Langsung ke konten utama

Siapa Sih Ini

 by Ash Beige Baby


Lo pernah ngga sih, ngerasa

lo jadi orang yang beda di setiap tempat?

Kayak… di satu circle lo jadi versi yang ini,

di tempat lain lo jadi versi yang lain lagi,

dan anehnya… semuanya terasa “lo”

tapi, bukan juga


Gue ngalamin itu setahun terakhir.

Dan jujur, capek banget.

Karena setiap hari gue harus “jadi sesuatu”,

Sampai di satu titik gue mulai nanya ke diri gue sendiri:


Gue ini sebenarnya apa?

..atau siapa, sih?

Am I even… real?

Rasanya kaya gue terlalu bisa menyesuaikan diri 

sampai akhirnya kehilangan bentuk asli 


Terus di tengah kekacauan itu,

gue ketemu satu “tempat”.

Atau mungkin… satu orang 

Yang bikin gue ngerasa,

“oh… ini gue.”

Ngga perlu adjust dan mikir harus jadi siapa.

Ngga perlu takut di judge juga

Dan jujur  rasanya kayak nemu pulau yang nyaman ditengah badai lautan

Padahal tujuan gue dermaga dan daratan pulau Jawa

Sementara itu pulau berkeliaran serial killer 


Tahu bagian paling bahayanya?

Waktu lo lagi lost banget,

apa pun yang bikin lo ngerasa utuh

akan lo anggap sebagai jawaban atas segalanya

Padahal belum tentu.

Dan itu yang kejadian, gue kira itu real.

Gue kira itu “heaven sent”.


Padahal sekarang gue sadar…

itu cuma...

Ah,

Datang atau hilang juga ngga nyelesain masalah apa-apa.


Karena ternyata akar jamurnya bukan di gue.

Ada satu “entitas” yang selama ini pelan-pelan ngerusak cara gue melihat diri gue sendiri.

Secara ngga langsung tentu aja

Tapi konsisten, lewat omongan, lewat sikap.

Lewat cara dia nge-frame gue di depan dunia


Sampai akhirnya gue mulai percaya:

kalau gue itu cuma beban,

kalau gue ngga pernah bisa cukup baik untuk siapapun,

dan kalau semua yang gue lakuin itu salah.


Padahal sekarang gue tahu

itu bukan gue. Itu dia.

Itu proyeksi dia.

Dan bagian paling parah dari semua ini bukan apa aja yang udah dilakukan ke gue

tapi ya itu, 

fakta bahwa gue sampai mempertanyakan self worth diri gue sendiri


Well well

Hidup tuh suka punya twist aneh.

Di saat entitas itu mau melebur jadi zat lain atau malah mau benar-benar hilang,

dia justru bertransformasi jadi malaikat.

Baik banget.

Hal-hal manis yang dulu ngga pernah dia lakuin, sekarang dia lakuin ke gue.

Dan itu bukan di depan dunia

Bukan di depan orang juga

Bukan buat pencitraan.

Cuma gue sama dia.


Dan gue jadi bingung.

Kayak… ini apa?

Peace Offering?

Penyesalan?

Bendera Putih?

Atau cuma… versi lain dari dia yang selama ini gue gamau coba kenal?


Dan yang bikin gue makin kesel sama diri gue sendiri adalah

kenapa ya…

gue gampang banget luluh?

Cuma karena diperlakukan baik sedikit,

gue hampir lupa semua hal jahat yang dia lakukan 

selama seabad kemarin

Ngga seabad deng lebay


Padahal gue paham jelas,

Entitas itu yang bikin gue gila sampai titik ini (itu)

(Waktu itu, udah lewat)

Sekarang udah ngga gila


So this is my curse

bukan tentang gue baik atau bego.

Mungkin harus pelan-pelan belajar lagi

buat kenal  sama diri gue yang sebenarnya

tanpa bias makhluk bumi dan langit

Atau campur tangan orang lain.


Satu lagi

Ini yg abis nulis-nulis gini juga

Ini Gue atau Bukan?

Komentar

  1. sepertinya ini curhatan melting dibalut dengan kegundahan jati diri sih, wkwk.
    bait awal setuju, untuk orang introvert yg bertopeng ekstrovert seperti sy misalnya, ini sangat relevan sekali. kereen sihh.
    ditunggu karya selanjutnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thankyou so much for the words, dear my friend from the grave

      Hapus
  2. versi apapun itu, ya itu kamu. diri mu, dengan beberapa ekpresi yang mungkin tidak dapat kamu keluarkan untuk semua orang. ya ke beberapa orang saja. tapi itu tetap dirimu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. if it's true just so, it wouldn't feel like a burden. But thankyou for the perspective :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....

Kisah Iteung, Episode Eau de Toilette

Sore ini Iteung maksain aerobic di rumah diiringi lagu dangdut Terajana. Kebayangkan aerobic model apa yang dilakoni Iteung. Cuma nggak perlu dibayangin takutnya mual nanti. Asyiknya memang nggak tanggung-tanggung nih aerobic diiringi lagu dangdut. Serasa rumah lagi digoyang gempa dengan kekuatan 10 derajat Celsius. Ow ow salah ya. Maklum waktu sekolah Iteung selalu bolos pas pelajaran Geografi, jadinya buta hitung-hitungan gempa bumi. “Terajana..terajana lagunya lagu India .”   Lagunya bikin Iteung tambah lincah bergoyang sampai abis meja dan lemari ketendang-tendang kaki Iteung. Lagu yang luar biasa buat mengiringi aerobic sore ini. Sayangnya kurang pohon nangka aja buat dipeluk-peluk. “Ayo kang, ikutan!” Iteung teriak ngajak si Akang bergoyang. Si akang nggak nyahut dari kamarnya. Udah seharian ini dia asyik di kamar nonton film si Arnold Selau Segar yang judulnya Terminal apa gitu, Mungkin Terminal Pulogadung. Iteung nengok sebentar ke kamar, eh kenapa itu si Ak...