Langsung ke konten utama

Nasibmu, Rokayah


Adun menghitung uang yang dihasilkannya dari naik ojek siang tadi. Setelah dihitung-hitung jumlahnya lumayan banyak. Dua ratus delapan puluh ribu terkumpul dari pagi sampai sore hari. Kebetulan siang ini ada orang yang minta diantar ke Blok M dari Depok. Lumayan seratus ribu sekali jalan. Orang itu juga minta Adun menunggunya untuk diantar kembali ke Depok.
"Wah Lu dapet banyak, Dun. Cepet kaya Lu. Gue baru dapet cepek sedari tadi narik," ujar Kasmin sesama tukang ojek yang biasa mangkal di jalan Kecapi sambil nyengir.                  
"Pan Lu udah Gua kasih tau, Lu daftar ojol. Biar ningkat penghasilan Lu," balas Adun.
"Males Gua, susah make hape nye. Mending Gua gini aja deh. Yang penting dapur tetep ngebul, bini Gua nggak nyap-nyap,"
"Ya udah, kalo Lu maunya gitu. Lu jangan iri kalo Gua dapet lebih gede dari Elu," Adun memasukkan uang ke dalam sakunya.
"Gua pulang dulu," ujar Adun sambil tancap gas.
Kasmin melongo melihat Adun yang ngacir tanpa memberi kesempatan kepada Kasmin untuk membalas ucapannya.
******
Sesampai di rumahnya, Adun langsung menuju dapur mencari makanan. Di meja kecil rumah kontrakan petaknya tersedia satu bakul nasi, ikan asin dan tempe goreng. Tak ketinggalan sambal terasi yang selalu terhidang setiap harinya. Adun mengambil piring dan mengambil nasi sampai piringnya penuh. Rokayah, istri Adun mengambilkan air minum dan duduk disamping Adun.
Sambil mengangkat satu kakinya, Adun makan dengan lahap. Adun belum sempat makan ketika narik tadi.
“Bang, si Pakih pengen ikut piknik di sekolah ke Sawangan,” Rokayah membuka percakapan. Adun terus makan tanpa membalas perkataan Rokayah.
“Biayanya lima puluh ribu, Bang. Duit Saya udah abis. Malu mau minjem ke Bu Nana, malu. Udah keseringan minjem. Yang bulan kemarenan aja belum dibalikin,” sambung Rokayah.
Untuk membantu suaminya, Rokayah menjadi buruh cuci di rumah tetangganya. Upah dari menjadi buruh cuci itu lumayan buat menambah belanja sehari-hari dan uang jajan Pakih, yang baru kelas tiga SD.
“Kita juga harus mikirin nih, gimana Saya lahiran nanti. Situ udah ngumpulin uang kan? Tanya Rokayah.
“Lu, bini macam apa. Suami pulang bukannya disambut malah dikasih masalah. Gua mau nyelesaiin makan dulu baru kita omongin soal itu,” ujar Adun sambil menyendok nasi ke dalam piringnya. Rokayah cemberut mendengar ucapan suaminya.
Rokayah bangkit dari duduknya dengan susah payah karena perutnya yang sudah mulai membesar. Rokayah berjalan keluar dari rumahnya.
“Jangan lupa diri, Bang. Sisain buat si Pakih,” ujar Rokayah kesal.
“Nih, hasil Gua narik hari ini,” Adun menyerahkan lima lembar uang dua puluh ribuan kepada Rokayah.
“Lu bayar uang piknik si Pakih. Besok masak ayam. Masak makannya ikan asin melulu, bosen Gua. Kalo ada sisanya lagi ditabung buat biaya Lu ngelahirin,” Adun berjalan ke kamar. Tak berapa lama, Rokayah mendengar suara suaminya ngorok.
“Assalamualaikum,”
“Waalaikum salam,” balas Rokayah.
“Eh anak Emak udah pulang,” dengan sigap Rokayah mengambil tas dari punggungnya Pakih, anaknya. Rokayah mengambil sepatu Pakih dan disimpannya di belakang. Rokayah takut sepatu si Pakih ada yang ngambil. Sepatu itu sepatu bermerk, pemberian Bu Nana karena anaknya sudah bosan dengan sepatu itu.
“Mak, Pakih lapar,”
“Makanlah, Nak!” jawab Rokayah.
“Pakih bosen, Mak. Makannya ikan asin sama goreng tempe melulu,”
“Terus Pakih maunya makan apa?” tanya Rokayah lembut.
“Ayam Ka Ap Ce, kayak temen-temen Pakih,” Rokayah terdiam. Otaknya mulai menghitung-hitung uang pemberian suaminya tadi. Kayaknya nggak akan cukup kalau harus beli ayam buat Pakih.
“Kih, besok aja ya Emak masakin ayam enak,” bujuk Rokayah.
“Nggak mau, Pakih pengen sekarang, Mak. Sekali aja Pakih nyobain rasanya gimana sih ayam Ka Ep Ce itu,”
“Kalo ayamnya beli di Kang Pardi gimana? Beli ayamnya aja, nggak usah pake nasi. Nasinya dari sini. Sama aja kan Ka Ep Ce, Kang Pardi Chicken,” Rokayah mencoba membujuk Pakih.
“Iya Mak, Pakih mau. Kalo di Kang Pardi biar Pakih yang beli. Mana uangnya?”
Rokayah menyerahkan selembar dua puluh ribu kepada Pakih.
“Beli dua ya, kembaliannya buat jajan kamu besok, Nak,”
“Terima kasih Emak Pakih yang paling baik sedunia,” dengan riang Pakih berlari ke luar rumah menuju gerobak Kang Pardi yang mangkal di pinggir jalan kompleks Dahlia.
Rokayah tersenyum melihat keceriaan Pakih. Hatinya bahagia melihat Pakih tumbuh menjadi anak yang santun dan termasuk pintar di kelas. Namun, di sisi lain Rokayah merasa sedih karena kemungkinan Pakih bersekolah tinggi sesuai dengan harapannya selama ini, belum tentu terwujud. Penghasilan suaminya tak menentu menghalangi Rokayah untuk memberikan yang terbaik untuk Pakih. Upahnya dari mencuci di rumah Bu Nana sebagian besar habis buat bayar kontrakan dan listrik. Rokayah hanya berharap Pakih menjadi anak yang berprestasi sehingga bisa mendapatkan beasiswa nantinya.
*****
“Digoyang mang,” suara melengking penyanyi dangdut bergema. Sambil bergoyang kiri kanan, penyanyi dangdut terus memberi semangat kepada para lelaki yang berjoget dibawah panggung.
“Bang Adun, mana sawerannya? Neng Talitha siap kok menerima,” celoteh Anah di panggung.
Talitha adalah nama panggung Anah, tetangga Adun yang berprofesi sebagai sebagai penyanyi dangdut di kampung Salak. Bayaran sekali manggung dari bosnya di Orkes Cahaya hanya cukup untuk membeli bedaknya saja. Anah mengharapkan saweran dari para pengunjung yang datang.
Sambil menggoyangkan badannya, Adun naik ke atas panggung. Dikeluarkannya uang kertas dari sakunya dan dibentuk menjadi kipas. Satu per satu diserahkannya kepada penyanyi yang berjoget bersamanya. Si penyanyi tambah bersemangat meliuk-liukkan badannya.
“Depok digoyang. Bang Adun yang paling ganteng, jangan ragu nyawer!” suara Anah genit merayu.
Adun mengeluarkan semua uang dari sakunya celananya. Satu per satu diberikannya kepada Anah. Malam itu, Adun larut dalam goyangan dangdut Anah.
“Aduuuuun....!” tiba-tiba terdengar suara perempuan tua berteriak.
Perempuan tua itu menyingsingkan kain bawahan bajunya dan menaiki panggung. Dijewernya telinga Adun dengan keras. Adun meringis kesakitan.
“Sakit, Mak!” teriak Adun.
Suara musik dangdut langsung terhenti.
“Noh, bini Lu kesakitan di rumah. Kayaknya mau ngelahirin. Bawa ke Puskesmas. Mak Kiyoh udah nggak sanggup!”
“Mak, waktu si Pakih dilahirin juga kagak kenape-kenape,” balas Adun.
“Liat dulu bini Lu, sebelum Lu nyesel,” Adun diseret perempuan tua itu.
"Rokayah, nasib Lu sial banget ketemu si Adun," perempuan tua itu menggerutu sambil terus menyeret Adun seperti ketika dia menyeret Adun kecil dulu.
“Bang Toyib..Bang Toyib kenapa kok nggak pulang-pulang,” suara Anah ditimpali musik keras lamat-lamat terdengar.
*****
Depok, 22 Januari 2018

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....

Siapa Sih Ini

  by Ash Beige Baby Lo pernah ngga sih, ngerasa lo jadi orang yang beda di setiap tempat? Kayak… di satu circle lo jadi versi yang ini, di tempat lain lo jadi versi yang lain lagi, dan anehnya… semuanya terasa “lo” tapi, bukan juga Gue ngalamin itu setahun terakhir. Dan jujur, capek banget. Karena setiap hari gue harus “jadi sesuatu”, Sampai di satu titik gue mulai nanya ke diri gue sendiri: Gue ini sebenarnya apa? ..atau siapa, sih? Am I even… real? Rasanya kaya gue terlalu bisa menyesuaikan diri  sampai akhirnya kehilangan bentuk asli  Terus di tengah kekacauan itu, gue ketemu satu “tempat”. Atau mungkin… satu orang  Yang bikin gue ngerasa, “oh… ini gue.” Ngga perlu adjust  dan mikir harus jadi siapa. Ngga perlu takut di judge juga Dan jujur  rasanya kayak nemu pulau yang nyaman ditengah badai lautan Padahal tujuan gue dermaga dan daratan pulau Jawa Sementara itu pulau berkeliaran serial killer  Tahu bagian paling bahayanya? Waktu lo lagi lost banget...