Postingan

Terpesona

  Senyum yang ramah Dan kaki yang melangkah Tak menyilaukan arah Namun pasti menjadi mudah   My friend Fulanah Pertahankan ghirah Kami tidak menyerah Dan tidak juga pasrah   Kebaikan selalu teringat Menjadi sebuah perekat Hubungan pun menjadi dekat sesuai dengan hakikat   Doa kami selalu lekat Tanpa harus memikat Tanpa tangan berjabat Meskipun jauh namun dekat   Bekasi, 15 September 2021 This poet can be seen in the link : https://rulyardiansyah.blogspot.com/2024/05/terpesona.html    

Laksana Hamba

Berikan aku sebuah air Akan kuminum hingga habis Berikan aku sebuah syair Akan kuhidupkan sebuah tahbis   Jauh sumur mendekati uzur Akan kukejar meskipun sakit Berikan aku sebuah busur Akan kulepas dengan sebuah bait   Jadikan aku seorang kaisar Akan kurangkul sebuah dunia Berikan aku sebuah bunga mekar Akan kuberikan kepada putri istana   Jadikan aku orang shaleh Akan kukejar hingga akhirat Berikan aku petunjuk yang shaheh Akan kuberikan ilmu yang manfaat Bekasi, 11 September 2021   This poet can be seen at link below  https://rulyardiansyah.blogspot.com/2024/05/laksana-hamba.html 

Tolong Kau Apa-kan Dulu itu, Apa-nya

  ===== Sering dalam bincang kita berdesak tanya.. Suatu hal yang abstrak namun terasa samar nyata.. Ketika kau bilang, tolong kau apakan dulu itu apanya.. Aku tak menggeleng meski tak paham.. Aku tak tertawa, meski lucu ku rasa… Bahkan aku tak tanya, meski tak ku tau itu apa.. Aku, macam tau, meski tak kutemukan jawab.. Aku, macam bisa, meski tak kutemukan kuasa.. Aku, macam kau kurasa, yang tak jelas apa – apa.. Tapi semua tetap berjalan apa adanya.. Kau, aku, mari tertawa berwarna warna… ===== 01022024 #Ini Medan Bung...

Dialog antara Aku dan Jendela Kaca

Halo, selamat pagi Sekian lama kita tak jumpa Apakah kau semakin menua hingga terlihat renta?  lihatlah, dedaunan menari-nari  mereka bahagia karena semilir angin sejuk menyapa  sekawanan semut berjalan beriringan di cabang pepohonan Dedaunan itu berpegang erat dalam meniti kehidupan Aku memang menua seiring berlalunya waktu tanpa memberi tahu apalagi sekedar mengingatkanku  ; begitu katamu Namun, meski renta aku bahagia meski kadang duka kerap kali menyapa karena aku menjadi saksi yang datang dan juga yang pergi katamu kemudian Bagaimana denganmu dirimu sendiri? tanyanya kepadaku bukankah kau juga terlihat menua? cobalah berkaca kepadaku helai demi helai rambutmu sebagian memantulkan cahaya garis panjang di keningmu laksana aliran Nil Apakah kamu bahagia? Segelas Aren Latte Coffee Jendela kaca terdiam akupun demikian

Buaian Sayang Bak Piring Melayang

Tetesan hujan  yang jatuh di atas jerami Tak membuat rasa ini menjadi doremi Terbayang eropa yang musim semi Mengingatkan dia bermain kartu remi   Kembali hujan berkawan malam sepi Tak mampu menjaga rindu jati diri   Terbuai nyanyian sendu kekasih hati Mengobati asa yang mulai mati   Masih hujan seperti malam sebelumnya Tak mendua angan tanpa nyata   Pun ingatan masih terkoyak hampa Mengurai jeritan sebuah jiwa   Andaipun hujan tak seperti biasanya Berilah awak kesempatan bersuara Agar jiwa yang duka dan terluka Mampu meminang adinda   Bekasi, 11 September 2021 This poem can be seen at the link below  https://rulyardiansyah.blogspot.com/2024/04/buaian-sayang-bak-piring-melayang.html

Senja

Kala langit merah di ufuk barat Begitu juga merah pipimu yang teringat Terbayang senja di pantai Sulawesi barat Tak kan ku lupa pesan yang yang tersirat   Ketika malam mulai mendekat Tak banyak yang akan kulihat Meskipun aku berusaha dekat Tanpa diri dan bayangan yang melekat   Kuingat senyuman mu yang memikat Dibalik sebuah gondola yang terikat Tak banyak yang kurasa dan kuingat Namun cinta ku selalu melekat   Ketika malam sudah mulai pekat Tak terasa diri ini semakin teringat Wajah ayu yang selalu lekat Jika diri ini masih mampu mendekat   Bekasi, 2 September 2021 This poem can be seen in the link below  https://rulyardiansyah.blogspot.com/2024/04/senja.html 

Hujan di Akhir Pekan

Gambar
Di penghujung pekan,  Langit mendung menggantung rendah,  Namun hati riang tak terbendung, pulang menanti ceria.  Di meja kerja, pikiran melayang ke rumah,  Juga kenangan tawa renyah teman-teman, dan halaman-halaman kisah.  Kembali ke rumah, pena dan kertas menunggu setia,  Melukis kata, menari dalam irama sastra.  Seni, musik, dan film, jendela jiwa yang terbuka,  Mengajak berkelana, meski duduk tenang di sofa.  Ah, weekend mendung, kau bukan kelabu,  Namun kanvas bagi impian dan ragam warna baru.  Di rumah yang hangat dan selalu setia,  Temukan kebahagiaan, dalam simpul-simpul cerita. Jakarta 26 April 2024 Note : all arts made in collaboration with AI