Langsung ke konten utama

Terima Kasih

Terima kasih adalah kata yang tidak asing bagi kita. Kata yang sederhana, sepele, bahkan saking sepelenya terkadang dalam satu hari kata tersebut dapat dihitung dengan jari terucap dari mulut kita. Coba saja hitung sendiri kalau tidak percaya 😊, dapat angka 10 saja sudah bagus banget.

Sesederhana dan se-sepele itu kah kata terima kasih? Kata yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti mengucap syukur/membalas budi setelah menerima kebaikan. Kata yang masuk dalam prioritas kosa kata yang kita ajarkan ke anak-anak kita.

Jujur gue baru kepikiran dengan kata terima kasih karena belakangan ini gue lebih sering menggunakan alat transportasi umum untuk berangkat ataupun pulang kantor. Lalu lintas yang makin padat, harga BBM dan tarif tol naik terus, cuaca sedang tidak bersahabat untuk gue yang tidak suka gowes hujan-hujanan adalah beberapa alasan gue akhirnya memilih naik bis setiap harinya. Alasan lainnya, dan mungkin ini jadi yang utama, adalah gue sekarang bisa mengantarkan 2 orang putri cantik gue ke sekolah masing-masing. It's heaven. Lalu apa hubungannya transportasi umum dengan terima kasih?.

Jadi pada saat gue kuliah di negeri kangguru, offcourse tentu saja gue kemana-mana naik public transport a.k.a nge-bis dan/atau nge-tram. Mobil hanya dipakai untuk saat-saat yang secara hitung-hitungan akuntan tidak ekonomis untuk pake angkutan umum. Saat-saat naik angkutan umum itulah gue memperhatikan kebiasaan penduduk lokal ataupun orang-orang yang sudah lama tinggal disana. Dari mulai menunggu, naik, di dalam kendaraan dan pada saat turun. Menunggu kendaraan umum disana pastinya di halte/stasiun atau di titik-titik yang diperlakukan sama seperti halte/stasiun, antrian jelas sudah menjadi budaya yang melekat dalam kondisi apapun. Pada saat naik, yang pertama kali dilakukan adalah mengucapkan salam dan berbasa-basi ke Pak/Bu Supir "good morning-afternoon-evening, how are you?"  lalu nge-tap atau memasukkan koin ke tempatnya. Di dalam kendaraan, orang-orang akan memilih tempat duduk sesuai kondisi dirinya. Tidak ada yang akan menempati tempat duduk/ruang untuk orang-orang penyandang disabilitas, orang-orang tua, wanita hamil atau orang yang bepergian dengan anak-anak balita. Kalaupun semua tempat yang disediakan untuk orang-orang tersebut sudah terisi semuanya, mereka juga dengan sukarela memberikan tempatnya jika masih ada lagi penumpang yang membutuhkan. Nah, pada saat turun, mereka akan "berteriak" ke Pak/Bu Supir "thank youuuuu" dengan berbagai ekspresinya. Maksud gue, terkadang mereka mengucapkan itu seperti mesin penjawab telpon yang sudah terprogram, datar, tapi ya tetep bilang "thank you".

Sebagai newbie di negeri orang, pastilah kebiasaan-kebiasaan tersebut gue ikutin. Dimano bumi dipijak disitu langit dijunjuang, bukan?. Gak cuma ucapannya yang gue ikutin, bahkan ekspresi ala-ala mesin penjawab telpon tadi juga kadang gue ikutin hehehe. Ya, saat sedang capek banget, pusing banget ataupun cekak banget.

Sekarang, kebiasaan mengucap terima kasih pada saat turun kendaraan umum itu gue praktekkan di Jakarta. Kalau kebiasaan ngucap salam atau basa-basi nanya kabar tentunya tidak. Bayangkanlah gue naik bis terus sok akrab bilang "pagi Bang, apa kabarnya nih?", bisa-bisa abangnya langsung nanya "margamu apa lae? sok akrab kali kau ku lihat, tak ada duitmu kah?". hihihi, yang bermarga jangan tersinggung ya...peace. 

Dan ternyata saudara-saudara, umumnya pak supir dan kondekturnya reaksinya terkejut menerima ucapan terima kasih dari gue. Mungkin mereka mikir jangan-jangan gue tadi gak bayar atau bayarnya kurang hahaha. Nggaklah, mereka bereaksi seperti itu karena memang sangat jarang sekali penumpang yang begitu turun di tempat tujuannya mengucapkan terima kasih kepada mereka. Dari pengalaman gue, apabila ucapan terima kasih gue keraskan, biasanya ada 1-2 orang yang mengikuti mengucapkan terima kasih juga. Selebihnya, yah cuek bebek sambil sibuk janjian dengan abang-abang ojek kesayangan melalui gawainya masing-masing.

Gue pribadi bisa membayangkan betapa capeknya mereka. Coba perhatikan raut wajah lelah mereka, terutama untuk perjalanan di malam hari. Mereka harus konsentrasi penuh membawa kendaraan dengan se-aman, senyaman dan secepat mungkin demi para penumpang yang sudah tak sabar bertemu orang-orang dikasihi, orang-orang yang penat seharian untuk merebahkan diri mereka ke kasur empuk di kamar yang sejuk, orang-orang yang bahkan terkadang harus mereka bangunkan karena tertidur dengan nyenyaknya sampai tidak sadar jika sudah sampai di terminal tujuan. Gue juga gak peduli dan maklum kalau mereka bahkan tidak menjawab ucapan terima kasih gue, karena tanpa itu pun gue tau ucapan itu sedikit banyak memberikan energi positif untuk mereka. Paling tidak mereka tau, masih ada orang yang menghargai profesi mereka. Syukur-syukur jika energi positif  itu terbawa sampai mereka sendiri bertemu dengan keluarga mereka. Energi yang mungkin akan menggantikan penat mereka dengan harga diri.

Terima kasih yang gue ucapkan saat turun kendaraan umum tentunya sangat sedikit jika sehari gue hanya 3-4 kali turun kendaraan umum. Untuk memperbanyak omzet, ucapan itu akhirnya gue berikan juga ke Pak Satpam yang membantu gue nyeberang di depan kantor, bahkan kalau sempat baca, ucapan itu gue tambahin dengan nama mereka. Lumayan kan kalau sehari gue 4 kali menyeberang jalan. Akhirnya, sekarang gue mengeksplorasi sebanyak mungkin ha-hal yang membuat gue berterima kasih, sekecil apapun itu, dari mulai membuka mata sampai mengistirahatkan mata. Semoga, mudah-mudahan, hal ini menjadi hitungan amal baik gue di hari akhir nanti, Aamiin YRA.


Gadog, 28112018 



Komentar

  1. Saya suka pembahasan hal-hal seperti ini. Terima kasih telah berbagi Pak Indra.

    BalasHapus
  2. Terima kasih pak Indra sudah mengingatkan kembali. Alhamdulillah kalau naik transjakarta ke Bekasi atau angkot, insya Allah pemberian ucapan terima kasih sdh saya lakukan, tapi bagaimana kalau nai Commuter Line ya ? Masinisnya juga sudah turun duluan dan lapor ke Kepala Stasiun. Hehe becanda pak, eniwei thanks

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

Serigala Berbulu Damba

Aku tidak rindu, mungkin . Dasar ingatan licik, malah menyamar menjadi damba. Sensasi gila reseptor Pacini meromantisasi kelenyapan. Endorfin, dopamin, atau cuma kebiasaan? Hatiku paham, otakku belum. Afeksinya masih mengorbit. Kamu minta kembali. Aku tidak. Lucu juga.. Tubuhku dengan sadar mengkhianati keputusan. Mengabadikan yang telah usai. Tapi bukan kamu, mungkin . Karena ini pilihan.

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....