Langsung ke konten utama

Postingan

Pohon Maple

Semula ku tak tahu namanya Ku hanya tahu , ia cantik dan misterius Daun-daunnya seperti nyala api merah, kuning, dan jingga Ia temanku ketika berjalan pulang setapak berbatuan di musim gugur, kala surya mulai enggan beranjak keluar jendela rumah-rumah berhias temaram cahaya lilin Hidupnya menarik, tidurnya nya pun demikian Pohon kayu berdahan kuat menjulang hitam, tempat burung gagak bertengger dan bersarang di bawah kelabu langit, berlapis awan tebal ... dedaunan merah itu terbang menari di angkasa bagai sayap laron yang patah di musim hujan Semula ku tak tahu namanya Getahnya emas transparan dan beraroma harum tersaji di olesan roti dan pancake hangat , lebih ringan dan lebih lembut dari tetesan madu   Bisakah aku sepertinya, pohon maple selalu kuat dan dan tenang meski diterpa badai dan hujan angin kencang Bisakah aku sepertinya, pohon maple selalu indah dan berfaedah di tengah lelah dan ketidakpastian

Pohon Cherry

Pink dan Putih seperti pipi anak kecil bunga-bunga di pohon cherry bermekaran Wangi nya lembut dan samar bedak bayi Pertanda musim semi menjelang Hiburan untuk yang masuk angin meriang kala rintik hujan dan serbuk sari beterbangan Bunga, daun, dan buah cherry simbol harapan dan segala kemungkinan Pohon cherry , almond, dan sakura Ku tak bisa bedakan, meski hidup beda benua buahnya pun juga tak sama Pohon cherry , almond, dan sakura Bagaikan kita, umat manusia Dari luar nya terlihat serupa Meski sebenarnya hidup berbeda

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU DAN PATAH HATI

Lelaki ini duduk gelisah di sudut gelap ruangannya. Hari masih dini. Mesin presensi belum berfungsi. Tak terhitung kali lelaki ini menatap gawainya. Membaca lagi pesan singkat petang kemarin “ besok kita jumpa ya, pengen ngobrol”. Pesan singkat yang membuat lelaki ini mengutuk bulan menjadi mentari. Menggebah ayam untuk segera bernyanyi. Dikuatkan jarinya memulai sapa. “hai, aku sudah di sini” . Centang satu. Lama. Sementara, lift mulai bekerja. Mengangkut pekerja yang datang dengan penuh asa. Derap langkah diiringi suara tawa dan canda mulai menggema. Hari sudah memulai hitungannya. Masih centang satu. Lelaki ini hanya bisa menghela; Mungkin benar, cinta itu tak lagi berharga. [1] . Perempuan itu bukanlah makhluk bumi paling indah. Tapi lelaki ini tergila-gila padanya. Baginya perempuan itu sangat istimewa. Namun jangan ditanya mengapanya. Baik? banyak yang lebih baik; Cantik? ah, semua perempuan juga cantik kalau kamu sedang jatuh cinta. Lalu apa?. Lelaki ini dan Perempuan itu ...

AKU (TAK) INGIN JADI PNS

ngiiing...ngiiing… Rasanya sudah belasan kali telepon pintar Izzam bergetar. Ia tahu itu panggilan masuk, namun begitu enggan untuk beranjak dari kasur kusam yang sudah Ia tiduri selama 4 tahun terakhir. Di lantai dasar asrama, samar-samar terdengar gelak tawa para santri. Berebut bermain tenis meja. Turnamen kecil-kecilan setiap akhir pekan. Siapa saja yang keluar sebagai pemenang, berhak tidak piket selama seminggu.  Kamar ukuran 3x3 meter itu perlahan sumuk. Kipas angin kecil yang sedari tadi tengok kanan-kiri tak kuasa melawan rambatan panas mentari yang kian meninggi. Izzam melirik dinding, jam setengah 10 pagi. Perlahan Ia duduk, bersender pada dinding, lantas merenggangkan kaki dan tangannya sembari menguap. Ah, sepertinya pemuda tanggung itu kelamaan tidur.  ngiing...ngiiing… Gawai Izzam kembali bergetar. Sekali, dua kali, tiga kali, lantas mati. Sejurus kemudian kembali bergetar. Huft. Enggan sekali rasanya berdiri. Entah kenapa, semakin lama tidur, ...

Rapuh

Pernahkah kau merasa walau sekilas.. Ketika cintamu tak terbalas.. Jalan yang kau hadapi terlihat ganas.. Kering, keras dan panas.. Pohon-pohon meranggas tampak beringas.. Seperti akan melumat dan menindas.. Tubuh terseok lemas.. Jiwa menjadi kerdil dan malas.. Daya terasa sangat terbatas.. Tak beda lagi antara samar dan jelas.. Memohon memelas.. Meradang meremas.. Inginkan yang pintas.. Segera melintas.. Hati yang rapuh akan kandas Rapuh, 02122019

Sebuah kisah di hari jemuah

Ini bukan gibah di hari jemuah, Hanya mencoba mencatatkan kisah, Mungkin bisa jadi sejarah, Yang kelak di kenang dengan indah Atau sekedar menjadi sampah Syahdan suatu ketika, Manakala maharaja telah bertitah, terpaksa atapun suka cita Hamba dan kawula tak kan bisa menyanggah, Dan bergegas  jalani lampah Pun sabdanya tentang bagaimana jabatan harus dibedah, dari gemuk struktur, Menjadi fungsional pada banyak cacah Semua mahapatihpun berlomba lomba menjadi penterjemah, Mungkin berbeda ujaran tapi sama arah, Bagaimana sabda terimplementasi sampai ke bawah, Kadang sesekali mungkin mencari celah, agar sabda tak disanggah, Tapi tak membuat susah, Birokrat di level bawah Konon telah banyak musyawarah, Bagaimana Hitung hitungan ditelaah, Bagaimana kompensasi untuk jabatan yang musnah Bagaimana prosedur murah dan mudah Bagaimana payung hukum digubah, agar dikemudian hari tak sisakan masalah Di sudut rumah, Obrolan pejabat fungsional pun menjadi meriah, seba...

Fort de Kock 1938

Apabila kami bertemu, tidak pernah sebentar. Bermula dari ide 1 aktivitas, diakhiri dengan banyak aktivitas sepanjang hari. Aku dan sepupuku. Kami terhubung bukan hanya karena kerabat, namun juga karena 'nyambung' ketika membicarakan topik-topik anti mainstream.  "Kamu seperti nenek. Sudah pernah ada yang bilang?" Tanyanya sambil memeluk kantong belanja IKEA yang penuh dengan piring, bantal, dan pernik-pernik kantor. "Benarkah?" Tanyaku balik. Hampir tak percaya. Sepanjang hidup, aku sudah kenyang dicela atau sekali-sekali dipuji. Tapi tidak untuk yang satu ini. Diumpamakan seperti nenek adalah idealisme yang tak terbayangkan. Meski aku hanya sempat bertemu dengannya 1 tahun di awal hidupku. Saat itu, dari sepotong foto lusuh terlihat nenek menyalakan sebatang lilin mungil di atas semangkuk puding buatannya dan aku tanpa gigi tertawa tergelak-gelak kesenangan melihat hadiah ulang tahun dari nenek tersayang. Ia adalah seseorang ...