Postingan

Ayat Tanpa Huruf, Tanpa Harakat

Dalam mimpi ku menyelingar Terlahir sebagai pelukis langit Yang menjadikan awan sebagai kanvas Menggambar rasa pada setangkai mawar Kuntum, mekar, kembang, harum, semerbak, menguning, dan layu Kau, pun juga aku saling asing Bak bisu menyenandung sunyi Memilih lantai sebagai teman Menanam rasa hingga berkecambah Menguntum, menjadi sekelopak bunga Siang itu, pada temanku kau titipkan tanya Tentang satu jari yang menanti puan Yang membuat malamku seketika panjang, menduga-duga Kau kah si penanya? Ah Tuhan, Kau senang bercanda Lama sekali kuntum menjadi mekar Hingga suatu senja di penghujung tahun Tatkala kudapati jawabmu di dermaga Saat ku tanya mengapa Aku sudah menantimu selama ini Hari berlalu berganti minggu Minggu perlahan bertukar bulan Mekarnya mawar indah mengembang Lamat-lamat kuamati cincin di jemari Inikah makhluk yang dicipta langit dari rusuk ku? Kini, perahu penantian perlahan menambat Pada sebuah dermaga suci bernama sakinah Berkata tetua, ru...

Satu Dasawarsa

Takbir Kemenangan

Gambar
Photo: @qbayyinah Tiada yang lebih indah Selain lantunan Takbir kemenangan Terucap dari lisan manusia beriman Yang hanya mengharap keridhoan Tuhan إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا "Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata." Tiada  yang lebih indah Selain sebuah pemandangan Bershaf-shaf umat dalam lautan barisan Menggemakan Takbir kemudian sujud dalam kekhusyukan Tiada yang lebih indah Dari lelahnya para juru dakwah Dibalasnya ia dengan pahala berlimpah Dan syurga yang dijaminkanNYA Tiada yang lebih pedih Dari letihnya para penebar kebathilan Tersia-sia atas segala perbuatan Untuk memadamkan cahaya Islam وَٱلَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا وَلِقَآءِ ٱلْءَاخِرَةِ حَبِطَتْ أَعْمَٰلُهُمْۚ هَلْ يُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ "Dan orang-orang yang mendustakan tanda-tanda (kekuasaan) Kami dan (mendustakan) adanya pertemuan akhirat, sia-sialah amal mereka. Mereka diberi balasan sesuai dengan apa yang telah m...

Kelak kita akan ditanya

K elak ada masa semua khusuk Mulut tercekat lidah terkunci Nikmat karunia yang dulu tereguk Lahirkan tanya  bertubi tubi Empat perkara semasa di dunia Menuntut jawab tanpa tersisa Tak sempat  bergeser kaki kemana Berdiam memaku, lelah tersiksa Tentang  usia yang dijalani, Bermula lahir berakhir mati Kelak  ditanya tingkah badani Pada bilangan waktu yang terlewati Tentang ilmu yang dimiliki Buah pencarian sepanjang hayat Kelak ditanya apakah berarti Memandu hidup lebih manfaat Tentang harta yang dipunya beragam jumlah dan juga rupa Semua sama akan ditanya dari mana muasal dan untuk apa Tentang jasad yang melekat menjadi merenta selepas muda Sejauh mana telah diperbuat Sebelum ringkihnya tua jadi pembeda cerita dieja berulang ulang Pengingat diri yang sering hilaf Jika pantun  dirasa  lancang Ijinkan diri memohon maaf Ujung Harapan, 22 Juli 2020, 23.33 WIB

Comet Neowise: 7 Millennia Visit

Gambar
Once every 6766 years, a 3 miles giant snowball with blueish ion tail passing us by in silence ... The name is Neowise. Lives longer than me, Longer than you. Older than the Earth. Has been traveling around for 4,6 billion years. Where have you been? Where did you come from? Where would you go? Would you take me home?  Dear Neowise, Should I wait for another 7 millennia? Note: Berita Antara ( Link ) “Lapan: Saksikan Komet Neowise melintas terdekat ke Bumi pada 23 Juli” Photo Credit :  1) Wikipedia (Wikimedia Common) Link 2) NASA/Johns Hopkins APL/Naval Research Lab/Parker Solar Probe/Brendan Gallagher ( https://svs.gsfc.nasa.gov/13661 )

SUDAH JULI

Baskom hijau tengadah di bawah atap temaram, Setia mendoa hujan bulan Juni membasuhi, Meski sudah bulan Juli, Menadah air yang mencintai dengan sederhana, Basah sebelum sempat menyeka, Kering tanpa pernah mengusap, Menahan tumpah, dari deras awan yang mencair, Didera dingin yang tak membawakan jaket tebal, Hanya helai kain putih tiga lapisan, Hujanmu kini sudah terhenti, namun terus saja merinai, di sela-sela hujan kami, Melapisi dinding baskom dengan kerak sajak, Melekat abadi.

Mengenang Sapardi

Pada suatu hari nanti ketika jasadmu tak ada lagi Aku akan membaca kembali sajak-sajakmu dan merasakan bahwa yang fana adalah waktu Hanya kata-kata yang kulihat Tak ada gambarmu Tetapi di antara larik-larik itu Kurasakan tenang hadirmu Aku hanya ingin coba mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diungkapkan mentari senja kepada cakrawala yang menjadikannya sirna Dan akhirnya   tak ada yang lebih mengerti dari hujan bulan Juni Dibiarkannya kau mendapatinya kembali tahun ini Menabalkan ketabahan, kebijakan dan kearifannya   sebelum   melepas kepergianmu dengan rintik rindu, jejak kaki dan yang tak terucapkan BK,0720