Langsung ke konten utama

Kisah Iteung, Episode Cantik

"Ibu Cantik, nasinya cukup?" tanya Ibu Kantin sambil menyodorkan piring yang terisi penuh nasi.
"Nggak salah nih, Iteung dipanggil cantik?" hati Iteung setengah percaya setengah nggak.
Ah, sepertinya cuma ilusi aja deh, saking Iteung ngarep dibilang cantik sama orang lain. Selama ini bisa dihitung jari orang yang muji Iteung. Jari jempol aja yang keitung. Satu-satunya orang yang pernah bilang Iteung cantik cuma si Akang. Itupun setelah Iteung acungin palu ke mukanya Akang.
"Ibu Cantik!" suara cempreng ibu Kantin mengagetkan Iteung. Berarti bener kan, Iteung dibilang cantik. Nambah satu jari deh orang yang bilang Iteung cantik.
"Tuh Kang, bener kan Iteung cantik," hati Iteung langsung bersenandung lagunya Kahitna. Ngebayangin Mario Kahitna nyanyi lagu "Cantik" sambil ngasih bunga ke Iteung, bikin Iteung senyum-senyum sendiri. Iteungnya malu-malu sambil muterin badan ke kiri dan kanan. Serasa jadi ABG.
"Bu Cantiiiiik!" teriakan bu Kantin membuyarkan lamunan Iteung.
Mata bu Kantin melotot dan bergerak ke arah belakang Iteung. Seperti kena hipnotis Romi Rafael, badan Iteung berbalik ke belakang. Antrian orang yang mau milih makanan berjejer di belakang Iteung. Kepala mereka kompak geleng-geleng ngeliat kelakuan Iteung. Kayak ngeliat film India.

Daripada panggilan cantik dicabut, Iteung buru-buru nunjukin lauk apa saja yang akan menemani nasi di pagi yang ceria dan bersahabat ini. Karena tqkut aura kecantikan Iteung pudar, Iteung koreksiì permintaan nasi dan lakunya.
"Nasinya kurangin Bu, nggak boleh banyak-banyak sama dokter kecantikan!"
Ibu Kantin mengurangi porsi nasi Iteung sambil menahan rasa mual kayaknya.
"Apa lauknya?"
"Tahu sama sayur sop aja!" jawab Iteung.
"Tumben, biasanya nasi sama lauknya banyak sampe tumpah dari piring," Bu Kantin membocorkan rahasia Iteung.
"Sst....jangan bongkar rahasia!" tangan Iteung ditempel di bibir.

Iteung berlalu dari booth bu Kantin. Orang-orang di barisan belakang memandangi Iteung. Kayaknya mereka kagum dengan kecantikan alami Iteung. Mungkin nanti bakalan banyak yang nanya apa rahasia kecantikan Iteung. Sepertinya Iteung harus bikin sharing session  di kantor untuk menjelaskan tips and trick menjaga kecantikan ala Iteung. Mulai hari ini Iteung harus menjaga sikap biar anggun, jadi kecantikan Iteung paripurna.

Seharian Iteung bolak-balik ke toilet untuk memastikan dandanan tetap oke.
"Bu, kok mondar-mandir ke toilet melulu," Mbak Cleaning Service sepertinya mulai kesel sama Iteung.
"Sembarangan, saya cuma mau memastikan kerjaan kamu beres nggak," ilmu ngeles Iteung keluar. Kalau soal ngeles, Iteung memang jago. Pernah belajar dua semester dulu, ilmu ngeles yang efektif di sekolah kepribadian ganda.

"Mirror, mirror on the wall, Iteung beneran cantik kan?" Iteung pengen memastikan.
"Woi...jangan berisik! Lagi konsentrasi nih," suara dari arah kloset menyadarkan Iteung bahwa cermin tidak bisa dijadikan alat ukur menilai kecantikan seseorang. Untung aja cerminnya nggak pecah.

Besok paginya, Iteung menemui bu Kantin lagi. Kali ini Iteung tampil lebih cantik dan anggun. Busana pun dipilih yang sophisticated.

Iteung antri di belakang.
"Mau makan apa, Cantik?" suara bu Kantin terasa merdu di telinga Iteung.
Iteung langsung lari ke depan antrian.
"Antri, Mbak!" teriak orang-orang di belakang Iteung.
Iteung lihat ibu Kantin melayani orang lain.
"Apa lagi, Cantik?"
"Tambah apa, Ganteng?"
"Lauknya apa, Cantik?"
"Minumnya apa, Ganteng?"
"Terima kasih, Cantik,"
Begitu terus ucapan bu Kantin kepada semua pelanggannya.
"Ibu Cantik, mau makan apa?"
Hilang sudah selera makan Iteung........

Jakarta, 18 Mei 2017


Komentar

  1. Menurut Ibu Kantin, semuanya cantik. Menurut Akang, cuma Iteung yang cantik. Ternyata cantik itu relatif ya ... tapi seperti biasa kisah Iteung selalu jenaka :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe.....cantik memang relatif tapi ada juga yang mutlak

      Hapus
  2. Ketauan siapa ibu kantinnya..juga si iteungnya, karna ngelesnya pake ngecek kerjaan cleaning service pasti orang TU atau Rumah Tangga :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....

Siapa Sih Ini

  by Ash Beige Baby Lo pernah ngga sih, ngerasa lo jadi orang yang beda di setiap tempat? Kayak… di satu circle lo jadi versi yang ini, di tempat lain lo jadi versi yang lain lagi, dan anehnya… semuanya terasa “lo” tapi, bukan juga Gue ngalamin itu setahun terakhir. Dan jujur, capek banget. Karena setiap hari gue harus “jadi sesuatu”, Sampai di satu titik gue mulai nanya ke diri gue sendiri: Gue ini sebenarnya apa? ..atau siapa, sih? Am I even… real? Rasanya kaya gue terlalu bisa menyesuaikan diri  sampai akhirnya kehilangan bentuk asli  Terus di tengah kekacauan itu, gue ketemu satu “tempat”. Atau mungkin… satu orang  Yang bikin gue ngerasa, “oh… ini gue.” Ngga perlu adjust  dan mikir harus jadi siapa. Ngga perlu takut di judge juga Dan jujur  rasanya kayak nemu pulau yang nyaman ditengah badai lautan Padahal tujuan gue dermaga dan daratan pulau Jawa Sementara itu pulau berkeliaran serial killer  Tahu bagian paling bahayanya? Waktu lo lagi lost banget...