Langsung ke konten utama

Beasiswa



Benarkah mencari beasiswa itu sulit?
Sebelum mendapat beasiswa, saya akan menjawab: Sulit.
Setelah mendapat beasiswa, saya akan menjawab: Tergantung.

Mendapatkan beasiswa, sama seperti mencari hal lainnya di dalam hidup ini adalah kombinasi dari beberapa faktor, seperti: preferensi pribadi, kenyataan di lapangan, dan faktor X.  Ibarat ingin mencapai suatu tujuan dari lokasi tertentu pada waktu tertentu, maka pertimbangannya pun relatif dengan keadaan kita pada masa itu.  Sebagai contoh, apabila kita merencanakan perjalanan ke kantor di suatu pagi, pertimbangannya bisa bermacam-macam. Apakah hari itu hujan, apakah saat itu kondisi tubuh sedang kurang fit, apakah pagi itu jalan tol macet, apakah di waktu tersebut ada gangguan sinyal kereta api, apakah hari itu tanggal tua atau tanggal muda, apakah hari itu ada ST, apakah jatah flexy time sudah habis atau masih banyak, dan seterusnya dan seterusnya.

Begitu pula halnya dengan mencari beasiswa, tidak bisa disamakan jalan seseorang dengan orang lainnya karena situasi mereka pun belum tentu sama. Apabila beberapa sponsor mempunyai persyaratan yang berbeda, begitu pula halnya dengan kemampuan kita sendiri di dalam memenuhi persyaratan-persyaratan itu. Situasi menjadi sulit ketika kita tidak mampu mencocokkan antara keinginan dengan kenyataan hidup.

Baiklah sekarang saya membandingkan antara beasiswa yang mempersyaratkan psikotes (SPIRIT) dengan yang tidak mempersyaratkan psikotes (ADS). Kebetulan pernah merasakan kedua prosesnya. Seorang teman pernah bercerita bahwa ia tidak ingin mendaftarkan diri ke SPIRIT dan lebih suka mendaftarkan diri ke ADS. Setelah saya tanyakan mengapa, ia lalu berkata bahwa dirinya tidak pernah lulus psikotes. Tapi bukankah interview di ADS juga sulit? Temanku menjawab bahwa karena interview di ADS banyak yang berkisar dengan pekerjaan dan ia cukup paham dengan apa yang dikerjakannya selama ini maka ia lebih percaya diri dengan interview ADS daripada psikotes SPIRIT.

OK, paragraf tersebut di atas melihat beasiswa dari sudut pandang sponsor atau lembaga penyedia beasiswa. Sekarang, marilah kita melihat beasiswa dari sudut  pandang pribadi masing-masing. Mengapa kita perlu mengambil beasiswa? Apa pentingnya beasiswa? Apakah semua orang perlu mencari beasiswa? Nah ini semua adalah pertanyaan-pertanyaan yang meskipun subjektif namun tidak kalah pentingnya untuk dipahami supaya tidak kecewa di kemudian hari.

Sebab bukan sekali atau dua kali saja saya mendengar problem yang dihadapi mahasiswa Indonesia yang mengadu nasib di luar negeri. Ada yang hilang di Amerika, ada yang menderita sakit mental di Jepang, ada yang bunuh diri di Jerman, yang tidak lulus kuliah juga tidak sedikit, apalagi kalau sponsornya pemerintah dalam negeri … bukan hanya sedih karena tidak membawa pulang ijazah namun juga sedih karena harus mencicil hutang beasiswa melalui potongan gaji.

Dengan serangkaian potensi permasalahan ini, sayangnya ketakutan yang paling sering saya dengar adalah soal uang. Dan ini membuat saya merasa gatal. Tanpa menafikan pentingnya uang, saya ingin mengajak pembaca untuk melihat potensi dan masalah yang lebih luas dari sekadar uang. Sebagai contoh, sudah menjadi rahasia umum bahwa tunjangan hidup dari LPDP termasuk tinggi bahkan apabila dibandingkan dengan yang diberikan oleh sponsor internasional. Tapi seperti kata orang, “high return equals to high risk” maka ini berlaku juga buat mahasiswa LPDP. Teman saya bercerita bahwa LPDP mensyaratkan tidak ada mata kuliah yang gagal. Padahal kebijakan beberapa negara tempat kuliah penerima LPDP juga tidak seragam mengenai gagal atau tidaknya seorang mahasiswa di dalam mata kuliah tertentu. Sebagai contoh, ada negara yang memperbolehkan untuk mengulang mata kuliah, ada juga yang tidak. Selain itu, ada juga negara yang mengatur bahwa apabila seseorang gagal di mata kuliah tertentu maka ia tidak diizinkan untuk mengambil mata kuliah tersebut di seluruh universitas di negara itu untuk selamanya. Masalahnya, tidak semua orang bisa mengetahui hal-hal ini sebelum ia pergi ke negara yang dituju.

(bersambung)

Komentar

  1. saya setuju bahwa mendapatkan beasiswa itu tidak sulit, asal ada kemauan dan tekad, insyaa Allah bisa.
    satu hal yang perlu digaris bawahi dalam hal beasiswa ini, terutama beasiswa dari Pemerintah RI, adalah masih ada anggapan bahwa beasiswa itu adalah kemewahan karena yang bersangkutan mendapatkan ekstra tunjangan, tidak perlu ngantor serta gaji dan tunjangan yang utuh. Anggapan seperti ini kemudian diterjemahkan ke dalam term n condition yang "tidak masuk akal". Gagal dalam satu dua mata kuliah adalah hal yang manusiawi, dan bisa dicarikan solusi selain "mengganti seluruh biaya yang sudah dikeluarkan negara".
    saya pribadi mengalami hal ini dan hal itu membekas sekali. bagaimana pihak kampus dengan ketulusan hati dan tanpa birokrasi mampu mengerti dan membantu mencarikan solusi terbaik.
    hal ini harusnya menjadi hal mendasar bagi orang-orang yang terlibat dalam proses pemberian beasiswa (LPDP, SPIRIT dsb), sehingga terbentuk ikatan batin yang kuat dan tanpa paksaan antara penerima beasiswa dengan negara.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

Serigala Berbulu Damba

Aku tidak rindu, mungkin . Dasar ingatan licik, malah menyamar menjadi damba. Sensasi gila reseptor Pacini meromantisasi kelenyapan. Endorfin, dopamin, atau cuma kebiasaan? Hatiku paham, otakku belum. Afeksinya masih mengorbit. Kamu minta kembali. Aku tidak. Lucu juga.. Tubuhku dengan sadar mengkhianati keputusan. Mengabadikan yang telah usai. Tapi bukan kamu, mungkin . Karena ini pilihan.

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....