Langsung ke konten utama

Yang Utama


Suatu waktu dalam sebuah perbincangan dengan seorang teman, saya termanggu dengan ucapannya :”Suami itu nomor sekian...nomor satu adalah Allah lalu RasulNya”. Kala itu saya tidak dapat mencerna apa yang dikatakan teman saya itu, maklum kami masih terbilang “pengantin baru” masih mesra-mesranya, masih sayang-sayangnya. Dunia terasa hanya milik berdua, yang lain ngontrak, kira-kira begitulah gambarannya.


Memiliki pasangan yang baik, yang memanjakan kita, yang penuh perhatian dan pengertian adalah ujian tersendiri bila kita tidak dapat menyikapinya dengan baik, apalagi bila kita tidak tahu harus bagaimana menyikapinya, ini lebih berbahaya lagi. Kadang kenikmatan itu melenakan kita sehingga kita lupa siapa Sang Pemberi Nikmat tersebut, karena kita telah dibutakan oleh kenikmatan itu sendiri.


Rasa memiliki yang tinggi, rasa ketakutan bila nikmat itu hilang, rasa cemas yang berlebih bila yang kita sayangi berpaling dari kita tentu hal ini bisa menjadikan kita galau, sedih, uring-uringan dan menimbulkan berbagai perasaan tidak nyaman lainnya. Semua itu timpul karena kita salah meletakkan siapa atau apa yang ada di dalam hati kita, pasangankah? Jabatankah? Harta bendakah? Anakkah? Kepintarankah? Kepopulerankah? Atau segudang pernak pernik dunia lainnya.


Memang tidak mudah untuk selalu menempatkan Sang Pencipta selalu menjadi yang utama jauh di atas ciptaanNya, namun ini menjadi sesuatu yang harus kita perjuangkan sampai akhir hayat, karena tandinganNya akan selalu berupaya merebut tempat utama tersebut.



Jakarta, 9 November 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....

Siapa Sih Ini

  by Ash Beige Baby Lo pernah ngga sih, ngerasa lo jadi orang yang beda di setiap tempat? Kayak… di satu circle lo jadi versi yang ini, di tempat lain lo jadi versi yang lain lagi, dan anehnya… semuanya terasa “lo” tapi, bukan juga Gue ngalamin itu setahun terakhir. Dan jujur, capek banget. Karena setiap hari gue harus “jadi sesuatu”, Sampai di satu titik gue mulai nanya ke diri gue sendiri: Gue ini sebenarnya apa? ..atau siapa, sih? Am I even… real? Rasanya kaya gue terlalu bisa menyesuaikan diri  sampai akhirnya kehilangan bentuk asli  Terus di tengah kekacauan itu, gue ketemu satu “tempat”. Atau mungkin… satu orang  Yang bikin gue ngerasa, “oh… ini gue.” Ngga perlu adjust  dan mikir harus jadi siapa. Ngga perlu takut di judge juga Dan jujur  rasanya kayak nemu pulau yang nyaman ditengah badai lautan Padahal tujuan gue dermaga dan daratan pulau Jawa Sementara itu pulau berkeliaran serial killer  Tahu bagian paling bahayanya? Waktu lo lagi lost banget...