Langsung ke konten utama

Hempaskan saja ke udara..


"nduk... jadi perempuan itu harus banyak bersabar. Berani mengalah.."
"Emang perempuan doang Bu? Laki laki kan juga harus menghormati perempuan.."
"Iya.."
"Ibu kenapa sih, bisa sabar banget sama ayah yg galak begitu? Sukanya maksa.."
Ibu hanya tersenyum, seperti biasa..ia mengatur nafas sebelum berbicara. Wajahnya yang cantik tak lekang oleh usia. Hatinya yang lembut tak kabur oleh umur.
"Kalau ibu boleh bercerita..tentang masa lalu.."
"Gimana Bu maksudnya? Tentang ayah?"
Ibu membetulkan posisi duduknya. Menatapku lekat..melipat tangan di atas meja makan di hadapan kami. Seakan akan ia ingin mengatakan sesuatu yang teramat penting.
"Dulu... ibu tidak menikah dengan ayahmu karena cinta."
Aku memberhentikan kunyahanku sebentar. Menanti apa yang akan ibu sampaikan berikutnya.
"Ayahmu..adalah pegawai negeri yang ngekos di samping rumah eyangmu, orang tua ibu."
Wajah ibu bertambah serius. Aku jadi salah tingkah melihat ibu begitu. Namun cerita ini memang membuatku sangat penasaran. Nyaris ingin kubilang pada ibu, ayo bu cepat cerita..aku tidak sabar menanti.
"Suatu hari kami kedatangan tamu. Yang ternyata adalah ayahmu.
Ia pemuda yg tegas dan lurus. Tak pernah kami melihatnya pergi kecuali ke tiga tempat: kantor, masjid, dan warteg.
Ia.. datang di suatu sore..menemui eyang kakungmu.
Ternyata..ia ingin melamar ibu."
"Lalu eyang pasti nyuruh ibu biar mau kan?"
"Iya, nduk.. singkatnya ya begitu..sayang Khan..pemuda baik baik..pandai..pns pula..siapa orang tua saat itu yg akan menolaknya.."
Aku kembali mengunyah. Kue lemper buatan ibu enak sekali. Hampir saja aku makan tiga kalau perutku masih terasa lapang. Ya ampun ..
"Ibu lalu mau saja, nduk.. namanya nurut sama orang tua.."
Aku mengangguk angguk. Kepenuhan lemper campur teh manis di mulut.
"Kami lalu menikah..tak lama setelah itu.
Di awal awal pernikahan...ibu kaget sekali.."

"Hah? Kenapa Bu kenapa?"

"Ayahmu orgnya disiplin sekali..kadang kalau ibu ada salah salah ia tegur..ibu Ndak biasa dg bahasanya yg tegas nduk.."
"Trus ibu marah sama ayah karena diomelin terus dong?"
Ibuku menggeleng kecil. Ada kerut kerut di mata bulatnya, kerut yang natural hadir mengiringi perjuangannya di tiap tahun usia.
"Ibu hanya diam dan sesekali ibu menangis .."
"Ayaaah...."
"Tapi itu hanya di awal awal nduk...
Setelah itu..ibu belajar.."
"Belajar apa Bu?"
"Untuk mengikhlaskan semuanya..termasuk sifat ayahmu yang tegas sekali itu.
Ibu kuatkan diri ibu untuk melapangkan hati ibu, ibu berusaha terus bersabar dan mengalah.."
"Hhaaa?? Duh muncrat sedikit lempernya.." ujarku agak malu
"Lama lama ibu biasa begitu, nduk..
Menikah itu harus ada yg mengalah...harus bersabar dengan pasangan..
Dan itu bukan berarti kalah."
"Kenapa ibu ga blg sama ayah kalo ayah galak dan harus berubah?"
Wanita cantik di depanku hanya menggeleng lagi.
"Ndak.. ibu Ndak mau ayah merasa ia tidak sempurna di mata ibu.
Ibu banyak mendapat kelebihannya, nduk..kurang sedikit darinya Ndak masalah lagi.."
"Pantes ibu ga pernah berantem sama ayah.."
"Ndak begitu..ya pernah berantem..tapi hanya ribut kecil lalu baikan. Ibu Ndak mau menyimpan amarah lama lama..ibu hembuskan saja ke udara. Ibu lepaskan bersama doa.. Lalu hati ibu plong kembali."
"Hahahaha....kaya kentut Bu.."
"Hush...anak wedok kok ngomong kentut.."
Tanpa sadar tanganku mengambil lemper keempat..

Komentar

  1. Tidak banyak cerpen berbentuk dialog yang bisa dikemas menarik seperti ini, dan mungkin karena tidak banyak penulis yang bisa membawakan keseimbangan antara perpaduan unsur diskusi 'mendalam' dengan kesegaran humor seperti di sini :)

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. super sekali mbak nana, lempernya habis 4 :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....

Siapa Sih Ini

  by Ash Beige Baby Lo pernah ngga sih, ngerasa lo jadi orang yang beda di setiap tempat? Kayak… di satu circle lo jadi versi yang ini, di tempat lain lo jadi versi yang lain lagi, dan anehnya… semuanya terasa “lo” tapi, bukan juga Gue ngalamin itu setahun terakhir. Dan jujur, capek banget. Karena setiap hari gue harus “jadi sesuatu”, Sampai di satu titik gue mulai nanya ke diri gue sendiri: Gue ini sebenarnya apa? ..atau siapa, sih? Am I even… real? Rasanya kaya gue terlalu bisa menyesuaikan diri  sampai akhirnya kehilangan bentuk asli  Terus di tengah kekacauan itu, gue ketemu satu “tempat”. Atau mungkin… satu orang  Yang bikin gue ngerasa, “oh… ini gue.” Ngga perlu adjust  dan mikir harus jadi siapa. Ngga perlu takut di judge juga Dan jujur  rasanya kayak nemu pulau yang nyaman ditengah badai lautan Padahal tujuan gue dermaga dan daratan pulau Jawa Sementara itu pulau berkeliaran serial killer  Tahu bagian paling bahayanya? Waktu lo lagi lost banget...