Postingan

Pejuang Kehidupan

Apakah yang kamu cari hai para pejuang kehidupan? Berangkat ketika sang Surya masih terlelap, Pulang ketika bintang-bintang bersenda gurau dengan sang bulan. Apakah yang kamu cari hai para pahlawan keluarga? Bertaruh nyawa menyeberangi lautan, Demi sang buah hati dan bundanya terkasih ujarmu. Apakah yang kamu cari hai pembela kekasih hati? Meninggalkan sang terkasih di kala sang surya bersinar tuk sesaat berjumpa di peraduan. Berbulan terpisah samudra tuk sepekan melepas rindu. Sepiring nasi dan segenggam berlian kah yang kau cari? Adakah suka kau jumpai dalam kilau gemerlap intan permata di telapak tanganmu? -satu jam menuju rumah di kala hujan- 222617012019

Catatan Kecil 2019

I. Alam dan Waktu Senja Tidak seperti pagi yg datang dengan riang untuk kemudian menghamburkan terang lalu ditinggalkan orang, senja pergi menghilang dengan muram, berlalu menyisakan remang untuk kemudian dirindukan. Jumat Ketika senin sampai kamis seperti mengajak berlari, jumat menjadi semacam pertanda bahwa rest area sudah di depan mata. Mereka yg seperti itu, banyak mengucap terima kasih hari ini. Menunggunya Bagaimana pagi mengerti tentang malam sedang ia lahir dari benderang? Ah.. Biar senja saja nanti yg menjawabnya. Malam Gelap yg datang melucuti keramaian, menyusupkan sepi ke dahan-dahan dan jalan. Anehnya ketika sepi lalu mulai tumbuh dan merambat dimana-dimana, suara-suara lebih mudah menunjukkan dirinya. Sepi yg dibawanya hanya menjadi panggung dari keramaian yg semula hendak dilucutinya. Sabtu Kegembiraan akan kehadirannya ditelikung oleh jumat sore dan ketika ia berlalu rindu padanya tertutup oleh Minggu. Sunset Di kejauhan. Dalam remang namun indah dipa...

Tunggu pembalasan gue ya pak boss ...

Salimah & Halimah

Salimah, seorang wanita berusia lima puluh sedang mengaduk nasi yang baru tanak. Setiap mencuci beras dilantunkannya shalawat berharap berkah pada makanan untuk keluarganya. Sebelumnya, ia telah menyapu halaman bakda subuh, yang disusul dengan memasukkan air yang telah masak ke dalam termos.  Ia kini membuka tutup panci dan mulai mengupas telur ayam kampung yang telah direbusnya. Setelah telur terkupas tuntas, ia menumis sawi dan tahu. Dikerjakan semua dengan telaten dan ringan hati. Sampai sebuah suara dari ruang tamu menjeda kegiatannya. “ Kupi mana kupii...” “Iye Beh.. bentar ye” sahutnya Salimah. “Lama amat, dah sepet mulut!” Segera disiapkannya kopi untuk Babeh Rali, suaminya. Pintu ruang tamu terbuka tiba-tiba. Tanpa salam, Halimah datang sambil merengut.  “Kenape muke kusut bener?”  Tanya babeh kepadanya. “Mahal Beh apa-apa sekarang”  , ujarnya sambil diletakkannya plastik berisi belanjaan ke meja. Halimah, wanita kedua di rumah itu terl...

Rindu

Aku didiami rindu, rinduku...dia baru saja hadir, tetapi sudah sedemikian sombongnya berdiri dengan sedikit mengangkangkan kaki, melipat tangannya di dada seperti centeng di pasar pagi, modal gertak. kusiram air tak hanyut, kuberi api tak terbakar, kulumuri ikan asin biar dibawa kucing jalanan, kucing sial itu lebih tertarik bermain sapu ijuk, padahal kurus kering badannya akhirnya kuajak dia bicara baik-baik kubilang "kau terlarang", dia bergeming tersenyum sebelah bibirnya tertarik sedikit "terus kau mau apa?" katanya dengan suara berat dan mata setengah tertutup, sepertinya habis mabuk "aku mau kau pergi!" kataku keras, dihantamnya aku dengan belakang tangannya, aku langsung pingsan, yang kuingat terakhir ada beberapa batu akik besar di tangan kanannya, tapi sepertinya tadi tangan kiri...

Kemarin

kemarin itu.... mengapa tidak kita berbicara mata ke mata sehingga bahasa hati tidak tersamarkan atau adakah yg engkau sembunyikan sehingga aku tak (boleh) tahu? jika tidak ada yg disembunyikan tidak bisakah aku mendapat kehormatan untuk melihat matamu ketika berbicara

CaLisTung (Yang Tersisa Dari Pendidikan Kita)

“Pendidikan itu (seharusnya) memanusiakan manusia” – Tan Malaka Kemacetan lalu lintas sudah sangat akrab bagi sebagian besar orang-orang yang tinggal di Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek). Pertukaran arus manusia terjadi setiap hari, dari mulai pagi buta sampai dengan tengah malam. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurai masalah kemacetan ini tapi sepertinya belum menunjukkan hasil yang signifikan. Sebagai seorang pekerja yang tinggal di pinggiran Jakarta, saya pun terbiasa dengan situasi ini. Waktu tempuh 1 - 1.5 sampai dengan 2 jam untuk  jarak 25 km menjadi ukuran normal untuk mengatakan “lumayan lancar”. Lalu lintas macet adalah ketika waktu tempuh menjadi lebih dari 2 jam, lucu bukan?. Untuk menghindari kemacetan, saya lebih memilih untuk bersepeda (meskipun tidak setiap hari) ke kantor daripada menggunakan angkutan umum. Buat saya, menggunakan angkutan umum adalah tidak ekonomis dan mengharuskan saya untuk berangkat lebih pagi. Lokasi rumah yang lum...