Dukun Paling Sakti
“Muka lu kenapa ditekuk gitu?” tanya Baron kepada Acep ketika mereka makan berdua di kantin. “Gue malu mau cerita,” walau Acep berbisik, Baron bisa mendengarnya karena suasana kantin saat itu sedang sepi. “Ya udah, nggak usah cerita,” Baron melanjutkan makannya. Sejenak hening. Tak ada percakapan antara keduanya. Baron dan Acep sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Baron makan dengan lahap sedangkan Acep asyik menyeruput kopi hitamnya. Setelah menghabiskan makanannya Baron bangkit dari duduknya. Acep menuangkan kopi dari gelas belimbing ke piring kecil yang jadi alas gelasnya. “Gue duluan ya, ada kerjaan yang harus selesai siang ini,” Baron pamit. “Sebentar lah. Duduk dulu, ngapain juga buru-buru. Di ruangan juga masih sepi kok,” Acep menahan Baron. “Ngapain juga gue lama-lama di kantin, kasian yang mau makan nggak kebagian kursi nanti.” “Gue butuh temen buat cerita nih,” ujar Acep memaksa. Terpaksa Baron duduk kembali di kursinya. Ia menunggu apa yang akan diceri...