(H)Utang
Suasana malam semakin hening. Hanya terdengar suara jangkrik yang terus bernyanyi di gelapnya malam Desa Kemuning. Aku menunggu kata pertama yang akan diucapkan oleh Mahmud, saudara sepupuku walaupun dalam hati aku sudah bisa menebak apa keperluan Mahmud mendatangi rumahku malam-malam begini. Upaya Mahmud membelah sepi dan gelapnya malam dari Desa Melati menuju Desa Kemuning adalah perjuangan yang lumayan berat. “Anak-anak sudah tidur?” tanya Mahmud berbasa-basi. Ia sudah tahu kalau isteri dan anak-anakku sudah tidur semua di jam seperti ini. “Sudah,” jawabku pendek. “Mau minum apa? Kopi, teh?” Aku mencoba menawarkan minuman sebagai basa-basi untuk kepantasan percakapan dengan tamu. “Nggak usah, Mas. Aku sudah ngopi tadi di rumah,” tolak Mahmud. “Tumben malam-malam ke sini. Ada apa, nih? Keluarga sehat, kan?” tanyaku lagi. “Alhamdulillah, sehat semuanya.” Mahmud terdiam. Pandangannya menerawang ke atas langit-langit rumah. Aku pun terdiam, menanti ucapan Mahmud sela...