lirih pada-NYA "Ya Allah, jadikanlah kebaikan atas diriku, hilangkanlah sifat malas, dzalim, tamak, pelit, iri dan dengki dari hatiku" ... Saat kurebahkan tubuh penatku, menanti saat paling mustajab. "Dengan nama-Mu Ya Allah, aku hidup, dan dengan nama-Mu aku mati" Lalu dengan lirih kubisikkan lagi "Ya Allah, aku gagal lagi hari ini" Jakarta, 30072019

Pulang

Gambar
Tunggu aku sayang Ku kan pulang dari berjuang Melewati segala aral melintang Berdiri tegap senyum mengembang Peluh penat yang mendekap erat Tercerai berai oleh tekad yang kuat Teriring doa yang terpanjat Dan keyakinan yang melekat Tertunaikan sudah kewajiban Menjadikan amanah tidak sebagai beban Seperti Sandya Kala yang menerima titah Tuhan Ia tak mengeluh dalam sedu sedan Ini aku sayang pulang dengan senyum mengembang Saat kau sambut dengan riang Menjadi kekuatan yang tak terbilang Terimakasih sayang Ini aku, pulang!

Deed and Intention

Gambar
Catatan di blog tahun 2014.  Once talking about good deed which we believe leading to reward from God, no one shall be proud nor fully knows how much reward from good deed they do, thus no one knows how much she/he has "saved" for the hereafter. We, as a human being, lack of knowledge to count or to cheat what have been written by Rakib and Atid. Eventhough someone has given all her/his wealth in Allah way, she/he cannot make sure that the good thing done is counted as we thought it to be.Yes, positive thinking is great, yet at the other side we have to realize; we don't really know whether our deed is accepted or not. That is why we are warned about "keeping intention". A good moslem actually is required do good deeds for the sake of Allah; not only at the beginning but also in the further. We are banned to do good deeds for our pride, nor to show others that we are good moslem. Then why our intention becomes important to notice. Could we ...

Andai Mereka Tahu...

“Aku harus bayar kos, pak. Setahun langsung!” dengan wajah ketus dan suara tegas Tika menyodorkan pesan di ponselnya kepadaku. “Berapa?” aku bertanya sambil menahan batuk. Seminggu ini aku terserang batuk yang agak mengganggu aktivitasku. Mungkin karena sering sekali aku terpapar angin malam. “Empat juta.” Mendengar jumlah yang disebutkan Tika,   peluh membasahi sekujur tubuhku. Jumlah yang sangat banyak untukku. Agar bisa   mendapatkan uang sebanyak itu aku harus narik ojek selama empat puluh hari nonstop. Saat ini, belakangan ini order ojek yang masuk ke ponselku   minim karena aku agak sulit bersaing dengan para pengemudi ojek online yang masih muda dan lebih lincah. Aku juga sering terserang penyakit kalau kelamaan narik. Di sisi lain, rasanya tak mungkinlah aku   menolak keinginan anakku sendiri. Akulah yang meminta Tika untuk meneruskan kuliah. Aku tak ingin anak-anakku bernasib sepertiku yang tak pernah memegang uang lebih karena sebagian besar...

Pesona Separo Agama

Sore itu Yogya diguyur hujan deras. Langit begitu pekat dengan gelap, padahal baru setengah jam yang lalu adzan Ashar berkumandang. Sekalipun jalanan terendam hingga betis, pengendara yang melintas masih saja ramai. Mobil dan motor silih-berganti menepi, ada yang menurunkan penumpang, ada pula yang menunggu penumpang. Di kejauhan terlihat segerombolan anak kecil, mungkin sekitar 6 hingga 7 anak, berebut menjajakan payung di pintu masuk selatan Stasiun Tugu Yogyakarta. Tampaknya mereka acuh saja dengan suara gemuruh dan kilat yang membelah langit. Tertawa, menendang air, seakan dunia hanyalah tempat bermain. Di lobi penjemputan, Izzam duduk termenung menatap kosong ratusan rintik yang menghujani bumi. Pikirannya kalut, hatinya gundah. Seharusnya Ia bahagia, karena sekali lagi diberi kesempatan “pulang” ke Jogja. Namun sayang, tampaknya kejadian di Bogor beberapa hari lalu begitu membebani dirinya. Telepon pintarnya bergetar, terlihat whatsapp dari seseorang, “Zam, lagi senggang kah? M...

Terasing

Sejak saat itu, bara api dibenam, dalam gemerlap badan terlilit seragam Letup nyalanya makin pupus, meredup dalam perangkap pilihan akan status Makin hari, makin fasih kita dalam basa basi, Sungkan dan enggan berkata seadanya, Kita menjadi kumpulan pemusik orchestra, memainkan  riuh rendah nada berdasarkan aba Langkah langkah, kerap abai pada nalar dan benar, pikir makin jenak  pada pola pola standar, sama berarti benar, berbeda dimaknai kesasar Sejak saat itu Bertahun tahun lalu, Kita telah rela untuk tak merdeka Sepenuh penuhnya, meski mengerti Kita akan sampai pada hari ini Waktu di mana kita menjadi terasing bahkan dari diri sendiri (Gedung Sutikno Slamet , 22 Mei 2019)

John Wick Parabellum: Ketika Assassin Berpencak Silat

Gambar
Assassin. Beberapa orang memaknainya sebagai tentara bayaran. Orang lain memaknainya sebagai pengikut Bani Hassan (Hassassin). Ada juga yang berspekulasi mengartikannya sebagai penghirup hashish (hashishiyn). Ini juga harus dibedakan dengan istilah “shisha”, pipa uap air beraroma permen karet, stroberi dan lain-lain. Tapi entah kenapa istilah assassin lebih populer di dunia video game, contohnya Assassin Creed, dimana tokohnya adalah seorang pangeran dari Persia. Dan sebagainya, dan sebagainya, tergantung dari mana sumber referensi kita. Nah di sini kita akan membahas seorang mantan assassin (tokoh fiksi tentunya) yang diserbu koleganya sesama assasin dari penjuru dunia demi hadiah USD 14 juta dollar. Manusia malang ini bernama John Wick.  Bercerita tentang film, sebenarnya saya ragu bila tulisan ini bisa menjadi review yang baik atau malah menjadi spoiler. Sebab, kalau hanya berkata bagus tanpa spesifik menunjukkan bagusnya di mana, lantas apa bedanya tulisan ini de...