Postingan

Yaa Rabbanaa

Code blue Code blue Ruang perawatan anak Seketika suara dari alat pengeras suara ruangan memecah kesunyian Para petugas medis berlarian menuju lokasi yang dituju Aku hanya terpaku menatap gerak langkah cepatnya Untaian doa melesat dari bibir, "semoga semua dalam keadaan baik-baik saja." Beberapa menit kemudian suasana kembali hening  Hingga terlihat kembali para petugas medis yang tadi berjalan bahkan berlari tergesa Aku memberanikan diri menanyakan apa yang terjadi kepada salah satu petugas medis Jawabnya, "satu pasien anak-anak yang sedang dalam perawatan tetiba berhenti detak jantungnya." Lemas kakiku Berdebar jantungku Tak kuasa ku menahan air mata Ya Rabbanaa....

Mimpi Buruk Karenina

  Fitra membuka sebuah amplop yang sedang dipegangnya. Matanya terpusat pada satu tulisan besar yang berada di tengah kertas. Kekesalan tergurat jelas di wajahnya. Kemudian kertas itu diremasnya. Tak ingin berlama-lama di bangunan sekolah bertingkat itu, Fitra melangkah keluar dari sekolah itu. Langkahnya cepat karena menahan kekesalan. Sesampainya di tempat parkir Fitra masuk ke dalam mobilnya. Ia tidak langsung menyalakan mesin mobilnya melainkan duduk di depan setir. Kemudian ia membuka tasnya dan mengambil ponsel. Dicarinya sekolah-sekolah dasar yang dipikirnya bisa mendaftarkan Karenina, anaknya. Sudah setengah jam lebih, Fitra berada di dalam mobilnya, namun belum ada satu pun sekolah yang menurutnya cocok untuk Karenina. Dari mulai waktu pendaftaran yang sudah selesai, lokasi yang jauh dari rumahnya sampai biaya yang terlalu mahal baginya. Perasaan stres mulai menyerang pikiran Fitra. Ia bingung harus ke mana lagi mencari sekolah untuk Karenina. Akhirnya Fitra memutu...

Lelaki Ini dan Perempuan Itu dan Kenangan Tersisa Abu

Perempuan itu berdiri, gelisah. Sejuknya pusat perbelanjaan mewah ini tak juga menenangkan hatinya. Terlihat sekali usaha kerasnya terlihat biasa. Mondar-mandir tak tentu arah. Membuang senyum menjawab sapa pramuniaga. Lelaki ini menatapinya dari jauh. Sudah 5 menit berlalu dari janji temu, tapi dia berusaha memastikan dulu. Pahatan memori bertahun lalu masih lengkap liku ukirnya. Perempuan itu dengan kuncir kuda dan ransel biru muda, kikuk menapaki dunia dewasa penuh serakah. Kasat mata tak banyak yang berubah. Tapi lelaki ini terlalu perasa untuk tak menduga. Perlahan didatanginya perempuan itu. "Assalamu'alaikum", salamnya lirih. Hanya sejengkal di belakang telinga. Perempuan itu terlonjak, menoleh untuk memastikan. "Wa'alaikumussalaam..." jawabnya setengah tercekat. Sedetik jeda sebelum lelaki ini memeluknya, diantara tatap praduga. Perempuan itu membalasnya. Sejenak tersengat karena ini kali pertama sepanjang persahabatan mereka. "Gaya bener lu ng...

Kangen Emak ...

 

Tuhan Mengambil Dengan CaraNya

Satu per satu diambilNya Apa yang masih lekat dalam dirimu Semata karena kasih sayangNya Untuk orang yang merindu Beratmu akan terasa ringan Bila kau ikhlas melepaskannya Sadar semua hanya titipan Suatu saat diambil pemilikNya Milikmu bukanlah sepenuhnya punyamu Itu hanya rasa yang membelenggu Fikirmu dipengaruhi perasaanmu Jangan sampai semua itu mengganggu Lepaskan dengan ikhlas Pintu-pintu akan terbuka Aliran cahaya akan memancar Aliran ilmu juga terpancar Lepaskan dengan ikhlas Agar nol selalu mizanmu Neraca seimbang, alat ukur yang pas Adil dan bijak tidaklah semu Lepaskan dengan ikhlas Nuranimu akan berkata Hadapi semua tanpa was was Yakin dengan tuntunanNya Lepaskan dengan ikhlas Berdengung dalam dada bertalu-talu Melepas rasa yang membelenggu Butuh kesadaran dan perjuangan Lepaskan dengan ikhlas Terus ditanam dalam tindakan Bukan ucapan di bibir saja Semua harus dalam kenyataan Lepaskan dengan ikhlas Menjadi pondasi hati yang tenang Menerima ketentuan dan ketetapan Tanpa gejola...

DESIR

Berdesir pagi Membelaiku tertegun Menatap angka Terus bertambah Naik mendaki hari Tak kenal henti Beralih pandang Pada jalanan lengang Di waktu lapang Berjalan tenang Kerumunan terlarang Masker menggantang Di pekuburan Tukang gali merintih Peluhnya habis Di pertokoan Tukang peti mengeluh Kayunya tandas Di rumah sakit Tukang suntik menjerit Tak bisa minum Dibalut baju Putih tertutup rapat Masker menutup Di rumah sakit Tukang rawat meringis Tak bisa pipis Dibalut baju Putih tertutup rapat Masker menutup Di mana-mana Tukang bantah membebal Tak bisa mikir Di mana-mana Tukang ngeyel membandel Tak juga sadar Larisnya kafan Buah banyaknya dosa Sikap mereka -Ekpan-

30

Dahulu, seringkali ku bertanya pada sejawat, tentang ukiran rasa, pada permulaan lembaran bahtera rumah tangga. Bagaimana pernikahanmu? Seru! Pungkasmu. Tanpa memahami sejatinya, ku hanya mengangguk, tersenyum mengikuti sumringahmu. Dahulu, seringkali ku bertanya, apakah "seru" kita masih dalam satu makna, atau sudah berbeda warna? Beberapa tahun silam, seorang sahabat berkata ingin menikah, bagaimana pendapatmu? Saat itu Ia bahkan belum menyelesaikan studi. Menikah di umur 21 tahun, berprofesi sebagai pekerja keras. Ya, pekerja keras. Semua hal Ia lakukan, mulai dari imam masjid, guru ngaji, tukang fotokopi, hingga menjaja ikan. Bagaimana pernikahanmu? Semenjak pindah, malam ku tak pernah panjang. Bukan karena begadang, melainkan pada nyanyian pria-pria kesepian yang tak jauh dari kontrakan. Di malam yang lain, pernah juga ada pasangan muda-mudi bertengkar di tengah malam. Lagi-lagi di depan kontrakan. Saling maki dan berteriak. Dari jendela lantai 2 ku amati, satu per satu...