Postingan

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU, DAN JEDA YANG MENYIKSA

"Aku tidak suka sore ini!" rajuk Perempuan Itu.  "Hujan, senja, dan kita akan berjeda" lanjutnya dengan mata yang mulai basah.  Suaranya parau. Putus asa. Seketika hampa menerpa. Hanya jemari bertaut mengungkapkan rasa. "Hei, sayang....ini hanya jeda, bukan pisah" bujuk Lelaki Ini. Ada ragu yang coba dikuatkan disana.  " Lagian , kita kan bukan Agnes Monica", Lelaki Ini tiba-tiba bergaya menirukan Agnes Monica. Menyanyikan Tak Ada Logika. Perempuan Itu tertawa. Lelaki Ini selalu bisa mengubah lara jadi ceria. Mungkin itu yang membuatnya tergila-gila. Membuatnya gundah, meski hanya berjeda.  "Hanya berjeda ya?" yakin Perempuan Itu lagi. Lelaki Ini hanya mengangguk sambil membentuk mulut Badtz-Maru . Minta digigit banget gak sih?. Lucu tauk! .  *** Pagi masih muda. Perempuan Itu memarkir mobilnya di halaman kafe itu. A simple hidden favourite place .  Langkahnya terhenti ketika titik air menyentuh lengannya. Perempuan Itu menengadah. Hu...

Istana Pasir

Kanak kanak,  Jenak dalam keriuhan berulang  Membangun istana pasir luas membentang,  Megah meski tak menjulang,  Indah meski tak berumur panjang  Lekas tanggal disapu ,badai dan riak gelombang  Gegas ditinggal berlalu, seusai teriak pulang  kanak kanak itu juga,  Bermukim di tubuh kita yang dewasa  jenak bermain istana pasir hingga lupa  senja telah lama memberi tanda  waktu pulang mungkin akan segera tiba  Istana pasir akan terlupa  Istana pasir akan poranda (ujung harapan, 271122)

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU, DAN LELAKI ITU

"Melasi Ndhuk"*  lirih Lelaki ini, dengan logat non Jawa-nya. Perempuan itu tidak peduli. Hangatnya pelukan Lelaki ini sudah cukup. Paling tidak, dia bisa berlabuh sesaat. Meluruhkan lelah, menumpahkan air mata. Perempuan itu juga tidak peduli, sudah berapa perempuan bersandar di sana. Baginya, saat ini Lelaki ini miliknya. Pemenang hatinya. Perempuan itu sadar, jalan hidupnya tidak sederhana. Apalagi cerita cintanya. Dia bukanlah puteri raja ataupun Cinderella. Tapi, apa tak pantas, sekali saja dalam hidupnya, menyerahkan hati kepada pemenangnya?.  *** Di sudut lain dunia. Lelaki itu gelisah. Perempuan itu mulai tidak biasa. Telpon tak dijawab, pesan singkat tak berbalas. Arogansinya terganggu. Apa kekangnya sudah tak mempan?. Tapi ego-nya segera berbisik "sudahlah, bagaimanapun kamu tetap penakluknya, kamu pemiliknya ". Bisikan yang menenangkannya. Menerbitkan sesungging senyum. Senyum kemenangan semu. *** Ibarat syair lagu. Cinta Lelaki ini dan Perempuan itu buka...

SERPIHAN 'HIBAT'

  “I miss you, so bad …”   Jemariku seketika begetar. Pesan teks yang telah kurangkai, seketika buyar. Aku bergeming. Aku tau kata-kata semacam ini gurauan yang biasa dia lontarkan kepada perempuan manapun jika dia suka. Tanpa tedeng aling-aling.    Wajah tengilnya berkelabat sesaat lalu aku merasakan semburat merah memenuhi parasku.    “Hey, kok diem? Kaget ya dikangenin? ”, kalimatnya kembali menyerangku diakhiri dengan emoji terbahak.    Alih-alih mengetikkan beberapa kata-kata balasan, aku hanya mampu mengirimkan emoji tertawa membalas gurauannya.   Aku mencaci dalam hati. “ Kemunafikan macam apa ini? Bukankah kata-kata itu yang selalu kau rindukan? Sejak 11, 10 atau 9 tahun yang lalu? Mengumpulkan potongan-potongan kenangan yang timbul tenggelam alurnya karena tergerus ingatan yang semakin lemah daya. Menikmati serpihan ‘hibat’ ketika membutuhkan kekuatan dan sandaran rasa. Mengunci rapat-rapat rongga hati dan berserah pada jalan takdir ...

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU DAN BUNCAHAN RINDU

Lelaki ini rindu. Perempuan itu juga. Membuncah. Hujan mengalir tanpa spasi. Layaknya skripsi yang tak kunjung jadi. "Pakkkk....!", jengah Perempuan itu. Mata bulat indahnya melotot penuh. Alih-alih seram, malah menggemaskan. Lelaki ini tertawa. Jahil. "Whaaat...!?, balasnya. "Gak usah usaha deh", rajuk Perempuan itu. Lelaki ini tergelak lagi. Lelaki ini tau pasti. Dalam situasi yang berbeda, tatapannya tadi akan menciptakan medan magnet yang kuat. Perempuan itu akan menjadi seganas kobra memangsa korbannya. Tanpa dikomando Lelaki ini dan Perempuan itu terbahak. Mengundang tatap heran dari sekitar. Mereka tak peduli. Pipi Perempuan itu memerah. Bersungut-sungut menuntaskan gelato terakhirnya. Lelaki ini masih menahan tawa. Sungguh, rasanya sudah bukan ratusan purnama lagi mereka tak jumpa.  Senja sudah semakin tua. Udara dingin mulai menyergap. Sisa-sisa hujan masih menyisakan genangan. Satu dua jangkrik sudah menuju pos jaga. Lelaki ini dan Perempuan itu masih...

You Did it Your Way

Mentari terbit, mentari tenggelam Cakrawala merah jingga Batas itu sebentar lagi tiba Waktu akan segera menjadi figura Pintu pertama yang engkau masuki dulu Dan pintu yang akan kau tutup hari ini Jelas berbeda, namun semua akhirnya akan punya nama yang sama, kenangan Tiba  dimuka, pulang paling belakang Adalah salah satu yang akan kami kenang Sebagian kami menghilang Saat mendadak rapat menjelang pulang Mungkin akan kau ingat dengan senyuman Air tenang yang menyimpan banyak pusaran Tak bisa diam, terus bergerak mencapai tujuan Kerja, kejar, selesaikan... Secepatnya, engkau tak suka menunda Seringkali bagi kami, itu artinya adalah lembur Bahkan kadang sampai mengurangi jam hari libur Tentu ada yang menggerutu atau hadir dengan keterpaksaan Ada juga yang diam-diam menghilang Namun itulah dinamika kerja, yang siap kau terima Yang terpenting adalah menyelesaikan tugas, tuntas Usai sudah, tak ada penyesalan Terbaik atau bukan hanyalah perbandingan Totalitaslah yang seharusnya diutamakan...

Refleksi Merdeka

Kalau soal kapan merdeka, kita punya tanggal yang sama Tetapi soal jiwa-jiwa yang merdeka, Kita harus lihat dulu, satu-satu orang punya jiwa Bahwa penjajahan adalah kezaliman Kita semua sudah tahu itu Bentuk perbudakan  besar-besaran sebuah bangsa atas bangsa lainnya Penindasan dan eksploitasi Hak-hak asasi dikebiri kemanusiaan yang adil dan beradab terang-terangan diinjak-injak Yang jarang kita sadari adalah Jiwa-jiwa merdeka tak pernah bisa dijajah Para pendiri bangsa, pejuang kemerdekaan Mereka yang kini kita sebut pahlawan Adalah orang-orang yang tak pernah dijajah Mereka adalah para pemberani Orang-orang dengan jiwa merdeka Yang menjunjung tinggi kemanusiaan Yang mengedepankan keadilan Yang karenanya tak bisa menerima Segala bentuk penindasan Segala apapun yang namanya penjajahan Kemerdekaan bagi mereka Bukan ditandai dengan proklamasi Proklamasi hanyalah bentuk tanggungjawab dari jiwa-jiwa yang merdeka untuk juga memerdekakan jiwa-jiwa lainnya yang masih terjajah untuk membaw...