Langsung ke konten utama

Terjebak Jargon

Banyak jargon berseliweran di sekitar kita. Bila tak pandai menyikapinya maka kita dapat terjebak di dalamnya. Misal jargon : ‘Pembeli Adalah Raja’.

Tulisan ini akan mengulas dari kacamata konsumen saja. Sebagai konsumen, maka reaksi tiap orang tentu saja beragam ketika ada ketidakpuasan dari barang / jasa yang diterima oleh konsumen. Ada yang biasa saja, seolah tidak mengindahkan adanya jargon tersebut. Ada pula yang menyikapinya dengan : ya sudah…. mari kita coba menanyakan ini kepada produsen atau penyedia jasa tersebut. Selain itu ada pula konsumen yang cukup reaktif menanggapi ketidakpuasan tersebut.

Untuk tipe konsumen no 3 ini, maka sebaiknya berhati-hati dan lebih mawas diri, karena bisa jadi reaksi yang ditimbulkannya malah merugikan dirinya sendiri. Bisa jadi dia menyikapinya dengan marah-marah, bisa jadi dia menyikapinya dengan gaya ‘bossy’ nya karena merasa “Pembeli adalah Raja”, merasa uangnya bisa membeli apa saja, merasa dia sedang memperjuangkan hak yang seharusnya dia terima, namun lupa bahwa cara yang dia tempuh malah menyuburkan ego pribadinya yang sebenarnya justru lebih merugikan dirinya sendiri.

Ada di posisi manakah diri kita?


Jakarta, 20 Sep 2018

Komentar

  1. Keren bu sedar. Menurut saya, selain kita waspada terjebak jargon, kita juga harus waspada dengan "terjebak nostalgia" :D

    BalasHapus
  2. Setuju Mas Gun, klo terjebak nostalgia nanti kita ga bisa move on. hidup dalam ilusi masa lalu.

    BalasHapus
  3. Pembeli memang raja mbak, dan itu saya alami pada saat saya berada di negeri orang. Sebagai raja, kita bisa komplain kepada penjual semua ketidakpuasan kita dan akan direspon dengan sangat baik, santun dan bahkan nyaris tanpa tanya. Tidak ada ego pribadi disini karena semuanya sudah mengerti tentang hak dan kewajiban, baik sebagai penjual maupun pembeli

    BalasHapus
  4. Iya Pak Indra, kalau komplainnya bisa disampaikan dengan santun maka tidak ada ego pribadi. Yang saya maksud di sini bila komplainnya disampaikan dengan tidak santun.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....

Siapa Sih Ini

  by Ash Beige Baby Lo pernah ngga sih, ngerasa lo jadi orang yang beda di setiap tempat? Kayak… di satu circle lo jadi versi yang ini, di tempat lain lo jadi versi yang lain lagi, dan anehnya… semuanya terasa “lo” tapi, bukan juga Gue ngalamin itu setahun terakhir. Dan jujur, capek banget. Karena setiap hari gue harus “jadi sesuatu”, Sampai di satu titik gue mulai nanya ke diri gue sendiri: Gue ini sebenarnya apa? ..atau siapa, sih? Am I even… real? Rasanya kaya gue terlalu bisa menyesuaikan diri  sampai akhirnya kehilangan bentuk asli  Terus di tengah kekacauan itu, gue ketemu satu “tempat”. Atau mungkin… satu orang  Yang bikin gue ngerasa, “oh… ini gue.” Ngga perlu adjust  dan mikir harus jadi siapa. Ngga perlu takut di judge juga Dan jujur  rasanya kayak nemu pulau yang nyaman ditengah badai lautan Padahal tujuan gue dermaga dan daratan pulau Jawa Sementara itu pulau berkeliaran serial killer  Tahu bagian paling bahayanya? Waktu lo lagi lost banget...