Postingan

Menjaga Kewarasan

Gambar
M ari kawan,  kalau kepala sudah terasa berat, Ide ide terasa mampat,  ambil kursi sebelah sini  kita perlu berbincang atau berdendang,  Menyeduh kopi atau berpuisi  siasat kita menjaga kewarasan  Tubuh tubuh kita telah seharian demi seharian, melangkah pergi pagi dalam lintasan mampat minim celah, berdiam terperangkap dalam kubikel ruang dan aturan, disergap kebosanan dan rasa resah, beranjak pulang dalam raga yang lelah  hilang arah sudah Antara pilihan atau keterpaksaan, Antara pengabdian atau pemenuhan kebutuhan   Atau semuanya Lupakan sejenak tentang berkas dan surat, disposisi atau rapat, karena bisa jadi smua tak berhenti bahkan saat organisasi sekarat Mari kawan, Kalau kepala sudah terasa berat,  Ide ide terasa mampat Kita harus tetap Waras  Sutikno Slamet, 31 Juli 2018

Hari ini, Kita Telah sampai

D ik, Hari ini kita telah Sampai Pada zaman Dimana Feodalisme beralih rupa Dari warna darah menjadi ijazah Kasta tertinggi adalah mereka yang sekolah di negeri antah berantah Seolah semua persoalan bisa diselesaikan dengan perbendaharaan kata kata yang susah, Terus belajarlah, sebelum usia membuat kamu harus menyerah... Dik, kita sampai juga pada zaman Dimana emansipasi beralih rupa, Dari kesetaraan menjadi sama, Ada yang menjatah kursi birokrasi sepertiga untuk wanita, Sebagian mereka bersorak gembira, Sebagian terhina, seolah tanpa itu mereka tak bisa setara pria Maka teruslah berkarya, tak perlu jadi lucinta luna kedua Dik, kita sampai juga pada zaman dimana kepahlawanan beralih rupa, Bukan yang ikhlas menebar jasa tetapi yang banyak membangun citra Akan banyak duryudana nampak yudistira, Dorna nampak krisna, Bahkan penjahat nampak ulama Bersabarlah... Karena pada setiap zaman akan ada pahlawannya, setiap pahlawan ada zamannya  Cakung, Juli 2018

Diman 2018,

Perbincangan kita karena iba saja kata kata berhamburan di udara  Buatmu sarat makna, Buatku tiada  Sekian waktu,  Aku sabar menahan jemu,  Kita dua orang yang sama sama berlari,  Kau menujuku, Aku menjauhimu  Entah, Bagaimana lagi aku memberimu jawaban, Kusamarkan isyarat tak terlihat  Keterusterangan kau anggap banyolan  Cakung, Juli 2018

Mileak 2018

Tak habis pikirku, Bagaimana rasa bermula dan karena apa, tetiba aroma harum rambutmu menebarkan pesona, sebab bertahun sebelumnya, bersamamu, smua tentangmu berasa biasa Dan hari hari berikutnya semarak akan gelora  pencarian menuju mu, Tersembur mantra dan kata memuja, Terbangun sedepa demi sedepa dunia  tentangmu Yang tak merapuh oleh isyarat dan bahasa penolakan, Yang kadang kumaknai ambigu sungguh  sungguhmu  atau menguji  kesungguhan, terapal berulang doa  "masa  depanmu adalah  aku, masa depanku sebagian kamu" Tapi, saat langkah lelah terayun, Aku mudah saja membujuk hatiku, merelakan lelarian menujumu diakhiri, Tak habis pikirku Kenapa  aku sanggup melakukannya Setelah berlaksa langkah menjalaninya, Menganggapmu  biasa, itu tak biasa Cakung,  Juli 2018

Rectroverso Seorang Ayah

Namaku Hana, dan ini adalah kisahku... Siang itu, bell pulang di sekolahku baru saja berbunyi ketika hpku berdering, s uara ayah disana terdengar cukup kencang, "Hana, kamu dimana?" "Ini baru saja mau pulang, Yah", jawabku "Cepat pulang ya, Mama menunggu kamu di rumah, katanya ia ingin minta temani kamu jalan-jalan" Aku mengeryitkan dahi, jalan-jalan? Pikirku. Di siang terik begini? kemana? "Iya sebentar Yah, Hana mampir ke perpus sekolah dulu ya" Ayah cepat menjawab, "besok saja ke perpusnya Han, kamu pulang sekarang ya, kasihan Mama sudah menunggu kamu di rumah" "Yaa tapi Yah..." "Hana dengar, kamu pulang sekarang juga ya, Nak" Suara ayah terdengar tegas, tumben biasanya ayah selalu lembut pada kami, dan aku memilih patuh. "Oke Yah" jawabku. Sampai di rumah, mama sudah menungguku dengan pakaian rapi. Ternyata siang itu, mama mengajakku pergi jalan-jalan di Dufan. Berdu...

Berkata Seorang Kawan

Seorang kawan berkata; ingin melanjutkan kuliah di perguruan tinggi ternama Merajut cita-cita yang sedari kecil sudah ia tulis di atas selembar kertas yang tersimpan di dalam diary lusuh Ia pun melanjutkan bicaranya; ingin mempersunting seorang wanita yang telah dipacarinya sejak lama Membina rumah tangga Menjadi pemimpin keluarga Di lain waktu, ia mengajakku berkunjung ke rumahnya Rumah yang baru dibeli dengan uang hasil kerja kerasnya Pergi pagi pulang larut malam Demi mengejar impian Kemudian, Waktu berlari tanpa peduli siapa yang dilewati Meninggalkan apa saja, termasuk aku yang berdiri didepan pusara Hari itu aku mengunjunginya Berdiri persis disamping gundukan tanah merah berhias aneka bunga Kuucapkan salam Kemudian terpanjatkan doa; semoga engkau bahagia di alam sana... #belajarpuisi

Pernah ada satu masa

Pernah ada satu masa dimana jarak tak lagi bermakna sapa tak lagi bernada tatapan tak mewakili cinta Pernah ada satu masa jarak begitu bermakna sapa menjadi indah bernada tatapan mewakili rasa cinta menggelora Pernah ada satu masa...

Cinta Pertama

Hari pertama masuk sekolah, selalu lebih sibuk dari biasanya. Setelah libur panjang, sulit sekali membiasakan diri bangun pagi, segera mandi, sarapan, dengan perlengkapan sekolah yang lengkap. Tapi, itu hari pertama di SMPN impiannya. Tak ada alasan buat Sasti bermalas-malas. Dia sudah siap berangkat jam 5.30 bersama Bunda yang menyempatkan diri mengantar dengan naik angkot. Seminggu ini dia harus masuk pagi karena MOPS dimulai. Kebetulan sekolah barunya harus ditempuh dengan 30 menit naik angkot, karena akan butuh waktu paling cepat 1,5 jam jika berjalan. Dan, kakinya bisa bengkak sebesar talas. “Ingat ya, Sasti belajar sungguh-sungguh,” Bunda masih di sampingnya saat sudah turun angkot, tapi dia sudah tidak ngeh Bunda bilang apa. Dia kagum dengan bangun bercat putih gading yang cerah di depannya dan gerbang yang begitu megah di antara rerumputan yang membentuk bukit seakan menyambutnya. Ahhh ... sayang, sekolah ini hanya satu lantai. Padahal, Sasti ingiiin sekali naik turun tangga...