Postingan

Selamat Siang Tuan

Selamat siang tuan, hari ini APBN tidak  sedang santai rebahan, banyak sekali yang harus di kerjakan coba kau lihat, hari ini dia masih terengah engah menghela nafas sejak dua tahun lalu pandemi covid meretas hari ini  kerjaannya belum lagi tuntas   dari seluruh negeri masih terasa  isak sedih tangisan mereka  mereka yang yang ditinggalkan terduduk  memandangi berangkatnya mobil  mobil ambulan, b ergantian membawa muatan yang  bernafas tersengal menuju perawatan atau terbungkus tebal menuju kuburan, hingga raung sirena menghilang di kejauhan   Selamat siang tuan hari ini APBN tidak  sedang santai rebahan, dia hadir mengupayakan tersedia vaksin dan obat obat vitamin penambah daya tahan, menjaga agar  sakit dan mati tak banyak berulang,, dan kasus covid semakin berkurang mengupayakan  para tenaga medis,dokter perawat penggali kubur tentara polisi petugas petugas yang sedang bahu...

Pada suatu petang

Pada Suatu petang ada yang hilang, ketika kau pulang Ruang riuh menjadi lengang dan hampa sebenarnya apa yang tak sengaja, tadi kau bawa serta? (Stasiun Juanda, 3 Des 2021)

Punakawan, tak Sekedar Penghibur

       Dalam kisah perwayangan di Indonesia, kita sering mendengar adanya para punakawan yang biasa disebut juga dengan goro-goro. Kehadiran para punawakan ini, sangat dinantikan oleh penonton karena mereka menyuguhkan komentar, lelucon bahkan kritikan yang menghibur.       Punakawan yang terdiri dari Semar, bersama dengan ketiga anaknya, Bagong, Petruk, dan Gareng selalu tampil menyegarkan suasana pertunjukan. Gelak tawa selalu ditimbulkan oleh ketiga punakawan ini, baik melalui gerak-geriknya, maupun celotehannya. Mereka hadir sejenak di tengah konflik atau cerita inti dari kisah pewayangan sebagai abdi dari tokoh utama, namun sejatinya punakawan ini bukan hanya sekedar abdi, mereka juga berperan sebagai penasehat bagi tokoh utama. Mereka hadir ketika tokoh utama dalam kisahnya mengalami konflik/dilema dalam kehidupan, sosok punakawan inilah yang dapat memberikan panduan bagaimana jalan terbaik yang harus dipilih oleh tokoh tersebut, meskipun di...

Blessed Silent Sunday

Enjoying my blessed silent Sunday morning,   Segelas teh hangat, Semangkuk sup, And, music!   These will be more than enough to recharge my soul, refresh my mind, and re-energize my heart …     *** Remember when I told you, No matter where I go, I’ll never leave your side You will never be alone,   Even when we go through changes, Even when we’re old,   ……   And I told you right from the start, You just say the word and I’ll go, No, it doesn’t matter how far, ‘Cause your love is all that I know,   …..   I’ll find my way back home     *** Way Back Home  [Shaun feat. Conor Maynard]

Ketika Hujan Bermakna Sama

  Hujan!   Tak ada yang berbeda setiap tahunnya, Sama seperti anganku, Berharap dipertemukan kembali walau cuma sejenak   Tidak untuk mengusik yang telah lalu, Tidak juga untuk merajut ulang yang telah tebang, Hanya ingin meminta tatap   Agar kau tau, Sebesar apapun rasa sakitmu, Takkan pernah mampu melampaui rasa rinduku

Semprong

Puisi Ntah apa yang bisa kau janjikan untuk kami Ketenangan hati? Manifestasi nurani? Oh, ayolah Tak ada yang salah dari dunia modern ini Sedari dulu, bukankah kita sudah mengharapkan kedatangannya Segala upaya telah kita lakukan untuk mempersiapkan landasan dunia modern ini, lalu setelah dia sampai dengan barang bawaannya, kita sambut dia, kita tempatkan dia pada segala aspek yang melekat di diri kita. Input, proses, output diri kita harus MODERN!  Puisi Kau datang kembali,  Kau babak belur Barang bawaanmu dicuri Kau tak indah lagi Kau tak berarti apa-apa dibandingkan modernitas ini Puisi Apa lagi yang hendak kau sentuh di hidup kami Kau tak memiliki tempat di sini Enyahlah! Sedang modernitas ini begitu menggiurkan, kami ingin melesat dan menemui kehancuran yang disembunyikannya! Puisi Menyingkirlah! Semprong modernitas! Kami tak ingin terlambat! Kami ingin lumat dan tamat tanpa terlambat! 

Intrusi

Kau berkelana di dalam kepalaku Mencari-cari apa yang salah dari makna "bertanya" Kau katakan aku tak patut dan tak turut Menerka-menerka pikiran masa depanmu yang tertinggal di belakang Kita hendak berencana membuat perubahan, katamu Sebagai respons perubahan yang lebih dulu berubah, kataku Kau ajak aku ke dalam ceritamu Aku kesepian, ternyata sebagai pengarang, kau miskin fondasi dan substansi Semua benda mati yang ada di sekitar kita menjadi bermakna karena pemaknaan yang kita berikan sendiri, diri yang mengalami, diri yang bercerita, diri yang mengarang dan membual narasi dengan semaunya, ya, itulah kita, dengan pemaknaan itu juga kita saling menyakiti. Selamat merasakan sakit. Besok kita teruskan, terus kita rayakan dengan pemaknaan (re: bualan) baru yang lebih rapi dan bermutu

Belajar

"Mencipta adalah bentuk pemberontakan kita"      Begitu sebaris kalimat yang ditulis oleh Iwan Simatupang kepada sahabatnya Sularto dalam buku Surat-surat Politik Iwan Simatupang 1964-1966. Dari membaca kata pengantar yang ditulis oleh Frans M. Parera pada buku tersebut, aku benar-benar diantarkan kepada sosok intelektual Iwan Simatupang, yang moderat, yang sebisa mungkin berusaha tak ternodai oleh kubu mana pun yang sedang bertarung saat itu, yang mencoba mencari jalan dan pikiran alternatif sendiri. Buku yang belum habis kubaca itu berisi surat-suratnya dalam menanggapi situasi sosial, ekonomi dan budaya Jakarta, yang gundah, yang resah, yang tak sabar menunggu jawaban. Aku mencoba menulis keterangan tambahan atas dasar kemandirian pikirannya. Kurang lebih seperti ini:     " Dalam konteks belajar dari orang-orang yang lebih pandai, kita tak berniat menjadi epigon-epigon tanpa karya dan otentisitas yang nyata. Mungkin, kita mendongak kepada mereka pada kurun wa...