Postingan

Glass and Wind

by Ash Beige Baby (This thought has been haunting me these days But It's okay now, Thanks to my friend too.) Somewhere out there, I sense a soft smirk, a careless posture The kind that finds pain entertaining, as long as it belongs to someone else. I receive the signal. They thought cracks meant collapse. Never have they ever asked what pressure does to stone? Nature never shapes gently. Even mountains are not born, they are forced. I believe every hard path my body walks now recently is not punishment. It is calibration. And I am not sorry that I am not breaking. I'll probably just let the wind laugh, right before it turns sand into glass. I remember when I was nineteen. Back then, a cowardly crowd, loud, small, trash senior envious kept shouting my sister’s name through school hallways for one unforgivable crime: being visible, being pretty, being admired. Then the awful came not long after, a severe car crash. Bones fractured, weeks in intensive care A body of little 15 year...

Secangkir Kopi dan Rindu

  Uap kopi mengepul di udara, Menemani pagi yang sedikit dingin, Februari membawa sejuta suara, Tentang kenangan yang aku ingin.   Pahit dan manis bercampur satu, Seperti perjalanan hidup kita, Terkadang terjebak dalam waktu, Terkadang terbang tinggi ke angkasa.   Di luar sana hujan mulai turun, Membasahi kaca jendela, Aku duduk diam berayun-ayun, Mengingat senyummu yang bermakna.   Februari adalah saksi bisu, Tentang rasa yang tak pernah pudar, Meski musim berganti melulu, Cintaku padamu tetaplah segar. Jakarta, 12 Februari 2026 

Senja Februari

  Langit jingga di ufuk barat, Menandai sore yang tenang, Februari membawa pesan tersirat, Tentang pulang dan kasih sayang. Burung-burung kembali ke sarang, Meninggalkan jejak di angkasa, Hatiku kini merasa lapang, Menikmati damai yang terasa.   Bayang-bayang mulai memanjang, Menyentuh bumi yang mulai lelap, Rindu ini tak lagi meradang, Sebab kau hadir dalam dekap.   Selamat malam bulan yang pendek, Esok pagi kita jumpa lagi, Membawa mimpi yang takkan retak, Di bawah cahaya mentari pagi Jakarta, 12 Februari 2026 

Bunga Mekar di Februari

  Kuncup bunga mulai merekah, Menyambut mentari Februari, Warna-warni mulai terlihat cerah, Menghiasi taman sanubari.   Harum semerbak terbawa angin, Menyentuh pipi dengan lembut, Mengusir rasa dingin yang makin, Mencairkan beku yang menyelimut.   Keindahan ini adalah anugerah, Bagi mereka yang sabar menanti, Meski jalan terkadang lelah, Pasti ada bunga yang menanti.   Jangan biarkan layu sebelum waktunya, Sirami dengan kasih dan sayang, Sebab Februari dan pesonanya, Adalah awal dari hidup yang terang. Jakarta, 09 Februari 2026

Februari dalam Rindu

Waktu berlari begitu cepat, Di bulan yang jumlahnya sedikit, Namun maknanya terasa lekat, Menyembuhkan hati yang sakit.   Februari bukan sekadar angka, Ia adalah jembatan musim, Tempat kita melepas luka, Dan merangkai kembali kerajinan batin.   Ada hangat di balik dinginnya, Ada terang di balik mendung, Dunia berputar pada porosnya, Membawa kita terus melambung.     Nikmati setiap detik yang ada, Sebelum Maret datang mengetuk, Sebab Februari penuh tanda, Bagi jiwa yang mau memeluk. Jakarta, 09 Februari 2026   

Basis Rasa

by Ash Beige Baby Aku ngga benci kalian Habis-habiskan energi aja Seperti peduli tapi beda quadran Cinta Benci garis tipis,  kan   Sekarang aku di basis Sampai Koordinat nol koma nol Tingkah laku mereka bukan beban Eksistensi mereka ngga memberatkan Keabsenan mereka juga bukan syukuran Ini  bukan benci yang berisik Cuma  mati rasa yang tenang .   Melesat jatuh jungkir balik dapat lotre tembak-tembakan Selama ngga ngaruh ke hidupku  kalian bukan siapa-siapa buatku  

Jiwa yang Hancur

  Berkali-kali kucoba bangkit Tak banyak yang percaya Dari jiwa yang mengeryit Namun tubuh yang seolah biasa saja. Sulit menghadapi semua ini Rasanya seperti tubuh ini remuk berkeping-keping Namun semua tetap tak percaya lagi Jika daku seperti rumput mengering Kemanakah aku minta pertolongan? Hanya kepada sang Pencipta diri ini Tak henti aku meminta pertolongan dari-Nya Meskipun tiap hari seperti mengais rumput di rawa Tapi tetap ku berusaha demi menghidupkan jiwa Jiwa yang hancur karena luka Jiwa yang tenggelam karena lara