KRL Mania (2)



“Bu, geser dong!” kulirik seorang ibu yang berdiri tepat didepanku sambil kupandangi wajah ibu-ibu yang usianya sepertinya tidak terpaut jauh dariku. Kulirik kanan dan kiriku, tak ada satupun orang yang bereaksi atas perintah ibu tersebut.
                “Saya, bu?” tanyaku sambil memandangi wajahku. Kebetulan saat itu aku mencoba peruntungan memburu tempat duduk dengan menaiki kereta melawan arah terlebih dahulu untuk kemudian menunggu jadwal keberangkatan menuju tempat tinggalku. Saat itu badanku agak meriang sehingga kuputuskan untuk ikut dulu naik kereta menuju arah sebaliknya dari Bogor.
Aku bersaing dengan banyak orang sampai aku mendapatkan tempat duduk di bangku panjang kereta jurusan Jakarta  Kota- Bogor, ketika aku hendak pulang dari kantor ke rumah. Bisa dibayangkan betapa panjangnya perjalanan yang kutempuh sore itu.
                “Cepetan geser, saya capek nih berdiri!” tiba-tiba tangan ibu tersebut bergerak menggeser pahaku padahal kondisi saat itu tidak memungkinku untuk menggeser badanku karena bangku sangat penuh. Saat itu, kereta yang kutumpangi baru saja melewati dua stasiun dari stasiun keberangkatan.
                Tanpa basa basi lagi, ibu tersebut langsung mendaratkan bokongnya di bangku panjang. Sepertinya ibu ini memaksakan diri walaupun bangku sudah tidak bisa lagi menampung orang yang duduk. Setengah pahanya menindihku.
                “Aww....” tanpa sadar aku menjerit kecil karena lumayan sakit ditindih ibu tersebut. Badannya lumayan besar.
                “Makanya geser mbak!” ibu tersebut masih ngotot.
                Aku mencoba berdiri dari tempat duduk. Niatku mau mengalah karena tak sanggup meladeni kecerewetan ibu tersebut. Ternyata, berdiripun sulit karena saat itu kondisi kereta sangat padat sehingga kakipun hanya sebelah yang bisa menapak dan kemungkinan bisa tertukar dengan kaki orang lain.
                Akhirnya aku menerima nasib untuk membiarkan ibu tersebut duduk di sampingku. Perasaanku saat itu campur aduk antara kesal dan sakit pahaku tergencet ibu tersebut.
                Sepanjang perjalanan aku mencoba tabah dan sesekali menghalau pergelangan tangan si ibu karena ternyata ibu tersebut bolak-balik mengambil ponsel dari tasnya. Tangannya lincah menulis pesan yang entah ditujukan kepada siapa. Sialnya lagi setiap selesai menuliskan pesan, dia memasukkan kembali ponsel kedalam tasnya. Berulang kali dilakukannya. Sempat kutegur dengan agak keras, tapi tetap tak berdaya aku dibuatnya.
                “Ini penting banget, Mbak,” ujarnya sambil menggeser badannya ke belakang. Kalau dalam istilah para roker (rombongan kereta), seseorang yang terus menggeserkan badannya ke belakang disebut ngebor. Aku hanya terdiam dan tak habis pikir kenapa nggak dia pegang saja ponselnya, daripada menyenggol orang lain.
                Tapi, dibalik kekesalanku aku salut dengan kegigihan ibu tersebut. Wajahnya tak sedikitpun menampakkan perasaan bersalah telah menyusahkan orang lain. Bukan cuma aku yang merasakan akibat kegigihan ibu tersebut, tapi juga kulihat seorang perempuan muda beberapa melotot ke arah ibu tersebut. Dan, tetap raut muka ibu itu tak menampakkan ekspresi apapun selain ekspresi datar.
                Penderitaanku sore itu sepertinya nggak ada habisnya. Nasib baik hanya sebentar berpihak kepadaku. ketika kakiku terinjak orang yang berdiri di depanku. Aku tetap tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa menggerutu tanpa solusi. Ingin untung malah buntung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar