Postingan

Tuhan Mengambil Dengan CaraNya

Satu per satu diambilNya Apa yang masih lekat dalam dirimu Semata karena kasih sayangNya Untuk orang yang merindu Beratmu akan terasa ringan Bila kau ikhlas melepaskannya Sadar semua hanya titipan Suatu saat diambil pemilikNya Milikmu bukanlah sepenuhnya punyamu Itu hanya rasa yang membelenggu Fikirmu dipengaruhi perasaanmu Jangan sampai semua itu mengganggu Lepaskan dengan ikhlas Pintu-pintu akan terbuka Aliran cahaya akan memancar Aliran ilmu juga terpancar Lepaskan dengan ikhlas Agar nol selalu mizanmu Neraca seimbang, alat ukur yang pas Adil dan bijak tidaklah semu Lepaskan dengan ikhlas Nuranimu akan berkata Hadapi semua tanpa was was Yakin dengan tuntunanNya Lepaskan dengan ikhlas Berdengung dalam dada bertalu-talu Melepas rasa yang membelenggu Butuh kesadaran dan perjuangan Lepaskan dengan ikhlas Terus ditanam dalam tindakan Bukan ucapan di bibir saja Semua harus dalam kenyataan Lepaskan dengan ikhlas Menjadi pondasi hati yang tenang Menerima ketentuan dan ketetapan Tanpa gejola...

DESIR

Berdesir pagi Membelaiku tertegun Menatap angka Terus bertambah Naik mendaki hari Tak kenal henti Beralih pandang Pada jalanan lengang Di waktu lapang Berjalan tenang Kerumunan terlarang Masker menggantang Di pekuburan Tukang gali merintih Peluhnya habis Di pertokoan Tukang peti mengeluh Kayunya tandas Di rumah sakit Tukang suntik menjerit Tak bisa minum Dibalut baju Putih tertutup rapat Masker menutup Di rumah sakit Tukang rawat meringis Tak bisa pipis Dibalut baju Putih tertutup rapat Masker menutup Di mana-mana Tukang bantah membebal Tak bisa mikir Di mana-mana Tukang ngeyel membandel Tak juga sadar Larisnya kafan Buah banyaknya dosa Sikap mereka -Ekpan-

30

Dahulu, seringkali ku bertanya pada sejawat, tentang ukiran rasa, pada permulaan lembaran bahtera rumah tangga. Bagaimana pernikahanmu? Seru! Pungkasmu. Tanpa memahami sejatinya, ku hanya mengangguk, tersenyum mengikuti sumringahmu. Dahulu, seringkali ku bertanya, apakah "seru" kita masih dalam satu makna, atau sudah berbeda warna? Beberapa tahun silam, seorang sahabat berkata ingin menikah, bagaimana pendapatmu? Saat itu Ia bahkan belum menyelesaikan studi. Menikah di umur 21 tahun, berprofesi sebagai pekerja keras. Ya, pekerja keras. Semua hal Ia lakukan, mulai dari imam masjid, guru ngaji, tukang fotokopi, hingga menjaja ikan. Bagaimana pernikahanmu? Semenjak pindah, malam ku tak pernah panjang. Bukan karena begadang, melainkan pada nyanyian pria-pria kesepian yang tak jauh dari kontrakan. Di malam yang lain, pernah juga ada pasangan muda-mudi bertengkar di tengah malam. Lagi-lagi di depan kontrakan. Saling maki dan berteriak. Dari jendela lantai 2 ku amati, satu per satu...

Aku Harus Bahagia

            “Wah alhamdulillah anaknya sehat,” ujar seorang tetangga yang datang menemuiku ketika aku baru saja pulang dari rumah sakit selepas melahirkan Sakina. “Alhamdulillah,” balasku dengan tersenyum Sebenarnya kalau aku ditanya terlebih dahulu sebelum ada orang yang ingin menjengukku dan Sakina, aku lebih memilih tak ada seorang pun yang mendatangiku. Apalagi kalau aku baru saja kembali dari rumah sakit. Aku letih. Seluruh badanku terasa pegal dan tak bertenaga. Aku malas sekali menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Terlebih apabila mereka menceritakan pengalamannya ketika melahirkan kepadaku. “ASI-nya lancar, Mbak?” tanya tetanggaku yang satunya lagi. “Belum keluar dari pertama lahiran. Sampai beberapa hari ini masih sedikit sekali air susu yang keluar.” Tanpa diminta, ibuku menjelaskan jawaban yang membuatku kesal. “Banyak makan daun katuk, Mbak! Terus jangan banyak berpikir yang enggak-enggak, nanti jatuhnya stres lho. Coba...

(H)Utang

  Suasana malam semakin hening. Hanya terdengar suara jangkrik yang terus bernyanyi di gelapnya malam Desa Kemuning. Aku menunggu kata pertama yang akan diucapkan oleh Mahmud, saudara sepupuku walaupun dalam hati aku sudah bisa menebak apa keperluan Mahmud mendatangi rumahku malam-malam begini. Upaya Mahmud membelah sepi dan gelapnya malam dari Desa Melati menuju Desa Kemuning adalah perjuangan yang lumayan berat. “Anak-anak sudah tidur?” tanya Mahmud berbasa-basi. Ia sudah tahu kalau isteri dan anak-anakku sudah tidur semua di jam seperti ini. “Sudah,” jawabku pendek. “Mau minum apa? Kopi, teh?” Aku mencoba menawarkan minuman sebagai basa-basi untuk kepantasan percakapan dengan tamu. “Nggak usah, Mas. Aku sudah ngopi tadi di rumah,” tolak Mahmud. “Tumben malam-malam ke sini. Ada apa, nih? Keluarga sehat, kan?” tanyaku lagi. “Alhamdulillah, sehat semuanya.” Mahmud terdiam. Pandangannya menerawang ke atas langit-langit rumah. Aku pun terdiam, menanti ucapan Mahmud sela...

R.I.N.D.U

  “ I miz u soo bad ”, ujarmu lalu memelukku erat. “ I miz u even more ,” aku melepas peluk lalu menatap wajahmu dalam. Ah, tak ada yang berubah, kecuali guratan halus yang samar terlihat di sekitar wajahmu. Lalu kita saling menatap dalam dengan senyum penuh kerinduan. Lagi-lagi, aku masih menemukan hal yang tak pernah berubah, pandangan sayangmu. “ How’s life ?”, keingintahuanmu terdengar jelas saat melontarkan tanya itu. “ Is everything alright? ”, tak sabar kau mengejarku lagi dengan pertanyaanmu, kali ini dengan nada khawatir yang kau coba sembunyikan. “Aku tau kau jawaban apa yang kau harapkan,” aku berujar dalam hati. Lalu aku mengangguk sambil tersenyum, “ Alhamdulillah, as you see, I’m pretty good” , aku berusaha keras menunjukkan raut bahagia di wajahku. “Owh, syukurlah. Be a good girl ya ,” kau mengusap lembut pipiku. Aku dapat merasakan betapa kau sangat merindukanku. “ A girl? ”, aku terbelalak, dan baru akan melanjutkan, “ I am not ... ” ketika kau dengan s...

MENGEREK BENDERA

Aku mengerek bendera, Naik menggapai atap dunia, Di balik silau sang surya, Diiringi lamat-lamat berita durja, Aku mengerek bendera, Meraih temali menyusuri tiang tinggi, Tercekat nada rintih air mata, Berkibar setengah lalu terhenti, Aku terus mengerek bendera, Memaksa sekuat daya, Acuhkan peluh tak reda, Turun gemericik seirama Indonesia Raya, Dua orang datang membawa seka, Berhitung satu, dua, tiga, Bersama mengantarkan sang saka, Melihat merdeka dari atas sana. Kami mengerek bendera. (Ekpan, 17 Agustus 2020)