Aku sedang merenung seberapa berat dosa-dosa yang kuselipkan di balik kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan. Layar timbangan tanpa babibu memberitahu seberapa berat biji kopi menjejali wadahnya. Belum sempat berhitung, jejalan butiran legam yang tampak seragam dijerumuskan ke medan penggilingan. Tidak ada teriakan, hanya raungan bilah pisau memutar, mengikuti irama mesin. Aku tak bisa menutup telinga. Serbuk yang tetap legam seragam keluar, kembali ditampung di wadah silver. Kini jemari bisa menekan memporak-porandakannya, beda sebelumnya. Waktu yang singkat, hanya beberapa menit, tak memberikan jeda istirahat. Air panas perlahan membalur permukaan badan, sedikit berasap. Serbuk-serbuk kebasahan, membiarkan tetesan yang tetap legam seragam mengalir ke penampungan. Wujudnya larut, bekasnya menetap.
Menuangkan Ide Melalui Tulisan