Postingan

Lebih Baik Aku

Lebih baik aku bungkus saja rindu ini,  dengan bekas bungkus nasi padang. Ku buang. Pemulung datang. Berharap dapat rendang.  Kecewa,  karena hanya bungkusan asa. Kucing mengendus, kaget.  Ada rindu di bungkus nasi padang. Mengeong.  Kembali ke pangkuan tuannya. Yang sedang sibuk menulis rindu: pada awan, berharap terkirim lewat hujan pada angin, agar menyelinap dari kisi-kisi yang tak rapat pada air, supaya menggenang di setiap cerukan dan pada sebungkus nasi padang, siapa tau kekasihnya lapar. Jakarta, 17012023

Diary Umbi

 Dear diary, Hari ini ada yang mutasi, Ada yang ke sana, ada yang ke sini, Para petinggi hilir mudik cari informasi Bagimana si itu, bagaimana si ini bergegas lekas atur strategi Jangan sampai si itu, ke sini, Agar kita tak terbebani nanti Jangan sampai si ini ke sana Enak banget mereka, kita dapat sisa Kita para umbi,, Kadang seperti komoditi Yang bisa di tawar ke sana ke mari Sedang  kita tak pernah punya opsi Selain menerima siapapun teman atau petinggi, Anggap saja kalau kebetulan dapat yang baik,  itu rejeki  kalau dapat yang galak,  menjadi uji kita hanya perlu bersabar,  karena untuk itu juga, Salah satu alasan kita umbi diberi gaji Baik atau buruk kita, Baik atau galaknya mereka, Tak ada yang abadi Cepat atau lambat,  kita atau mereka  aka pergi  dan terganti,  kita hanya perlu bersabar,  karena untuk itu juga, Salah satu alasan kita umbi diberi gaji (Iseng pagi pagi, semua ini fiksi, kalau ada kesamaan  cerita, hanya...

Hikayat

(untuk tetehnumaketiung : Mahadewi) ku selalu ingin ke sini, Suatu tempat di ujung jalan paspati Merawat ingatan tentang masa itu, Kita yang duduk berhadapan  Terpisahkan oleh meja panjang, Makanan pesanan  yang dibiarkan dingin, oleh percakapan dan tatapan yang hangat Sesekali waktu itu  Kali kaki kita yang berayun  Di bawah kaki meja saling bertubrukan, Lalu kitapun tertawa bersama Seperti kanak yang baru tahu cinta Aku selalu ingin ke sini, Mengingat caramu memuji  atau menguji ku pertama kali   "Kamu tak tampan,  tapi aku suka dengan dua bola matamu,  yang kecoklatan lucu seumpama mata kelinci,  dan alis matamu  yang tebal, seperti ulat bulu" Sungguh,  waktu itu kupikir  kamu  hanya basa basi, Hingga dua puluh satu tahun hari ini, kau tak pernah berhenti Memuji dua mata kelinci itu  Yang menatapmu takjub, setiap hari (Puisi yang belum selesai, mungkin tak akan pernah selesai )

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU, DAN JEDA YANG MENYIKSA

"Aku tidak suka sore ini!" rajuk Perempuan Itu.  "Hujan, senja, dan kita akan berjeda" lanjutnya dengan mata yang mulai basah.  Suaranya parau. Putus asa. Seketika hampa menerpa. Hanya jemari bertaut mengungkapkan rasa. "Hei, sayang....ini hanya jeda, bukan pisah" bujuk Lelaki Ini. Ada ragu yang coba dikuatkan disana.  " Lagian , kita kan bukan Agnes Monica", Lelaki Ini tiba-tiba bergaya menirukan Agnes Monica. Menyanyikan Tak Ada Logika. Perempuan Itu tertawa. Lelaki Ini selalu bisa mengubah lara jadi ceria. Mungkin itu yang membuatnya tergila-gila. Membuatnya gundah, meski hanya berjeda.  "Hanya berjeda ya?" yakin Perempuan Itu lagi. Lelaki Ini hanya mengangguk sambil membentuk mulut Badtz-Maru . Minta digigit banget gak sih?. Lucu tauk! .  *** Pagi masih muda. Perempuan Itu memarkir mobilnya di halaman kafe itu. A simple hidden favourite place .  Langkahnya terhenti ketika titik air menyentuh lengannya. Perempuan Itu menengadah. Hu...

Istana Pasir

Kanak kanak,  Jenak dalam keriuhan berulang  Membangun istana pasir luas membentang,  Megah meski tak menjulang,  Indah meski tak berumur panjang  Lekas tanggal disapu ,badai dan riak gelombang  Gegas ditinggal berlalu, seusai teriak pulang  kanak kanak itu juga,  Bermukim di tubuh kita yang dewasa  jenak bermain istana pasir hingga lupa  senja telah lama memberi tanda  waktu pulang mungkin akan segera tiba  Istana pasir akan terlupa  Istana pasir akan poranda (ujung harapan, 271122)

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU, DAN LELAKI ITU

"Melasi Ndhuk"*  lirih Lelaki ini, dengan logat non Jawa-nya. Perempuan itu tidak peduli. Hangatnya pelukan Lelaki ini sudah cukup. Paling tidak, dia bisa berlabuh sesaat. Meluruhkan lelah, menumpahkan air mata. Perempuan itu juga tidak peduli, sudah berapa perempuan bersandar di sana. Baginya, saat ini Lelaki ini miliknya. Pemenang hatinya. Perempuan itu sadar, jalan hidupnya tidak sederhana. Apalagi cerita cintanya. Dia bukanlah puteri raja ataupun Cinderella. Tapi, apa tak pantas, sekali saja dalam hidupnya, menyerahkan hati kepada pemenangnya?.  *** Di sudut lain dunia. Lelaki itu gelisah. Perempuan itu mulai tidak biasa. Telpon tak dijawab, pesan singkat tak berbalas. Arogansinya terganggu. Apa kekangnya sudah tak mempan?. Tapi ego-nya segera berbisik "sudahlah, bagaimanapun kamu tetap penakluknya, kamu pemiliknya ". Bisikan yang menenangkannya. Menerbitkan sesungging senyum. Senyum kemenangan semu. *** Ibarat syair lagu. Cinta Lelaki ini dan Perempuan itu buka...

SERPIHAN 'HIBAT'

  “I miss you, so bad …”   Jemariku seketika begetar. Pesan teks yang telah kurangkai, seketika buyar. Aku bergeming. Aku tau kata-kata semacam ini gurauan yang biasa dia lontarkan kepada perempuan manapun jika dia suka. Tanpa tedeng aling-aling.    Wajah tengilnya berkelabat sesaat lalu aku merasakan semburat merah memenuhi parasku.    “Hey, kok diem? Kaget ya dikangenin? ”, kalimatnya kembali menyerangku diakhiri dengan emoji terbahak.    Alih-alih mengetikkan beberapa kata-kata balasan, aku hanya mampu mengirimkan emoji tertawa membalas gurauannya.   Aku mencaci dalam hati. “ Kemunafikan macam apa ini? Bukankah kata-kata itu yang selalu kau rindukan? Sejak 11, 10 atau 9 tahun yang lalu? Mengumpulkan potongan-potongan kenangan yang timbul tenggelam alurnya karena tergerus ingatan yang semakin lemah daya. Menikmati serpihan ‘hibat’ ketika membutuhkan kekuatan dan sandaran rasa. Mengunci rapat-rapat rongga hati dan berserah pada jalan takdir ...