Postingan

Dukun Paling Sakti

“Muka lu kenapa ditekuk gitu?” tanya Baron kepada Acep ketika mereka makan berdua di kantin. “Gue malu mau cerita,” walau Acep berbisik, Baron bisa mendengarnya karena suasana kantin saat itu sedang sepi. “Ya udah, nggak usah cerita,” Baron melanjutkan makannya. Sejenak hening. Tak ada percakapan antara keduanya. Baron dan Acep sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Baron makan dengan lahap sedangkan Acep asyik menyeruput kopi hitamnya. Setelah menghabiskan makanannya Baron bangkit dari duduknya. Acep menuangkan kopi dari gelas belimbing ke piring kecil yang jadi alas gelasnya. “Gue duluan ya, ada kerjaan yang harus selesai siang ini,” Baron pamit. “Sebentar lah. Duduk dulu, ngapain juga buru-buru. Di ruangan juga masih sepi kok,” Acep menahan Baron. “Ngapain juga gue lama-lama di kantin, kasian yang mau makan nggak kebagian kursi nanti.” “Gue butuh temen buat cerita nih,” ujar Acep memaksa. Terpaksa Baron duduk kembali di kursinya. Ia menunggu apa yang akan diceri...

Lauik Sati (Potongan ke-1)

Berkali-kali Izzam terbangun dan melirik Jam di telepon pintarnya. Setengah tiga dini hari. Tampaknya Ia tak sabar menunggu pagi. Ditegakkan punggungnya, kretak, kretak! Dilemparkan pandangan ke sisi ruangan, sendiri, gelap, dan sunyi. “Tentu saja, siapa pula yang masih terjaga di pagi buta ini”, gumamnya. Izzam turun dari kasurnya, menaikan tirai kelambu yang melindungi malam-malamnya dari nyamuk. Dua kali berselang infus karena demam berdarah membuatnya trauma dengan spesies kecil yang mematikan itu. Ia beranjak, menjauhkan lambungnya dari peraduan malam. Diraihnya kunci yang menggantung, memutar gagang pintu, sembari menggaruk-garuk leher, sekonyong-konyong menghirup rakus udara sepertiga malam. “Udara pagi buta di Ibu kota ternyata tak buruk juga”, lirihnya. Pemuda tanggung itu tersenyum, dari senyum menjadi sunggingan tawa, tanpa suara. Matanya tak lagi tertarik untuk terpejam, hatinya tidak karuan, tak sabaran menunggu pagi, membayangkan seperti apa hari pertamanya menja...

Rejeki Takkan Tertukar

Pagi hari itu Pasar Kecombrang Jaya terlihat sangat sibuk. Pengunjung pasar yang kebanyakan ibu-ibu hilir mudik dari satu kios ke kios lainnya. Sedikitpun tak terganggu walaupun saat itu hujan mengguyur bumi. Suara   pedagang yang menjajakan jualannya bersahutan dengan suara kereta yang datang dan pergi dari stasiun Depok. Letak pasar memang bersebelahan dengan stasiun. Jadi suasana ramai sudah terasa sejak bumi masih diselimuti gelap. Suara-suara itu ditimpali dengan teriakan sese orang yang memegang segepok uang di tangannya. Tangannya sigap mengatur lalu lintas motor yang lalu lalang melewati jalan setapak yang dijaganya. Antrian semakin semakin memanjang ketika matahari sedikit demi sedikit mulai muncul dari balik peraduannya. Rintik hujan mulai mengecil seiring terbitnya mentari pagi. “Siapkan uangnya!” begitu Opang, nama sang penjaga jalan berteriak. Ia mengingatkan setiap pengemudi motor yang lewat di jalan itu untuk menyiapkan uang. “Nggak bisa lewat tanpa uan...

Pecahan-pecahan Kebaikan yang Tak Akan Terlupakan

" Fid... iso teko ngumpul-ngumpul ga bengi iki ?", begitu isi sms yang selalu datang beberapa hari setelah lebaran pertama. Tak ada tanda-tanda bosan mengirimkan sms seperti ini meski jawabanku tidak selalu bilang bisa. Pengirimnya bisa dipastikan bahwa teman alumni SMA-nya dan bahkan teman seangkatannya tak ada yang tak mengenalnya. Acara kumpul-kumpul pra-reuni yang diperkirakan efektif mulai 2009 ini, seperti buah dari proses yang penuh dengan keringat dan usaha yang tak pernah mengenal lelah dan bosan. Bagaikan mengumpulkan tulang-tulang berserakan, hanya yang bermental persaudaraan yang tinggi yang mampu melaksanakan, sementara media komunikasi belum secanggih seperti sekarang. Tercatat, terbentuk group milist dengan kurang lebih 37 members (media komunikasi yang nge-hits waktu itu) pada April 2005, meski baru mulai rame postingan pada Januari 2006. Mungkin karena ada pilihan media komunikasi yang lebih menarik, denyut nadi 'kehidupan' terus mengalami penuruna...

Cantik

Kalau aku perhatikan, iklan yang menawarkan berbagai produk kecantikan selalu menggambarkan bahwa cantik itu identik dengan kulit yang berwarna putih. Bertebaran iklan produk kecantikan yang menjanjikan para perempuan akan memiliki kulit putih hanya dengan memakai produknya. Bahkan ada iklan produk pelembab kulit yang membandingkan kulit wajah seseorang yang belum memakai produk dengan mengotori lengan sang model sehingga warna kulitnya menjadi gelap dan setelahnya menjadi putih merona. Akhirnya semua orang digiring untuk memiliki kulit yang putih. Coba deh pergi ke toko kosmetik, pasti produk yang ditawarkan selalu ada bahan untuk memutihkan kulit baik wajah maupun tubuh. Akhirnya banyak sekali produsen yang menawarkan krim pemutih kulit dengan instan. Itu sudah terjadi dari jaman aku masih sekolah dulu. Diawali dengan   kemuculan sebuah produk kosmetik yang menjanjikan kulit perempuan menjadi putih hanya dalam hitungan seminggu. Remaja-remaja perempuan seusiaku berlomba-lomba ...