Postingan

(H)Utang

  Suasana malam semakin hening. Hanya terdengar suara jangkrik yang terus bernyanyi di gelapnya malam Desa Kemuning. Aku menunggu kata pertama yang akan diucapkan oleh Mahmud, saudara sepupuku walaupun dalam hati aku sudah bisa menebak apa keperluan Mahmud mendatangi rumahku malam-malam begini. Upaya Mahmud membelah sepi dan gelapnya malam dari Desa Melati menuju Desa Kemuning adalah perjuangan yang lumayan berat. “Anak-anak sudah tidur?” tanya Mahmud berbasa-basi. Ia sudah tahu kalau isteri dan anak-anakku sudah tidur semua di jam seperti ini. “Sudah,” jawabku pendek. “Mau minum apa? Kopi, teh?” Aku mencoba menawarkan minuman sebagai basa-basi untuk kepantasan percakapan dengan tamu. “Nggak usah, Mas. Aku sudah ngopi tadi di rumah,” tolak Mahmud. “Tumben malam-malam ke sini. Ada apa, nih? Keluarga sehat, kan?” tanyaku lagi. “Alhamdulillah, sehat semuanya.” Mahmud terdiam. Pandangannya menerawang ke atas langit-langit rumah. Aku pun terdiam, menanti ucapan Mahmud sela...

R.I.N.D.U

  “ I miz u soo bad ”, ujarmu lalu memelukku erat. “ I miz u even more ,” aku melepas peluk lalu menatap wajahmu dalam. Ah, tak ada yang berubah, kecuali guratan halus yang samar terlihat di sekitar wajahmu. Lalu kita saling menatap dalam dengan senyum penuh kerinduan. Lagi-lagi, aku masih menemukan hal yang tak pernah berubah, pandangan sayangmu. “ How’s life ?”, keingintahuanmu terdengar jelas saat melontarkan tanya itu. “ Is everything alright? ”, tak sabar kau mengejarku lagi dengan pertanyaanmu, kali ini dengan nada khawatir yang kau coba sembunyikan. “Aku tau kau jawaban apa yang kau harapkan,” aku berujar dalam hati. Lalu aku mengangguk sambil tersenyum, “ Alhamdulillah, as you see, I’m pretty good” , aku berusaha keras menunjukkan raut bahagia di wajahku. “Owh, syukurlah. Be a good girl ya ,” kau mengusap lembut pipiku. Aku dapat merasakan betapa kau sangat merindukanku. “ A girl? ”, aku terbelalak, dan baru akan melanjutkan, “ I am not ... ” ketika kau dengan s...

MENGEREK BENDERA

Aku mengerek bendera, Naik menggapai atap dunia, Di balik silau sang surya, Diiringi lamat-lamat berita durja, Aku mengerek bendera, Meraih temali menyusuri tiang tinggi, Tercekat nada rintih air mata, Berkibar setengah lalu terhenti, Aku terus mengerek bendera, Memaksa sekuat daya, Acuhkan peluh tak reda, Turun gemericik seirama Indonesia Raya, Dua orang datang membawa seka, Berhitung satu, dua, tiga, Bersama mengantarkan sang saka, Melihat merdeka dari atas sana. Kami mengerek bendera. (Ekpan, 17 Agustus 2020)

Ibu

 Ibu, apa kabar? Sehatkah di sana? Apakah Ibu merindukanku? Seperti aku di sini yang sangat merindukanmu Aku rindu belaianmu Aku  rindu semua pertanyaan-pertanyaanmu Aku rindu masakanmu Aku rindu kemarahanmu Ibu, maklumi aku Hanya Bisa bersapa lewat untaian kata Lewat layar yang membisu tanpa rasa Yang sering tak ramah karena tak ada sinyal dan pulsa Ibu, maafkan aku Tahun ini sungguh kelabu Aku terkurung tak berdaya Tertahan dalam ketidakpastian Ibu, tersenyumlah Doakan aku dan seisi penghuni bumi Agar bisa tabah menjalani semuanya Agar tetap berjuang dan bertahan Ibu, tak ada kata yang sanggup melukiskan Betapa aku khawatir Betapa ku resah Dengan keadaan yang membingungkan ini Ibu, hanya doa yang bisa kupanjatkan Agar kau selalu sehat dan kuat Untuk  menyambutku di depan pintu Ketika semua ketidakpastian ini berakhir Ibu, bersabarlah Semuanya hanya ujian yang semakin merekatkan tali kasih kita Kuingin bumi kembali ceria Agar aku bisa berlari ke pelukanmu dengan canda da...

TEMAN NGOBROL

Suasana masih gelap gulita ketika aku turun dari mobil yang mengantarku sampai di lobi kantor tempatku bekerja. Aku melangkah masuk melewati pintu yang terbuka dengan sendirinya tanpa harus kupencet tombol atau pun kubuka dengan tanganku. Belum ada seorang pun yang hadir di lobi. Hanya ada seorang satpam yang baru bersiap berjaga di meja resepsionis. Aku mengambil kunci ruangan yang tergantung di bawah meja resepsionis. Kutuliskan namaku di buku sebagai tanda bahwa aku telah mengambil kunci ruangan. Aku masuk ke dalam lift sendirian. Suasana gelap terpampang di depanku ketika lift terbuka. Kepalaku menoleh ke kiri dan ke kanan. Aku sendiri tak tahu kenapa kepalaku harus menoleh ke kanan dan ke kiri seperti seorang pencuri yang sedang memastikan keadaan sekeliling aman dan terkendali. Aku duduk di sofa yang berada tepat di depan kubikel. Angin dingin pagi menyentuh lembut tubuh ketika kubuka jendela agar sinar mentari bisa leluasa menyentuhku. Sejenak aku terdiam tanpa ada niat menyalak...

Ayat Tanpa Huruf, Tanpa Harakat

Dalam mimpi ku menyelingar Terlahir sebagai pelukis langit Yang menjadikan awan sebagai kanvas Menggambar rasa pada setangkai mawar Kuntum, mekar, kembang, harum, semerbak, menguning, dan layu Kau, pun juga aku saling asing Bak bisu menyenandung sunyi Memilih lantai sebagai teman Menanam rasa hingga berkecambah Menguntum, menjadi sekelopak bunga Siang itu, pada temanku kau titipkan tanya Tentang satu jari yang menanti puan Yang membuat malamku seketika panjang, menduga-duga Kau kah si penanya? Ah Tuhan, Kau senang bercanda Lama sekali kuntum menjadi mekar Hingga suatu senja di penghujung tahun Tatkala kudapati jawabmu di dermaga Saat ku tanya mengapa Aku sudah menantimu selama ini Hari berlalu berganti minggu Minggu perlahan bertukar bulan Mekarnya mawar indah mengembang Lamat-lamat kuamati cincin di jemari Inikah makhluk yang dicipta langit dari rusuk ku? Kini, perahu penantian perlahan menambat Pada sebuah dermaga suci bernama sakinah Berkata tetua, ru...

Satu Dasawarsa