Langsung ke konten utama

TEMAN NGOBROL

Suasana masih gelap gulita ketika aku turun dari mobil yang mengantarku sampai di lobi kantor tempatku bekerja. Aku melangkah masuk melewati pintu yang terbuka dengan sendirinya tanpa harus kupencet tombol atau pun kubuka dengan tanganku. Belum ada seorang pun yang hadir di lobi. Hanya ada seorang satpam yang baru bersiap berjaga di meja resepsionis.

Aku mengambil kunci ruangan yang tergantung di bawah meja resepsionis. Kutuliskan namaku di buku sebagai tanda bahwa aku telah mengambil kunci ruangan. Aku masuk ke dalam lift sendirian. Suasana gelap terpampang di depanku ketika lift terbuka. Kepalaku menoleh ke kiri dan ke kanan. Aku sendiri tak tahu kenapa kepalaku harus menoleh ke kanan dan ke kiri seperti seorang pencuri yang sedang memastikan keadaan sekeliling aman dan terkendali.

Aku duduk di sofa yang berada tepat di depan kubikel. Angin dingin pagi menyentuh lembut tubuh ketika kubuka jendela agar sinar mentari bisa leluasa menyentuhku. Sejenak aku terdiam tanpa ada niat menyalakan lampu. Aku masih ingin termenung memikirkan apa yang akan kukerjakan sepanjang hari ini di kubikel.  

Pertanyaan rutin muncul dalam hatiku, apakah aku bisa berkontribusi sepanjang hari ini ataukah aku hanya jadi parasit yang duduk diam di kursi empuk dengan fasilitas modern terkini yang selalu setia menemani hari-hariku di kantor. Tak kutemukan jawaban yang pasti, hanya sebait doa yang bisa kulantunkan agar aku bisa bekerja dengan baik sehingga tak ada rasa malu ketika aku berdiri di depan ATM, mengambil uang gaji bulananku.

Kutatap jam dinding yang tak pernah bosan tergantung di dinding ruang kerjaku. Saat itu, baru ku sadar kalau aku berada di kantor terlalu pagi. Untuk melaporkan kehadiran pun masih belum diperbolehkan. 

Tiba-tiba Donita, teman kerja dari ruangan sebelah muncul di hadapanku. Wajahnya terlihat ceria. Kami berdua larut dalam obrolan seru. Setelah beberapa saat, datanglah Sarah dan Indah yang muncul dari pintu kaca ruang kerjaku. Berempat kami larut dalam obrolan seru. Kami tertawa bersama sehingga membuat suasana pagi itu sangat ceria.

"Aku balik ke ruangan dulu, ya. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan," pamit Donita sambil berdiri dan meninggalkan kami bertiga.

Aku mengiyakan. Tinggallah kami bertiga bercengkrama. Tak berapa lama kedua temanku pamit kembali ke ruangannya masing-masing. Setelah keduanya pergi, rasa kantuk menyerangku. Kupikir tak ada salahnya aku tidur sejenak karena hari masih pagi. Kurebahkan badan di sofa panjang yang empuk. Betapa indahnya duniaku saat itu.

                               *** 

Alarm ponselku berbunyi dengan kencang pertanda aku harus bangun. Aku membuka mata dan melihat sekeliling, ternyata suasana masih sepi, tak ada seorang pun yang berada di ruangan. Cahaya mentari sudah tak malu-malu lagi muncul dan menerangi bumi. Aku masuk ke dalam kubikel dan menyalakan komputer. 

Ponselku berdering. Ternyata Donita yang menelepon.

"Halo Rika, aku lagi di tukang bubur ayam nih, kamu mau? Biar kubeliin," ujar Donita.
 "Bubur yang di mana? Kantin bawah?"tanyaku.
"Bukan. Tukang bubur ayam yang mangkal di depan tempat kos-ku,"jawab Donita.
"Cepet banget gerakanmu, tahu-tahu udah balik ke kos-an aja," godaku.
"Maksudnya apa, ya? tanya Donita. Suara Donita terdengar heran atas ucapanku.
"Tadi kan kita masih ngobrol di ruanganku. Tiba-tiba sekarang udah balik ke kos-an buat beli bubur ayam."
"Aku baru mau berangkat ke kantor, lho," ujar Donita.
"Lha, emangnya aku tadi ngobrol sama siapa? Bercandanya jangan kelewatan, ah," tukasku.
"Aku baru keluar dari kos-an lho. Terus mau mampir ke tukang bubur ayam."
"Beneran kamu belum ke kantor?" tanyaku mulai panik.
"Bener, aku belum ke kantor," jawab Donita memastikan.

Aku menelepon Sarah dan Indah untuk memastikan kalau aku memang mengobrol bersama mereka. Bulu kudukku berdiri ketika mereka menjawab bahwa mereka berdua masih berada di atas bis menuju ke kantor. 

Aku keluar dari kubikel. Kuintip ruang sebelah dari kaca pemisah. Kulihat Pak Sena sudah datang dan sedang menatap komputernya. Perasaanku lega karena akhirnya ada orang lain yang menemani.

Aku berjalan keluar dari ruanganku. Rasanya aku perlu menghirup udara segar. Aku masih belum bisa berpikir tenang dengan kejadian tadi. Aku berjalan menuju lift tanpa ada keinginan menoleh ke belakang.  Mukaku pucat ketika lift terbuka. 

"Selamat pagi, Mbak! Rajin banget pagi-pagi sudah di kantor."


Aku berbalik. Tak ada sepatah pun kata yang keluar dari mulutku. 

"Kenapa, Mbak?" tanya Pak Sena ketika melihatku membalikkan badan. 

Suaranya membuatku ketakutan. Pikiranku buntu. Badanku lemas. Entahlah, apakah saat ini aku berada di dunia nyata atau di dunia lain. Aku ingin lari tapi sendi-sendiku terasa lemas  dan membuatku  tak berdaya.

Jakarta, 6 Agustus 2020

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

Serigala Berbulu Damba

Aku tidak rindu, mungkin . Dasar ingatan licik, malah menyamar menjadi damba. Sensasi gila reseptor Pacini meromantisasi kelenyapan. Endorfin, dopamin, atau cuma kebiasaan? Hatiku paham, otakku belum. Afeksinya masih mengorbit. Kamu minta kembali. Aku tidak. Lucu juga.. Tubuhku dengan sadar mengkhianati keputusan. Mengabadikan yang telah usai. Tapi bukan kamu, mungkin . Karena ini pilihan.

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....