Postingan

Sebutir telor ayam

Seorang anak kecil mendapati ayamnya bertelur,  diambilnya telur tersebut,  ditimamg timang  dan hatinya menimbang nimbang,  akankah telur itu digoreng atau dieramkan  di kepalanya hadir bayangan  "Kalau telur ini dieramkan,  akan menetas menjadi seekor ayam,  jika ayamnya betina  maka akan bertelur lagi puluhan mungkin ratusan, jika seluruh telur itu ditetaskan,  akan ada banyak lagi puluhan ayam betina, yang akan bertelur puluhan bahkan ratusan,  jika ditetaskan semua, akan banyak lagi ayam betina, hingga bertahun kemudian  akan ada ribuan atau jutaan ayam betina  Kalau ribuan atau jutaan ayam itu dijual,  dibelikannya kambing,  kambing betina dan kambing jantan,  akan melahirkan banyak kambing betina dan kambing jantan,  hingga bertahun kemudian akan ada ribuan bahkan jutaan kambing  Kalau ribuan atau jutaan kambing itu dijual,  dibelikannya sapi, sapi betina dan sapi jantan,  akan mel...

Diary Umbi (II)

Nisbi (sebuah kisah fiksi dari sebuah negeri) selamat pagi tuan petinggi,  Hari ini kau masih hebat sekali,  Lantang bicaramu penuh energi,  Menepuk dada membanggakan diri,  Jabatan tinggi ujarmu, wujud apresiasi  atas unjuk kerja kerasmu, loyalitas dan dedikasi yang tak semua orang bisa miliki  Di tanganmu kini  seolah kuasa tanpa tepi  Penentu nasib dan masa depan ribuan umbi  hanya melalui  jentik ujung jemari seseorang akan melaju atau terhenti  peluang-peluang  terbuka,  untuk mereka yang kau sukai,  kuburan terdalam,  untuk mereka yang kau benci,  Seolah organisasi itu perusahaan pribadi  Mungkinkah  kau lupa, duhai.... tuan petinggi  Di dunia ini tak ada yang abadi  Esok atau kapan harinya nanti  Kekuasaan itu tak ada lagi  mungkin saja kau beranjak mutasi  atau pensiun membuatmu pengabdianmu terhenti atau bisa saja berakhir lebih cepat lagi,  kalau suatu pagi...

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU DAN HUJAN HARI ITU

Hujan. Lelaki Ini selalu suka hujan. Baginya, titik pertama air hujan bagaikan satu ketukan metronome. Mengorkestrasi titik-titik berikutnya. Dua, tiga, lima, tujuh, seribu sampai tak hingga ketukan. Lelaki Ini memejamkan mata, menajamkan telinga. Mencoba menangkap ketukan demi ketukan yang mencipta kata. Ketukan yang menciptakan jeda, hingga terangkai kalimat indah. Lelaki ini tersenyum. Sedikit pongah, sebagai indu - ra , sang penguasa hujan.  Sampai akhirnya cambuk Zeus menyadarkannya. Dirinya tak lebih curahan awan yang lelah menahan gelisah. Menjadi genangan, lalu buyar oleh riak roda kereta besi. Hujan masih menyampaikan pesan. Satu satu lamat tersamar. Lelaki Ini mengumpulkan asa yang tersisa. Lalu kecewa. Ketika hujan tidak menyampaikan apa-apa. Hanya hening panjang penuh prasangka. Lelaki Ini terluka, laksana tanah dicecar pasukan tirta. *** Hari itu harusnya mudah. Tidak beda dengan hari-hari lainnya. Semua tugas bisa tuntas. Hanya beberapa rapat ini itu. Mudah saja. Kema...

Lelaki Ini dan Perempuan Itu dan Rapuhnya Hati Yang Lelah

Lelaki Ini terbakar. Duduk gelisah, berdiri salah. Bagai anak muda yang baru kenal cinta. Perempuan Itu duduk diam di depannya. Dengan rindu yang tak terkira beratnya.  "Aku bisa apa?", putus asa Lelaki Ini. Mereka hanya bertukar tatap. Rehat singkat jeda ini ternyata lebih menyiksa.  Perempuan Itu membisu. Miliaran rasa berlomba menyeruak kata. Terhenti sunyi hati. Jika aku bisa, ku akan kembali, ku akan merubah takdir cinta yang kupilih. Tidak ada kebetulan dalam hidup. Rasa yang bertahta sekian lama juga begitu. Satu dasawarsa, jika tanpa rasa, pasti sudah hilang tergerus masa.  "Jangan lepas aku ya", bisik Perempuan Itu. Jemari bertaut makna. Meresonansi rasa yang membuncah saat jeda.  Terkadang-bahkan seringkali-manusia egois dengan harapannya. Berharap situasi selalu sesuai dengan harapan. Ketika tidak, meradang menyalahkan keadaan. Pun, Lelaki Ini dan Perempuan Itu. Waktu tak mau berpihak. Sementara, rasa tak mau dicegah.  *** Perempuan Itu sadar, dirinya...

Lebih Baik Aku

Lebih baik aku bungkus saja rindu ini,  dengan bekas bungkus nasi padang. Ku buang. Pemulung datang. Berharap dapat rendang.  Kecewa,  karena hanya bungkusan asa. Kucing mengendus, kaget.  Ada rindu di bungkus nasi padang. Mengeong.  Kembali ke pangkuan tuannya. Yang sedang sibuk menulis rindu: pada awan, berharap terkirim lewat hujan pada angin, agar menyelinap dari kisi-kisi yang tak rapat pada air, supaya menggenang di setiap cerukan dan pada sebungkus nasi padang, siapa tau kekasihnya lapar. Jakarta, 17012023

Diary Umbi

 Dear diary, Hari ini ada yang mutasi, Ada yang ke sana, ada yang ke sini, Para petinggi hilir mudik cari informasi Bagimana si itu, bagaimana si ini bergegas lekas atur strategi Jangan sampai si itu, ke sini, Agar kita tak terbebani nanti Jangan sampai si ini ke sana Enak banget mereka, kita dapat sisa Kita para umbi,, Kadang seperti komoditi Yang bisa di tawar ke sana ke mari Sedang  kita tak pernah punya opsi Selain menerima siapapun teman atau petinggi, Anggap saja kalau kebetulan dapat yang baik,  itu rejeki  kalau dapat yang galak,  menjadi uji kita hanya perlu bersabar,  karena untuk itu juga, Salah satu alasan kita umbi diberi gaji Baik atau buruk kita, Baik atau galaknya mereka, Tak ada yang abadi Cepat atau lambat,  kita atau mereka  aka pergi  dan terganti,  kita hanya perlu bersabar,  karena untuk itu juga, Salah satu alasan kita umbi diberi gaji (Iseng pagi pagi, semua ini fiksi, kalau ada kesamaan  cerita, hanya...

Hikayat

(untuk tetehnumaketiung : Mahadewi) ku selalu ingin ke sini, Suatu tempat di ujung jalan paspati Merawat ingatan tentang masa itu, Kita yang duduk berhadapan  Terpisahkan oleh meja panjang, Makanan pesanan  yang dibiarkan dingin, oleh percakapan dan tatapan yang hangat Sesekali waktu itu  Kali kaki kita yang berayun  Di bawah kaki meja saling bertubrukan, Lalu kitapun tertawa bersama Seperti kanak yang baru tahu cinta Aku selalu ingin ke sini, Mengingat caramu memuji  atau menguji ku pertama kali   "Kamu tak tampan,  tapi aku suka dengan dua bola matamu,  yang kecoklatan lucu seumpama mata kelinci,  dan alis matamu  yang tebal, seperti ulat bulu" Sungguh,  waktu itu kupikir  kamu  hanya basa basi, Hingga dua puluh satu tahun hari ini, kau tak pernah berhenti Memuji dua mata kelinci itu  Yang menatapmu takjub, setiap hari (Puisi yang belum selesai, mungkin tak akan pernah selesai )