Langsung ke konten utama

Postingan

Warisan

  “Jon, lu ngoyo banget nyari duit. Buat apaan? Sesekali nikmatin hidup dong … ” kuteguk kopi hitam panas kesukaanku. Kulihat Jono sedang meniup-niup kopinya yang masih panas. “Gue ini harus kerja keras. Gue nggak mau istri dan anak-anak gue susah nanti. Makanya gue kerja, nabung, terus beli properti yang banyak, biar mereka hidupnya lebih mudah nanti.” Memang sih, dari semua temanku, Jono ini paling banyak memiliki harta. Mungkin bila kami berdua sudah nggak ada, Jono akan tenang karena anak-anaknya sudah memiliki harta warisan masing-masing. Sampai setua ini, aku nggak memiliki apa-apa selain rumah yang kutinggali saat ini. Jono memang kaya dari segi properti yang dimilikinya tapi kalau kami bertemu, akulah yang selalu membayari makan atau minum. Aku merasa kualitas hidupku lebih baik darinya. Aku masih bisa bercengkrama dengan istri dan anak-anakku selepas pulang kerja. Aku banyak menghabiskan penghasilanku untuk membiayai pendidikan anak-anakku dan keponakan-keponakan, ...

Berbohong

"Pagi Mas, saya mau naik eskalator nih, tunggu di halte kecil ya" ucap seorang pria mengakhiri pembicaraan via telepon dengan pengendara ojek online. Karena posisi berdiri saya persis berada disampingnya, saya mendengar dan spontan mengernyitkan dahi, "Hei, kitakan masih di dalam komuter, baru akan tiba di stasiun tujuan beberapa menit lagi", sontak batin saya berkata demikian. Di lain waktu, Ada pula kejadian yang sama, yaitu sewaktu komuter yang saya tumpangi baru saja tiba di stasiun Kebayoran, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita berbicara di telepon genggamnya, mengabarkan kalau dia sudah tiba di stasiun Tanah Abang, padahal komuter baru berangkat dari stasiun Kebayoran Lama. Dua peristiwa di atas menjadi pelajaran yang sangat berharga khususnya untuk saya pribadi. Jangan pernah menyepelekan perbuatan buruk seperti berbohong, selain menjadi kebiasaan buruk yang terus terulang, kelak kita akan mempertanggungjawabankannya dihadapan Allah Swt. Semoga kit...

Tije ...

Naik Tije J a k ar t a Bekasi baru tiga kali Setelah tau jadi tidak apriori Ternyata naik tije itu cukup penuh arti Meski diri harus sabar mengantri Suasana bis nyaman dan sepi Meski di halte masih perlu antri Rasanya ingin selalu berganti Antara KRL dan bis tije masa kini Selain murah dan nyaman Tije juga cukup ramah bagi penyandang disabilitas Meski jam sibuk tidak berdesakan Pengguna tetap saling jaga moralitas Jalurnya lancar tanpa hambatan Penumpang bisa tidur dengan pulas Meski masih macet sekitar BNN Namun tenaga tidak akan terkuras deras Tije Tosari-SMB, 2 Oktober 2018

Pejuang Kuda Besi

Ini kisah kehidupan para pekerja urban di Jakarta dan sekitarnya. Iya, mereka adalah pejuang. Kenapa saya sebut sebagai pejuang? Iya karena mereka memang berjuang demi memberikan nafkah lahir untuk keluarga dan dirinya. Kenapa kuda besi? Ya karena kuda besi itu sebagai representasi motor dalam mencari nafkah itu. Trus kenapa pilihannya motor? Karena itulah moda yang paling efisien dalam menghantarkan tugasnya sebagai pejuang. Mari kita bahas sedikit menurut versi saya. Sebutan pejuang ini layak saya pakai karena para pengguna motor ini memang mencari nafkah untuk memberikan nafkah bagi keluarga dan dirinya. Mungkin banyak pertimbangan kenapa pilihannya jatuh kepada kuda besi ini. Pertama kuda besi ini sangat mudah dimiliki dengan skema cicilan atau tunai. Kedua, kuda besi ini sangat efisien digunakan baik dari sisi waktu maupun biaya. Saya pernah menggunakan jasa kuda besi ini selama sebulan dan hasilnya sangat berbeda ketika saya naik  commuter line.  Saat naik  com...

Cinta Syahdu

Meski hanya dari jauh kau bisa kulihat.. Meski hanya bisa ku tatap tanpa bisa ku dekap Meski rindu hanya berbuah tunggu.. Meski hanya bisa kukagumi keindahanmu.. Tak mengapa Aku rela menjaga rasa Sampai bila dunia ku fana Menerbangkan sisa sisa asa Tak mengapa Meski hanya di alam khayal Dapat ku nyatakan cinta syahdu

Untukmu di sana

Jika memang tak terkatakan padamu biarlah kuceritakan saja pada alam pada air laut yang melukiskan langit biru pada daun yang menari dalam buaian angin pada laba-laba yang termangu dalam sarangnya meski telah lama ianya berlalu semuanya tetap indah walau tak mengapa tiada arti bagimu semuanya tetap menjadi kenangan walau tak mengapa tak menjadi kenanganmu indah ini kan kusimpan dalam hati kan ku jaga sungguh sepenuh hati semoga abadi meski hanya dalam mimpi Tanjung Bongo, Galela Halut, 141218