Postingan

Escalator

Gemerlap lampu berwarna-warni dan jejak langkah pengunjung yang lalu lalang selalu menjadi penggemarmu. Keberadaanmu itu selalu dinantikan ketika  lift   tidak mampu lagi mengajak para pengunjung pindah dari lantai satu ke lantai yang lain. Secercah harapan muncul ketika tidak ada lagi bangunan yang menggunakan anak tangga statis kecuali di lokasi wisata alam. Suara tawa dan canda selalu menghiasi putaran sistem kami. Ada seorang ayah dengan anaknya, seorang ibu dengan anaknya, seorang pria dengan kekasihnya, seorang nenek tua yang dibantu sanak saudara serta cucunya mencoba berdiri diatas kami. Terkadang ada juga sekelompok pelajar dan olahragawan yang bersemangat menginjakkan kakinya dengan tidak memperhatikan batas-batas kewajaran dan keselamatan diri mereka. Memang sih, kami banyak digunakan di bangunan seperti hotel, stadion olahraga,  mall, convention hall , gedung perkantoran, stasiun kereta api dan bandara. Pasar dan beberapa bangunan lama tidak lagi menggun...

Posyandu

Iya Posyandu. Kenapa Posyandu ? Iya. Karena keberadaan posyandu itu saat ini sudah jarang terdengar. Pada jaman dulu, keberadaan posyandu sangat membantu warga di sekitar kecamatan atau kelurahan tempat tinggalnya. Posyandu juga menjadi alternatif bagi warga yang memiliki keterbatasan biaya berobat ke rumah sakit. Adanya Posyandu itu cukup meringankan biaya berobat untuk pertumbuhan anak-anak balita dimana biaya suntik cukup mahal saat itu. Apalagi saat itu, saya ditempatkan di daerah Kendari, Sulawesi Tenggara pada tahun 1999. Saat itu, biaya berobat cukup mahal dan jumlah dokter spesialis anak sangat terbatas. Makanya ketika anak pertama lahir tahun 2002, kami memanfaatkan keberadaan Posyandu. Terlintas bagaimana penyakit Dipteri sudah menjadi Kejadian Luar Biasa di beberapa wilayah di Indonesia. Jadi dalam pikiran saya, kemana Posyandu ini? Kok bisa kejadian seperti ini terjadi? Apakah warga atau masyarakat sudah tidak lagi terlayani dengan adanya Posyandu atau memang Posyandu suda...

ITU TABU

“ Lagian juga ngapain dibahas hal yg sensi disini??? Gk pada tptnya . Kalo mau jujur ya hrsnya si sam ngerti . Semua sdh ada yg ngurus . Lihatlah jujur lagi keadaan di Indonesia . Ahhh... sudahlah.... ” Tabu katanya membahas hal-hal yang sensitif. Hal sensitif bagi tiap orang, kelompok masyarakat, mulai dari kampung, kota, sampai bangsa-bangsa berbeda-beda. Bahkan antar generasipun berbeda-beda. Banyak norma dipakai dalam menentukan hal sensitif atau bukan. Mulai dari norma agama, adat istiadat, kebiasaan, sampai norma kepantasan atau bekennya etis- tidak etis. Sebenarnya norma-norma yang ada bukan hanya mengatur hal-hal sensitif norma mengatur hampir semua sisi kehidupan sesuai kebutuhannya masing-masing. Banyak yang seiring perkembangan jaman tidak sesuai lagi dan yang paling jelas perubahannya adalah norma hukum yang perubahannya jelas tercatat sejarahnya. Seperti halnya dulu pemberian gratifikasi atau uang ucapan terima kasih yang dulu “dianggap” sebagai bagian dari silaturahm...

Jogja yang Selalu Istimewa

Gambar
Buat saya, Jogja istimewa, mengapa? Bukan hanya karena sebutan Daerah Istimewa yang diberikan padanya,  bukan pula hanya karena almarhumah Ibu saya kebetulan berasal dari Bantul,  salah satu Kabupaten di Selatan Jogja.  Alasan yang lebih pas mungkin karena daerah ini buat saya memang menarik.  Pemandangan alam yang menakjubkan, budayanya yang kental dengan aroma Jawa,  dan keramahan penduduknya yang bikin betah berlama-lama disana.  Setiap tahun Jogja berhasil menarik banyak wisatawan untuk berkunjung ke daerahnya.   Sekedar menikmati keramaian Jalan Malioboro atau mencicipi kuliner khas daerah Jogja  yang bertebaran di seluruh penjuru kota ini, dirasa sudah cukup membahagiakan.  Film favorit Indonesia "AADC" malah menjadikan Jogja sebagai  setting  pengambilan gambar, sekaligus mengenalkan  spot-spot  wisata yang belum banyak  tereksplore,   hingga kemudian menjadi tujuan wisata...

Debat Kusir: Seratus Hari

Alkisah,  pada hari minggu ku turut ayah ke kota. Naik delman istimewa ku duduk di muka. Ku duduk samping pak kusir yang sedang bekerja. Mengendarai kuda supaya baik jalannya. (boleh sambil nyanyi kok bacanya) Ayah saat itu memilih duduk di belakang dengan posisi diagonal dengan pak kusir. Mungkin, supaya bisa menjagaku dari belakang dan gampang jika ingin ngobrol dengan pak kusir. Maklum, ayahku sedikit cerewet atau halusnya, suka ngobrol. Di manapun dan bagaimanapun, biasanya ayah akan mulai mengajak ngobrol siapa saja orang yang ada di dekatnya dengan tema apapun yang melintas di benaknya. Terutama kalau sudah sampai terdengar bunyi-bunyian alam sekitar, bunyi jangkrik misalnya. Singkat cerita, setelah sorak sorai kegiranganku naik delman lenyap seiring "serak" nya tenggorokan, terdengar "tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk", suara sepatu kuda (yuk lanjut nyanyi lagi). Dengan sigap ayah menangkap pertanda, dan dengan cepat bertanya, "Gimana bang, kemari...

Nasibmu, Rokayah

Adun menghitung uang yang dihasilkannya dari naik ojek siang tadi. Setelah dihitung-hitung jumlahnya lumayan banyak. Dua ratus delapan puluh ribu terkumpul dari pagi sampai sore hari. Kebetulan siang ini ada orang yang minta diantar ke Blok M dari Depok. Lumayan seratus ribu sekali jalan. Orang itu juga minta Adun menunggunya untuk diantar kembali ke Depok. "Wah Lu dapet banyak, Dun. Cepet kaya Lu. Gue baru dapet cepek sedari tadi narik," ujar Kasmin sesama tukang ojek yang biasa mangkal di jalan Kecapi sambil nyengir.                    "Pan Lu udah Gua kasih tau, Lu daftar ojol. Biar ningkat penghasilan Lu," balas Adun. "Males Gua, susah make hape nye. Mending Gua gini aja deh. Yang penting dapur tetep ngebul, bini Gua nggak nyap-nyap," "Ya udah, kalo Lu maunya gitu. Lu jangan iri kalo Gua dapet lebih gede dari Elu," Adun memasukkan uang ke dalam sakunya. "Gua pulang dulu," ujar Adun...

Bijaksana-bijaksini

Rabu, 17 januari 2018 kemarin seorang kawan, abang, dan juga senior yang sedang menyelesaikan disertasi doktornya mengatakan kepada saya dan beberapa kawan lainnya,  “Sam, makanya kuliah doktor, kalau ilmunya ga banyak nambah tapi ada satu yang gue rasa gue dapet di situ. Wisdom, gw ngerasa betul gw berubah....” . Kurang-lebih begitu ujarnya, kali ini saya tidak bisa mengutip kata-perkata karena keterbatasan ingatan. Di hari Rabu seminggu sebelumnya seorang kawan, “pak dosen”, mas, dan juga senior yang pergi meninggalkan unit kerja kami untuk mengabdi menjadi Widyaiswara guna membagi ilmunya lebih luas lagi memberikan kata perpisahan di WAG bukannotadinas, begini katanya “Terimakasih semuanya, semangat tetap menulis untuk kebaikan hidup: minimal buat diri kita, atau yang paling minimalis, buat kewarasan pikiran kita. Karena dalam tulisan itu, kita bisa protes, ngedumel, bahkan 'misuh'. Ini pengalaman, bukan arahan, bukan pula pengajaran. Ojok 1 dikomentari.” Sedangkan tadi p...