Langsung ke konten utama

THANOS DAN EGOIS-NYA AVENGERS

 -Mohon maaf bagi yang belum nonton Avengers: Endgame, tulisan berikut berpotensi spoiler -


Karena si sulung suka banget dengan film-film Marvel, terutama Avengers series, terpaksalah kami sekeluarga juga ikutan nonton. Alasannya sederhana, kalo kakaknya nonton, adiknya pasti pengen ikut nonton. Karena kakaknya belum berani nonton berdua doang dengan adiknya, terpaksalah papa- mama-nya ikutan juga. Akhirnya ya setiap kali ada film Marvel terbaru, kami berempat pasti nyempetin nonton :D


*

Awalnya gue pikir masing-masing judul film-film tersebut berdiri sendiri, tidak ada kaitannya satu sama lain. Baru ngeh setelah ngeliatin si sulung yang 'tertib' banget mengulang lagi nonton dari mulai Captain America: The First Avengers  sampai dengan Infinity War sebagai persiapan sebelum nonton Captain Marvel. Hal tersebut diulangi lagi sebelum nonton Avengers: Endgame. Setelah ngeh pun, sebenarnya gue gak juga ngerti-ngerti banget, maklum...tiap kali nonton pasti ada sesi dimana gue molor hehehe, jadinya pasti ada scene yang terlewat. 

*

Sebelum film Infinity War, gue masih bersimpati dengan Avengers dan para pahlawannya. Ibarat kata, kalo gak ada mereka cemanalah nasib kita-kita ini, yeekaaann. Mereka susah payah, abis-abisan mempertahankan bumi dari serangan makhluk-makhluk dari planet-planet lain. Pertempuran demi pertempuran yang dipicu oleh nafsu untuk menguasai infinity stones. Ya, infinity stones-lah yang menjadi pangkal mula semua ini. Enam batu dengan kekuatan luar biasa itu adalah space stone, mind stone, power stone, time stone, reality stone dan soul stone. Batu-batu tersebut secara sendiri-sendiri sudah memiliki kekuatan super yang luar biasa. Tidak sembarang makhluk mampu menahan kekuatan batu-batu tersebut. Pun demikian, kekuatan dan kekuasaan yang luar biasa dengan menguasai batu-batu tersebut telah membuat orang (alien) berusaha mencari dan memiliki batu-batu tersebut. Planet manapun yang ditengarai menyimpan batu tersebut pasti akan dijadikan sasaran serangan kelompok-kelompok alien yang mengincar kekuatan batu tersebut sekaligus menggunakannya untuk melakukan invasi dan mengakuisisi planet-planet lain, termasuk planet bumi.

*

Sejarah panjang perebutan infinity stones tersebutlah yang menciptakan sosok baik-sosok jahat, pahlawan-penjahat, Avengers-musuh avengers. Menjadikannya sekuel tontonan sepanjang 3000 menit dengan satu kesimpulan: Avengers adalah kumpulan pahlawan super yang baik versus Thanos gila yang dengan jentikan jarinya telah menghilangkan separoh isi semesta.  Avengers dengan segala drama, intrik dan semua kemegahan tak berbatas biaya versus Thanos yang cuma bermodalkan baju zirah dan helm non SNI.

*

Setelah menonton infinity war gue melihat sosok Thanos dari sudut yang berbeda. Apa yang salah dari seorang Thanos? Ambisi-nya kah? Kehancuran yang ditimbulkannya? Niat jahat-nya kah?. Benar bahwa Thanos ingin menguasai infinity stones, tapi apakah dia ingin menjadi penguasa alam semesta? apakah dia ingin mengakuisisi semua planet yang ada?. Jawabannya jelas TIDAK. Thanos tahu persis kekuatan dari infinity stones. Thanos juga paham niat dari semua yang ingin memiliki infinity stones yaitu ingin menjadi yang terkuat dan melakukan invasi kemana-mana. Semua itu menurut Thanos adalah masalah yang tidak akan pernah berakhir. Si kuat akan menindas yang lemah, yang lemah akan berusaha menjadi kuat untuk membalas. Begitu yang akan terjadi terus menerus dan tiada akhir. Keseimbangan alam semesta terganggu karena keserakahan penghuninya. Yang berlebih tidak mau berbagi jika tidak disembah, sehingga satu-satunya cara adalah dengan memiliki infinity stones; untuk mengamankan diri dan rakyat masing-masing. 

*

Kemampuan Thanos memahami masalah ini lah yang berbeda dengan Avengers. Avengers berinvestasi tiada batas (entah uang dari mana), mengumpulkan para pahlawan super, menciptakan senjata super canggih, semua demi bertahan dari serangan-serangan makhluk angkasa luar pimpinan Thanos. Avengers hanya tahu bahwa ditangan Thanos, infinity stones akan digunakan untuk menghilangkan separoh alam semesta. Avengers tidak mau tahu mengapa Thanos sangat berkeras melakukan hal tersebut.

*

Di akhir film infinity war, terlihat Thanos duduk tenang menikmati keheningan alam yang tenang dan damai. Tidak terlihat kepongahannya karena telah mengalahkan Avengers sekaligus berhasil memiliki ke-6 infinity stones. Apakah lantas Thanos menjadi raja? Apakah lantas Thanos menjadi penguasa di bumi? Atau di planet lainnya?. Apa yang dilakukan Thanos setelah menguasai infinity stones terjawab di film Avengers: Endgame yang semakin menguatkan keyakinan gue menjadi 'Tim Thanos'. Di film tersebut terlihat Thanos tinggal sendiri di planet terpencil. Bercocok tanam, menikmati keseharian dengan alam yang tenang dimana air mengalir jernih dan burung-burung berkicau merdu. Thanos bahkan memasak sendiri layaknya mahasiswa tahun pertama yang sok-sok berhemat saat jauh dari orang tua. Thanos memang menjentikkan infinity stones yang mengakibatkan separoh alam semesta hilang menjadi debu. Setelah melakukan itu dia lalu menghancurkan infinity stones, dengan risiko sakit dan cacat, syukur-syukur dia masih tetap bernyawa. Dia tak ingin masalah yang sudah dia selesaikan akan muncul lagi dengan keberadaan infinity stones. 

*

Apa yang terjadi kemudian adalah egoisme Avengers, baper dan gak bisa move on. Hawkeye yang tidak terima kehilangan anak istrinya kemudian menjadikan kehilangan tersebut sebagai pembenaran untuk membunuhi orang-orang jahat. Yang lainnya depresi karena tidak bisa menerima kenyataan mereka tidak cukup kuat untuk menghentikan Thanos. Mereka pun mengerahkan segala daya upaya untuk membalas kekalahan tersebut. Thanos dicari dan dihabisi, tapi itupun tidak membuat mereka bahagia. Mereka lalu mencari cara untuk kembali ke masa lalu, mengumpulkan infinity stones dan mengembalikan orang-orang kesayangan mereka ke posisi semula. Tindakan yang akhirnya memicu pertarungan epic antara Thanos dengan Avengers. Thanos datang dengan kekesalan yang sangat karena kedamaian alam semesta terusik kembali. Thanos kesal karena dia tidak pernah mempunyai sentimen pribadi dengan musuh-musuhnya. Dia tidak memilih siapa-siapa yang akan dihilangkan, semuanya acak sesuai keinginan infinity stones.  Thanos pun murka dengan keegoisan Avengers, sehingga dia memutuskan untuk menghapus semua sekalian, supaya tindakan Avengers tidak terulang lagi. Pertempuran Epic terjadi, singkat cerita Thanos kalah, Tony Stark pun akhirnya tiada, menyusul Nathalie yang mengorbankan dirinya demi mendapatkan soul stone. Kebahagiaan telah menyelamatkan alam semesta ternoda akibat kehilangan tersebut. Sebuah keadilan yang dipaksakan untuk menutupi sifat egois mereka terhadap Thanos.

*

Sikap gue mendukung Thanos ini mendapat protes dari anak istri di rumah, tapi pendirian gue tetap: Thanos hanyalah korban egoisme Avengers. 

Jakarta, 14 Mei 2019


Komentar

  1. Lanjutkan kembali nonton Marvel Cinematics Universe lainnya pak Indra. Berikut nya akan ada Iron Man dari penerus Tony Stark ... he he. Cara pengungkapan dalam bercerita ringan dan bersahaja. Keren dan salut. Nice story telling pak

    BalasHapus
  2. waduh deg2an sayah dipuji pemilik Rumah Kaca, mudah2an pertanda baik ya...ahsiaaap Pak, makasih

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. seberapa yakin anda gak dinilai pak iko? wkwkwkwk

      Hapus
    2. ampun kaka, itulah alasan komentar dihapus lagi

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....

Siapa Sih Ini

  by Ash Beige Baby Lo pernah ngga sih, ngerasa lo jadi orang yang beda di setiap tempat? Kayak… di satu circle lo jadi versi yang ini, di tempat lain lo jadi versi yang lain lagi, dan anehnya… semuanya terasa “lo” tapi, bukan juga Gue ngalamin itu setahun terakhir. Dan jujur, capek banget. Karena setiap hari gue harus “jadi sesuatu”, Sampai di satu titik gue mulai nanya ke diri gue sendiri: Gue ini sebenarnya apa? ..atau siapa, sih? Am I even… real? Rasanya kaya gue terlalu bisa menyesuaikan diri  sampai akhirnya kehilangan bentuk asli  Terus di tengah kekacauan itu, gue ketemu satu “tempat”. Atau mungkin… satu orang  Yang bikin gue ngerasa, “oh… ini gue.” Ngga perlu adjust  dan mikir harus jadi siapa. Ngga perlu takut di judge juga Dan jujur  rasanya kayak nemu pulau yang nyaman ditengah badai lautan Padahal tujuan gue dermaga dan daratan pulau Jawa Sementara itu pulau berkeliaran serial killer  Tahu bagian paling bahayanya? Waktu lo lagi lost banget...