Postingan

Sawi Hijau

Pagi ini saya melihat tanaman Sawi Hijau yang saya tanam beberapa waktu yang lalu dengan perasaan bahagia. Dari bawah tanah menyembul daun-daunnya tampak berwarna hijau tua, diterpa kilau mentari yang baru saja menampakkan sinarnya menyapu semesta ini. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, saya akan menanam jenis sayur ini. Masih segar dalam ingatan saya, ketika saya kecil, setiap kali mama memasak sawi hijau dengan tahu, saya akan menggerutu karena menurut saya rasa sawi tersebut pahit dan tidak enak. Ah… mengapa mama masak sayur ini… ujarku setiap kali mama memasak sawi hijau. Entah mulai kapan tepatnya, saya bisa menikmati rasa sayur sawi hijau ini, sehingga akhirnya saya pun tergerak untuk menanamnya di halaman rumah. Peralihan rasa tidak suka menjadi suka pun saya alami pada sayur pare. Ketika saya kecil saya tidak bisa merasakan nikmatnya rasa pare yang cenderung pahit tersebut. Bahkan, meskipun dimasak dengan udang yang menjadi salah satu lauk favorit saya, tetap saja, sa...

Binar

(sebuah catatan di hari kelahirannya) Delapan tahun lalu, saat menunggu kelahiran anak ketiga, kami menyiapkan nama untuknya Pikat Lintang Maheswari. Nama yang mewakili  sebuah harapan akan kelahiran anak perempuan yang dianugerahi paras dan tingkah yang jelita. Dan,  15 Desember 2009, Tuhan mempunyai kehendak berbeda, Dia memberi kami seorang laki laki lagi. Bayi yang lahir menjelang pagi, saat cahaya matahari mulai menyamarkan cahaya bintang timur. Kami memberinya nama Pijar Lintang Timur. Sebagai pertanda akan waktu kelahirannya, sekaligus menyematkan doa dan harapan kami, agar  kelak dia menjadi bintang dari negeri timur yang akan berpijar,terus berpijar Lima tahun kemudian, Untuk ke empat kali,Tuhan menganugerahi kami seorang anak  laki-laki lagi. Laki laki yang lahir saat kami lagi dirundung duka. Kelahirannnya hanya berselang tiga hari setelah Ibu berpulang, setelah sekian waktu bertahan melawan penyakitnya. Kami meyakini setiap kali Tuhan menco...

Ketika Perang Mencapai Puncaknya: Ironi dari transportasi online

Gambar
Terus terang saya lagi malas nulis, tapi daripada ada sesuatu yang bikin ganjal di kepala ya lebih baik dibuang dulu lah ganjalannya ke baskom. Fenomena transportasi daring sudah menjadi hal yang biasa di masyarakat, bahkan dapat dikatakan moda transportasi seperti ini sudah menjadi kebutuhan. Kita bisa lihat di stasiun, mal, apartemen, perumahan bahkan pinggiran jalan, selalu saja ada orang yang mengeluarkan gadget terus ketal ketul, sesudah itu menerima telepon, lihat kiri-kanan dan jemputan pun datang. Semakin maraknya penggunaan transportasi daring tidak terlepas dari keamanan dan kenyaman yang diperoleh konsumen dan tentu saja harga yang relative murah, tanpa tawar menawar dan mudah. Sehingga tidak heran jika transportasi daring ini semakin populer terutama di daerah perkotaan. Pada awalnya moda ini dipelopori oleh Uber di Amerika Serikat dimana sang pendiri perusahaan tersebut hanya bermaksud untuk membuat aplikasi Shared ride dimana orang yang membutuhkan tumpangan un...

Wamena, Suatu ketika

Satu “Yogotak Hubuluk Motok Honorogo” Salah satu wa group yang ada di hp saya adalah Forum Ex wamena. Tempat kumpulnya atau kata pak ustadz tempat silaturakhim nya orang orang yang pernah bertugas di Wamena, Papua (ibu kota Kabupaten Jayawijaya). Tak jauh beda dengan group lain yang saya ikuti, group ini terasa ramai kalau lagi ada yang ulang tahun atau berduka, rame copy paste . Hingga ada seorang teman yang berseloroh, katanya group wa itu group habede dan group kedukaan. Meski demikian, hal yang mengasyikan bagi kami di group ini adalah kadang kala kami dibawa pada kenangan masa penugasan karena postingan cerita-cerita masa penugasan di wamena. Kalau kebetulan cerita itu berkaitan dengan peristiwa yang kami alami bersama, group menjadi semarak dengan komentar dan tanggapan kami yang terlibat, sesuai peran dan versi kami masing-masing. Terlebih kalau cerita yang disampaikan   berkaitan dengan sesuatu yang dialami oleh seseorang atau sebagian saja   dari kami, dan p...

PATUNGAN YATIM (LAGI)

Gambar
Seneng sekali alhamdulillah, masih bisa diberi kesempatan menuliskan ini. Maaf bagi yang bosen yaa. Sebenarnya, saya dulu sudah pernah menuliskan soal patungan yatim di blog ini. Memang sih, sudah agak lama. Ini link-nya bagi yang mau mampir. http://www.bukannotadinas.com/2017/04/patungan-yatim.html Kali ini, saya mencoba metode patungan yatim baru, khususnya buat teman-teman yang merasa “berat” kalau harus menyetor secara bulanan. Yaitu.. jeng jeng.. dengan melakukan donasi setiap Jum’at (atau hari lain juga bisa, sih), misal sebesar 10 rb rupiah saja. Mungkin, ada yang berpikir bahwa menyumbang sebesar 50 rb itu mahal dan banyak. Nah, kalau dibagi seminggu sekali 10 rb/12 rb, dalam satu bulan bisa dapat 40rb/48 rb. Wah.. lumayan kan. Jumlah 10 rb itu sebetulnya buat kita seperti cukup buat jajan saja, atau kalau makan.. dapatnya yg sederhana. Namun.. jumlah itu buat orang yang kesusahan lumayan banget pastinya, bisa buat beli beras 1 liter, bisa untuk beli buku tulis, buat...

Raker DSP 2018

Awal bulan Maret lalu, kami menyelenggarakan Rapat Kerja Direktorat Sistem Penganggaran. Ada yang menarik dari penyelenggaraan raker tersebut yang rasanya berbeda dari raker-raker sebelumnya. Acara yang diselenggarakan selama 3 hari 2 malam tersebut melibatkan sebanyak mungkin staff DSP yang bahkan beberapa diantaranya merupakan ‘pemain’ baru. Biasanya dalam suatu event, panitia enggan untuk menempatkan para pemain baru karena tidak mau atau tidak berani mengambil resiko, takut acaranya tidak sukses, namun kali ini saya melihat panitia berani mengambil resiko menempatkan beberapa pemain baru. Dengan semakin banyaknya pegawai yang dilibatkan terasa keakraban yang tercipta, seolah semua yang ditugaskan berupaya mempersembahkan yang terbaik dari yang mereka punya, setidaknya itulah yang saya rasakan. Pun ketika terjadi kesalahan karena adanya human error , panitia tidak serta merta menyalahkan si pembuat kesalahan, namun bisa segera memahaminya dan acara berlanjut seolah tak ...

Kenangan di Pangkalpinang (2)

Penempatan pertama saya adalah di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Anggaran (lama) yang sekarang dikenal sebagai Direktorat Jenderal Perbendaharaan, tepatnya di Direktorat Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (sekarang menjadi salah satu Direktorat di DJPU). Cukup lama saya berkantor di situ, sementara banyak rekan-rekan saya sudah mutasi berulang kali baik itu mutasi dalam kota, luar kota, maupun antar pulau, maklum DJPB memiliki kantor vertikal yang tersebar dari Sabang  sampai Merauke. Sementara saya sejak single, menikah sampai dengan dikaruniai 3 orang putra/i masih tetap berkantor di Kantor Pusat.  Setiap kali mendengar ada isu mutasi rasanya selalu tidak tenang, takut kalau-kalau kami dimutasi. Lama kelamaan perasaan itu semakin mengganggu, sampai akhirnya kami berdua sepakat bahwa kemanapun kami dimutasi, kami akan berangkat bersama-sama dan menghadapi apapun bersama-sama.  Setelah bertekad dengan keputusan tersebut, kami merasa lebih tenang, maka ketika SK tur...