Langsung ke konten utama

Me Rame - Lupa

Di tengah keramaian dalam sebuah pusat perbelanjaan menjelang tengah malam, banyak pengunjung yang menggunakan jasa transportasi daring (online) untuk kembali ke rumah atau menuju tempat lain. Ada seorang calon penumpang lelaki, kebetulan dia memesan ojek daring untuk kembali ke tempat tinggalnya, sehingga terjadi percapakan berikut. 

Penumpang
:
“Saya sekarang berada di dekat pintu masuk di pusat perbelanjaan ya mas. Posisi ada dimana ?”
Ojek daring
:
…
Penumpang
:
“Mas, kalau saya lihat dari posisi motornya di aplikasi,   terlihat cukup dekat dengan posisi saya. Saya nanti ke arah trotoar deh mas, kalau mas agak susah.” Begitu si calon penumpang memberi pesan di aplikasi ojek daring itu.

Setelah lama berselang, ternyata ada jawaban pesan dari pengemudi ojek daring

Ojek daring
:
“Iya, saya posisinya dekat pos sekuriti mba. Mba pakai   baju apa? Saya sudah di depan pusat perbelanjaan yang mba maksud.”
Penumpang
:
(Sambil bergumam dalam hati, mba? Gak salah neh? Perasaan di profil ojek daring sudah jelas wajah gue) “Mas sekarang posisinya masih dekat pos sekuriti? (tanpa menghiraukan si pengemudi menyebut dirinya “mba”). Saya pakai baju warna abu-abu ya mas, sekarang saya lagi jalan ke arah pos sekuriti.” (Apa pula yang dibayangkan di pengemudi dengan warna baju si penumpang)
Ojek daring
:
“Mba sekarang dimana? Sekarang saya juga sudah jalan ke arah dalam menuju pusat perbelanjaan yang mba maksud, tapi kok mba belum kelihatan?”

Masih berpesan-pesanan melalui aplikasi dengan si pengemudi, akhirnya si pengemudi mulai menelpon ke penumpang. Saat bersamaan, si penumpang sudah melihat wajah si pengemudi yang berjalandi profil aplikasi saat berpapasan melintas di trotoar. Ketika saat menerima telpon dari si pengemudi…

Penumpang
:
“Mas Rojak kan ? dari ojek daring?”

Wajah si pengemudi yang terkejut, seakan-akan habis melihat hantu kuntilanak dan berubah 180 derajat bahwa calon penumpangnya ternyata seorang pria. Si pengemudi tak bisa berkata-kata dan bahkan sempat mengucapkan kata “maaf” meski salah sebut saat berpesanan melalui aplikasi. Selain kaget dan tidak menyangka bahwa si penumpangnya adalah lelaki, tingginya si penumpang itu hampir dua kali lipat dari si pengemudi. Dan kemudian si penumpang bertanya sambil mengikuti si pengemudi untuk ambil motornya.

Penumpang
:
“Masih jauh mas parkir motornya?”
Ojek daring
:
(Diam dan tetap berjalan)
Penumpang
:
“Mas, masih jauh? Atau mas lupa ya? Atau gara-gara lihat saya bukan perempuan, masa gagal fokus dan kecewa ya?”
Ojek daring
:
“Iya mas, saya terkejut dan sekarang lupa saya parkir dimana…he…he… (sambil garuk kepala). Saya gak nyangka kalau mba yang saya maksud itu adalah mas (sambil dingat-ingat dimana parkir motornya). Sebentar ya mas, akibat tadi, saya jadi gagal fokus. Nah ini sudah ketemu motornya. Maaf ya agak lama (sekitar 5 menit mencari motornya).”
Penumpang
:
“Gakpapa mas, ada helm kan? Ayo kita jalan mas.”


Cerita ini dapat juga dibaca pada link berikut 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

Serigala Berbulu Damba

Aku tidak rindu, mungkin . Dasar ingatan licik, malah menyamar menjadi damba. Sensasi gila reseptor Pacini meromantisasi kelenyapan. Endorfin, dopamin, atau cuma kebiasaan? Hatiku paham, otakku belum. Afeksinya masih mengorbit. Kamu minta kembali. Aku tidak. Lucu juga.. Tubuhku dengan sadar mengkhianati keputusan. Mengabadikan yang telah usai. Tapi bukan kamu, mungkin . Karena ini pilihan.

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....