Postingan

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU DAN ILUSI RASA

Lelaki ini sadar, mustahil melupakan masa lalu. Tidak yang satu ini. Yang dapat dilakukannya hanya mencoba untuk tidak mengingatnya. Tapi, lelaki ini juga tahu, tak mungkin dia mampu mengontrol ingatannya. Ingatan itu begitu membekas. Selalu datang, terang benderang bagai rekaman yang diputar ulang. Seberapa kuat lelaki ini bertahan, sekuat itu pula kenangan datang menyerang. Jelas dengan pernik rupa, kata dan rasa. Mewujud semudah pesulap mencipta bunga dari selampai. Dalam hati, mimpi bahkan deja vu. Lelaki ini merasa mungkin dia kurang berusaha, tapi mungkin juga karena sadar hal tersebut akan sia-sia. *** Perempuan itu juga sama. Hatinya sudah terendam getirnya air mata. Berlumur cinta tanpa asa. Kalaulah ada pujangga menuliskan hati tersayat, terkoyak, luka atau apalah, mungkin harus terlahir kembali untuk mencari madah yang menggambarkan hati perempuan itu. Perempuan itu sadar, pertahanannya lemah. Hatinya tidak terjaga. Entah karena lelah, atau karena lelaki ini yang luar biasa....

Mini Fiksi

Pemuda itu melangkah gontai meninggalkan  wanita yang telah dicintainya sejak duduk di bangku kuliah. Beberapa jam kemudian sebuah pesan singkat masuk kedalam telepon genggam si wanita yang mengabarkan bahwa si pemuda ditemukan tewas bersimbah darah dengan luka menganga di pergelangan tangan kanannya. **** Anak perempuan mungil berambut ikal tertawa geli ketika ayahnya yang berkumis tebal memeluk dan mencium tengkuknya berkali-kali sambil berkata bahwa ia amat mencintai puterinya.  Ketika tersadar sosok ayahnya menghilang dihadapannya, anak perempuan itu mencari ayahnya dari satu ruang ke ruangan yang lain. Yang ia temukan hanya sebuah buku Yasin bergambar foto sang ayah dengan tulisan, "Mengenang 100 hari wafatnya Suami, Ayah kami tercinta...".

Telaga Air Mata

 Ia hadir disaat kegersangan hati melanda Angin lelah berhembus menjadi pertanda Gumpalan awan menjelaga Rintik hujan mengubah kelopak mata menjadi telaga Telaga air mata

Sepasang Kaos Kaki Usang

Sepasang kaos kaki usang Teronggok di sudut kota metropolitan Kusam, dekil, tak menarik Ribuan mata enggan tuk melirik Kaos kaki usang ingin menghangatkan Melindungi kaki-kaki mulus terawat  Disimpan rapih dan wangi di dalam laci lemari indah Atau tergantung di etalase-etalase pusat perbelanjaan mewah berpendingin udara dan kaki-kaki mulus terawat lalu lalang Sekedar tuk cuci mata Sebagaimana dahulu ia pernah merasakannya Suatu hari, ia bertanya kepada langit Tentang takdirnya menjadi usang Namun langit tak menjawabnya Langit hanya mengutus angin tuk menghibur dirinya Sepasang Kaos kaki usang kini sadar Takdir harus dijalani dengan sabar Meski ia kini teronggok di dalam plastik butut Ia masih mempunyai manfaat menghangatkan kaki yang juga dekil seperti dirinya Ia pun bersyukur Karena baginya syukur melapangkan hatinya

Bangkai Rasa

                     Terkadang,                    kita sibuk menggali  bangkai rasa.                     Tak hirau,                 akan rasa baru yang meranggas layu.                   Jakarta, 08092021                  

Dua Matahari

Gambar
TOI 1338b   NASA    Dilema bukan hanya  soal perasaan manusia  atau pikiran kita semata Semesta pun ada galau juga Bila 4,6 milyar warsa Usia tata surya kita Ada 8 planet mengitari  Satu-satunya matahari  Syahdan di konstelasi Pictor  Tersebutlah Planet TOI 1338 b  4,4 miliar tahun, katanya  Selama itu ia selalu mengiringi  Setia di antara 2 matahari

LELAKI YANG MALANG (2)

  Setelah sebulan aku dan suamiku sembuh dari penyakit sejuta umat, kami berdua akhirnya memiliki kesempatan untuk mengunjungi Usman di kampung. Damar, suamiku, ingin memastikan kondisi Usman. Aku hanya berdiri di depan pintu rumah sederhana milik ibunya Usman. Rupanya setelah keluar dari rumah sakit, Usman dibawa ke rumah ibunya yang tinggal sendiri. Ia seolah sudah tak punya lagi mempunyai keluarga setelah bercerai dengan isterinya beberapa tahun yang lalu. Tercium olehku bau pesing dari dalam rumah itu. Kudengar juga dari saudaranya bahwa Usman sering membuka pampers-nya dan buang air kecil di atas kasur. Mungkin Usman juga tak sadar apa yang dilakukannya. Usman duduk di atas kasur yang digelar di lantai. Tenggorokanku tercekat melihat kondisi Usman. Mukanya pucat bak mayat. Matanya cekung dan pandangannya kosong. Ia tak memiliki daya untuk sekedar menopang tubuhnya yang kurus kering. Berbeda dengan Usman yang kulihat beberapa bulan sebelumnya. Kulihat Bulek Tansah, ibun...