Langsung ke konten utama

10 November


Setiap tanggal 10 November kita memperingati Hari Pahlawan, untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di berbagai instansi pemerintah, sekolah-sekolah dan beberapa tempat lainnya dilangsungkan upacara bendera sebagai salah satu bentuk peringatan. Selain itu biasanya juga dilaksanakan ziarah ke beberapa Taman Makam Pahlawan sebagai bentuk menapaktilasi perjuangan para pahlawan.

Sebagai generasi penikmat kemerdekaan, selayaknyalah bahwa kita bisa mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang bermanfaat bagi negara kita. Sekecil apapun peran yang dapat kita mainkan, selama itu menjadi kontribusi yang baik bagi bangsa dan negara maka itu harus kita lakukan, karena sesuatu yang besar itu adalah kumpulan dari sesuatu yang kecil.

Mengenang para pahlawan, pernahkah terfikir oleh kita bahwa salah satu senjata yang digunakan oleh para pahlawan adalah bambu runcing, sungguh suatu senjata yang amat sederhana bila dibandingkan dengan senjata modern yang dimiliki oleh para penjajah pada masa itu. Namun para penjajah amat sangat takutnya terhadap bambu runcing tersebut. Mengapa? Karena para pemegang bambu runcing tersebut adalah para pentauhid, para pejuang yang berjuang di jalan Allah, para pejuang yang tidak takut mati karena membela hak dan kebenaran yang harus ditegakkan di Bumi Pertiwi yang telah dirampas oleh para penjajah.

Semoga kita, para penikmat kemerdekaan dapat meneladani semangat juang para pahlawan yang disandarkan kepada kekuatan Allah, Tuhan Yang Maha Esa.


Jakarta, 10 November 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....

Serigala Berbulu Damba

Aku tidak rindu, mungkin . Dasar ingatan licik, malah menyamar menjadi damba. Sensasi gila reseptor Pacini meromantisasi kelenyapan. Endorfin, dopamin, atau cuma kebiasaan? Hatiku paham, otakku belum. Afeksinya masih mengorbit. Kamu minta kembali. Aku tidak. Lucu juga.. Tubuhku dengan sadar mengkhianati keputusan. Mengabadikan yang telah usai. Tapi bukan kamu, mungkin . Karena ini pilihan.